Audio ini dibuat dengan teknologi AI.
Politik kerap terlihat sebagai panggung terbuka, padahal ada strategi ala klandestin. Peran dua legenda intel terkait dinamika politik dinilai menarik untuk diperhatikan.
Politik kerap dipandang hanya dari sisi pragmatis: perebutan kursi, distribusi kekuasaan, atau manuver elite untuk mempertahankan pengaruh.
Namun, di balik panggung utama yang tampak di layar publik, ada lapisan lain yang jarang disadari: keterhubungan erat antara politik dan dunia intelijen. Banyak pengamat meyakini relasi ini ibarat jaring halus yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat menentukan arah permainan politik.
Di Indonesia, dua nama tokoh intelijen kerap disebut dalam kaitannya dengan partai politik besar: Suripto, eks intel BAKIN yang pernah berperan di masa awal Partai Keadilan Sejahtera (PKS), serta Budi Gunawan (BG), mantan ajudan Megawati Soekarnoputri yang kemudian menjabat Kepala BIN dan sering dikaitkan dengan PDI Perjuangan (PDI-P).
Keduanya diyakini sejumlah pengamat sebagai figur intel yang meninggalkan jejak dalam dinamika politik, meski dengan cara yang berbeda.
Lantas, bagaimana ceritanya?

Suhu-suhu Intel?
Suripto, seorang perwira intelijen yang lama berkarier di BAKIN, disebut sejumlah peneliti politik sebagai figur unik ketika bergabung dengan Partai Keadilan (PK) di awal reformasi. PK yang kemudian bertransformasi menjadi PKS dikenal sebagai partai berbasis gerakan tarbiyah kampus dengan orientasi dakwah Islam. Kehadiran Suripto, yang berasal dari latar belakang intelijen negara, diyakini memberi warna baru dalam tubuh partai ini.
Menurut berbagai kajian, peran Suripto dapat dilihat dari beberapa sisi. Pertama, dari aspek legitimasi politik. Di masa awal, PKS kerap menghadapi sorotan kontroversial. Suripto, dengan pengalamannya di intelijen, disebut berfungsi sebagai jembatan yang membuat partai ini lebih dapat diterima dalam konteks nasional.
Kedua, dari aspek strategi organisasi. Ia dinilai membawa kultur intelijen ke partai: disiplin ketat, kerahasiaan, dan kemampuan membaca situasi politik. Banyak pengamat menyebut bahwa pola kerja PKS yang terstruktur, rapi, dan ideologis tidak lepas dari pengaruh ini.
Ketiga, dari sisi jejaring. Suripto dikenal memiliki hubungan luas dengan kalangan militer, birokrasi, dan intelijen, dirinya sendirinpunya pengalaman sebagai intel di tiga zaman politik (Orla, Orba, Reformasi). Jaringan ini disebut memberi PKS peluang untuk membuka akses politik, sesuatu yang krusial bagi partai baru.
Dengan demikian, meski kini namanya tidak lagi banyak muncul di panggung politik, Suripto diyakini meninggalkan jejak intelijen yang berpengaruh pada DNA PKS di masa pertumbuhannya.
Berbeda dengan Suripto, Budi Gunawan memiliki cerita yang lebih aktual dan sering muncul dalam diskursus politik kontemporer. Ia dikenal luas sebagai ajudan Megawati Soekarnoputri pada periode 1999–2004. Kedekatan ini oleh sejumlah pengamat disebut sebagai fondasi hubungan erat antara BG dan PDI-P.
Meskipun bukan kader partai, BG tetap ditempatkan sebagai figur penting di orbit politik Megawati, dan pada masanya, juga terkait Jokowi. Penugasan strategis datang pada 2016 ketika ia dipercaya menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Banyak pihak menilai, penunjukan ini menunjukkan pentingnya sosok yang loyal dan memiliki pengalaman intelijen dalam menjaga stabilitas politik.
Selama menjabat, BG disebut memainkan peran signifikan dalam menjaga komunikasi antara tokoh dan partai politik. Hubungannya dengan Megawati kini juga diyakini tetap erat, bahkan sejumlah pihak menyebut BG termasuk salah satu figur yang berperan mendorong terjadinya pertemuan bersejarah antara Megawati dan Presiden Prabowo Subianto (beberapa waktu silam)—momen yang menandai babak baru dalam lanskap politik Indonesia.
Kisah BG memperlihatkan bagaimana figur intelijen, meski tidak berposisi sebagai politisi partai, dapat memiliki pengaruh yang besar di belakang layar.

Legenda Intelijen dan Politik
Dalam konteks strategi, partai politik kerap disebut membutuhkan figur dengan latar belakang intelijen manuver-manuver politik.
Dalam teori organisasi, keberhasilan sebuah entitas (partai politik khususnya) sangat dipengaruhi oleh kemampuannya mengelola informasi. Partai politik, yang berfungsi mendapatkan dan mempertahankan pengaruh, membutuhkan informasi untuk memahami lawan, membaca opini publik, dan menjaga stabilitas internal.
Pengalaman intelijen seperti yang dimiliki Suripto maupun BG dinilai memberi nilai tambah. Seorang intel terbiasa bekerja dengan kerahasiaan, membaca pola, serta mengantisipasi langkah lawan—semua ini sangat relevan dengan kebutuhan partai politik.
Dalam literatur teori elit (seperti yang dikemukakan Vilfredo Pareto atau Gaetano Mosca), elite politik selalu membutuhkan figur yang memahami mekanisme kekuasaan di balik layar. Intelijen, dengan kapasitasnya, kerap dipandang mampu menjalankan fungsi tersebut: melindungi, mengarahkan, sekaligus menjaga kesinambungan kekuasaan.
Kisah sosok-sosok intelijen Suripto dan Budi Gunawan menjadi cerita menarik yang mungkin esensial dalam politik Indonesia. Sejumlah pengamat meyakini bahwa politik bukan hanya soal pertunjukan publik yang ditonton masyarakat, tetapi juga mencakup ruang belakang layar yang penuh strategi dan kalkulasi.
Suripto diyakini meninggalkan jejak intelijen pada fase awal PKS hingga saat ini, sementara Budi Gunawan disebut berperan dalam menjaga kesinambungan dan komunikasi politik di orbit PDI-P. Kedua figur ini kerap disebut menjadi contoh bagaimana pengalaman intelijen dapat terintegrasi dalam dunia politik, baik secara langsung maupun tidak langsung. (D74)