7 Contoh Teks Ceramah Tarawih Ramadan yang Relevan dengan Kehidupan Saat Ini!

7-contoh-teks-ceramah-tarawih-ramadan-yang-relevan-dengan-kehidupan-saat-ini!
7 Contoh Teks Ceramah Tarawih Ramadan yang Relevan dengan Kehidupan Saat Ini!
Share

Share This Post

or copy the link

Teks ini cocok untuk kaum Milenial dan Gen Z yang sudah mendapat tugas mengisi ceramah tarawih

7 Contoh Teks Ceramah Tarawih Ramadan yang Relevan dengan Kehidupan Saat Ini!

Siapa nih yang sudah mendapat giliran untuk mengisi ceramah atau khotbah setelah salat tarawih? Jika kamu orangnya, penting untuk menyiapkan materi sekaligus teks ceramah tarawih yang menarik, mudah dipahami oleh seluruh jemaah, dan tentunya anak-anak yang harus mengisi buku kegiatan selama bulan puasa mereka.

Sudah siap menjadi pengisi ceramah setelah salat tarawih? Beberapa contoh teks berisi pesan-pesan atau pun kisah-kisah nabi yang relevan dengan kehidupan saat ini!

1. Ceramah tentang Pentingnya Memiliki Iman sebagai Umat Islam

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih memberikan kita nikmat Islam, iman, dan nikmat kesehatan sehingga pada malam hari ini kita dapat menunaikan salat Tarawih berjamaah di masjid ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan besar kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang syafaatnya kita nantikan di akhir zaman. Aamiin.

Jamaah Tarawih yang dirahmati Allah, pada kesempatan kali ini, marilah kita bersama-sama merenungkan satu hal yang sangat mendasar dalam kehidupan kita sebagai seorang Muslim, yaitu pentingnya memiliki iman. Bapak, Ibu, Adik-Adik tahu nggak apa itu iman dan kenapa penting sekali kita memilikinya?

Iman adalah fondasi utama yang berfungsi menentukan arah hidup seorang Muslim. Tanpa iman, seseorang mudah kehilangan pegangan, mudah goyah saat diuji, dan mudah terseret oleh hawa nafsu.

Mengapa iman begitu penting? Karena iman menjadi sumber ketenangan hati. Orang yang beriman meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya adalah atas kehendak Allah. Ketika mendapat nikmat, ia tak lupa selalu bersyukur, sehingga nikmatnya ditambah oleh Allah. Sebaliknya, ketika diuji, ia pun memilih bersabar dan ikhlas. Hatinya yang semula gelisah menjadi lebih tenang, karena dirinya percaya bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Segala-Nya yang lebih tahu mana yang terbaik bagi hamba-Nya. 

Nggak hanya itu Bapak/Ibu/Adik-Adik sekalian, seseorang yang memiliki iman akan memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang mereka lakukan, sehingga jauh lebih berhati-hati. Mereka sadar kalau suatu hari nanti, tindakannya akan dimintai pertanggungjawaban.

Misalnya, Adik-Adik ingin beli HP baru karena ingin kayak temen-temennya yang sudah upgrade HP keluaran teranyar. Sayangnya, nggak punya uang. Terlintaslah pikiran untuk mengambil uang milik Bapak/Ibu yang disimpan di lemari mereka. Namun, ketika hendak melakukannya, Adik-Adik langsung tersadar bahwa mencuri itu berdosa dan ganjarannya pasti sangat berat. Itulah ketika kita masih memiliki iman!

Berbeda halnya dengan orang yang lemah imannya atau tidak memiliki iman yang kuat. Ketika dihadapkan dengan persoalan seperti itu, mereka justru menyalahkan keadaan dan bodo amat dengan konsekuensinya. Saat mendapat kenikmatan pun, tak pernah bersyukur, dan merasa semua itu murni hasil usahanya sendiri. Dalam berbuat, mereka lebih mengutamakan kepentingan dunia semata tanpa memikirkan halal dan haram.

Jamaah sekalian, iman inilah yang perlu kita jaga dan perkuat, terutama di bulan Ramadan yang penuh berkah ini. Dengan iman, ibadah kita menjadi lebih bermakna, akhlak kita menjadi lebih terjaga, dan hidup kita menjadi lebih terarah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa meneguhkan iman kita, menambah keyakinan kita kepada-Nya, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang istiqamah dalam ketaatan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

2. Ceramah tentang Wajibnya Menjaga Kebersihan sebagai Hamba Allah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Tak lupa shalawat serta salam kepada Nabi kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang syafaatnya kita tinggu di akhir zaman nanti. Aamiin

Jamaah Tarawih yang dimuliakan Allah, pernah kepikiran nggak, kalau sedikit banyaknya bencana yang menimpa kita juga disebabkan oleh ulah kita sendiri? Ada yang di sini suka membuang sampah sembarangan? Hayo ngaku hehe!

Bapak/Ibu/Adik-Adik, Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kebersihan. Bahkan, kebersihan menjadi pintu utama diterimanya ibadah. Tanpa kebersihan, ibadah tidak sah. Tanpa kebersihan, kedekatan kita kepada Allah menjadi terhalang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, tepatnya Al-Baqarah: 222 yang berbunyi

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”

Ayat ini menunjukkan kalau kebersihan bukan sekadar kebiasaan baik, tetapi perbuatan yang dicintai langsung oleh Allah. Membersihkan diri, lingkungan, dan hati adalah bagian dari ketaatan kepada-Nya.

Orang yang benar imannya akan merasa tidak nyaman melihat kotoran, bau, dan kekacauan, karena ia sadar bahwa Allah Maha Bersih dan mencintai kebersihan. Ia menjaga wudhunya, pakaiannya, lisannya, bahkan hatinya dari penyakit seperti iri, dengki, dan sombong.

Sebaliknya, orang yang meremehkan kebersihan sering kali lalai dalam ibadah. Salatnya dilakukan tanpa memperhatikan kesucian, lingkungannya dibiarkan kotor, dan perilakunya tidak mencerminkan akhlak seorang Muslim. Padahal, Rasulullah mengajarkan bahwa menyingkirkan gangguan dari jalan saja sudah bernilai sedekah.

Sebagai contoh, seorang Muslim yang beriman akan memastikan tempat salatnya bersih, membuang sampah pada tempatnya, dan menjaga kebersihan masjid seolah itu rumahnya sendiri. Ia sadar bahwa kebersihan adalah bentuk penghormatan kepada Allah. Sementara orang yang lalai, bisa saja beribadah namun mengotori lingkungan, merugikan orang lain, dan tidak merasa bersalah.

Jamaah sekalian, Ramadan adalah bulan penyucian. Bukan hanya menyucikan perut dari makan dan minum, tetapi juga menyucikan tubuh, lingkungan, dan hati kita. Menjaga kebersihan adalah bukti bahwa kita benar-benar memahami makna ibadah dan kehambaan kepada Allah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mencintai kebersihan, lahir maupun batin, serta menjadikan kebersihan sebagai bagian dari iman dan amal saleh kita.

Demikianlah yang bisa saya bagikan dalam khotbah salat tarawih malam ini. Semoga Allah membimbing kita untuk senantiasa menjaga kebersihan lingkungan maupun hati. Akhirul kalam, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

3. Ceramah tentang Pentingnya Peran Orang Tua terhadap Pertumbuhan Anak

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menganugerahkan nikmat iman dan Islam kepada kita, juga Shalawat dan salam kita kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Anak bukan hanya sekadar anugerah, tetapi juga amanah. Setiap anak yang lahir membawa potensi kebaikan yang besar, dan orang tualah yang menjadi penentu ke arah mana potensi itu tumbuh dan berkembang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

“Tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih utama daripada pendidikan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini mengingatkan kita bahwa warisan terbaik bagi anak bukanlah harta, melainkan akhlak mulia yang nantinya akan diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya. Anak yang dibekali akhlak baik akan mampu menjaga dirinya, memilih pergaulan yang sehat, dan menghadapi tantangan hidup dengan bijak.

Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai orang tua mulai menyadari dari sekarang bahwa peran orang tua tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan makan, pakaian, dan pendidikan formal saja. Kita pun bertanggung jawab menanamkan nilai iman, akhlak, dan adab yang baik. Anak belajar bukan dari nasihat semata, tetapi dari contoh nyata yang ia lihat setiap hari dari orang terdekatnya, terutama dari kita sebagai orang tua.

Contoh saja ya Bapak/Ibu, ketika orang tua menjaga salat tepat waktu, anak akan menganggap salat sebagai kebutuhan, bukan paksaan. Ketika orang tua berbicara dengan lembut, jujur, dan penuh adab, anak akan tumbuh dengan karakter yang santun. Namun sebaliknya, jika anak sering melihat pertengkaran, kebohongan, atau kekerasan di rumah, maka hal itu akan membekas dan memengaruhi sikapnya di masa depan.

Lagi, Anak yang tumbuh dengan kasih sayang, perhatian, dan bimbingan agama cenderung memiliki kepercayaan diri yang sehat, empati terhadap sesama, dan tanggung jawab dalam hidupnya. Sebaliknya, kurangnya perhatian dan keteladanan kita terhadap mereka bisa menyebabkan anak mencari figur lain di luar rumah, yang belum tentu membawa kebaikan. Benar atau tidak, Bapak/Ibu sekalian?

Hadirin yang diberkahi Allah,

Mari kita sadari bahwa setiap sikap, ucapan, dan keputusan kita sebagai orang tua akan meninggalkan jejak dalam diri anak-anak kita. Jadilah teladan sebelum menjadi penuntut, jadilah pendidik sebelum menjadi pengkritik, dan jadilah pelindung sebelum menuntut kesempurnaan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita orang tua yang bijaksana, mampu membimbing anak-anak kita dalam iman dan akhlak, serta menjadikan mereka generasi saleh dan salehah yang menyejukkan pandangan dan menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin.

Sekian khotbah malam ini. Wabillahi taufiq wal hidayah, waridho wal inayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

4. Ceramah tentang Menjaga Keutuhan Rumah Tangga

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuhu..

Alhamdulillahirobbil ‘alamin, washolatu wassalamu ‘ala asrofil anbiya-i wal mursalin, sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sohbihi ajma’in.

Hadirin para jemaah sekalian yang menghadiri salat tarawih malam ini di Masjid Al-Ikhlas. Saya yakin, di sini sudah banyak yang membina rumah tangga cukup lama atau mungkin sebagian juga baru menikmati masa-masa pacaran setelah menikah. Iya apa iya? Bagaimana rasanya berumah tangga, Bapak/Ibu sekalian?

Fenomena yang banyak kita jumpai saat ini adalah mudahnya konflik yang muncul dalam rumah tangga, yang diawali dari berbagai persoalan. Misalnya, perbedaan pendapat sering berujung pada pertengkaran, komunikasi terganggu karena emosi tidak stabil, dan masalah rumah tangga yang kerap kali diumbar ke media sosial. Tidak sedikit pula yang lebih sibuk mencari pembenaran daripada mencari solusi.

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan tujuan mulia dari pernikahan dalam QS. Ar-Rum: 21 yang berbunyi:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”

Tahu nggak maknanya, Bapak/Ibu sekalian?

Ayat ini mengingatkan kita bahwa rumah tangga seharusnya menjadi tempat sakinah, bukan arena saling menyakiti. Namun ketenangan tidak hadir dengan sendirinya. Ia harus dijaga dengan kesabaran, komunikasi yang baik, dan tanggung jawab kedua belah pihak.

Sebagai seorang Muslim, menjaga urusan rumah tangga berarti menunaikan hak dan kewajiban dengan adil. Suami menjalankan perannya sebagai pemimpin dan pelindung, istri menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab dan kesetiaan.

Kepemimpinan dalam rumah tangga bukanlah soal kekuasaan atau merasa si paling (bahasa anak muda sekarang), melainkan tanggung jawab, keteladanan, dan kasih sayang. Apa buktinya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Jadi harus baik terhadap keluarga. Utamakan keluarga terlebih dahulu, barulah orang lain. Jangan malah kebolak-balik! Baik ke tetangga, sama keluarga sendiri perhitungan. Astaghfirullahaladzim.

Jemaah sekalian, menjaga rumah tangga berarti menjaga kehormatan diri, menjaga anak-anak, dan menjaga stabilitas masyarakat. Ketika rumah tangga dijaga dengan iman dan takwa, maka cobaan sebesar apa pun dapat dihadapi bersama.

Mari kita perbaiki niat, perkuat komunikasi, dan kembalikan rumah tangga kita kepada nilai-nilai Islam. Jadikan rumah sebagai tempat ibadah, saling menguatkan, dan saling mendoakan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi rumah tangga kita dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah, serta menjaga keluarga kita dari fitnah dunia dan akhirat. Aamiin ya Rabbal Alamin.

Cukup sekian ceramah malam ini.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariiq, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

5. Ceramah tentang Kewajiban Membayar Utang dan Balasan Bagi yang Lalai

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatur kehidupan kita semua tanpa terkecuali, sekaligus shalawat serta salam kita kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mengajarkan kepada kita makna kejujuran, tanggung jawab, dan akhlak mulia dalam setiap urusan, termasuk dalam masalah utang-piutang.

Benar Bapak/Ibu sekalian.. tema malam ini, kita akan membahas persoalan utang-piutang. Wah, kedengarannya berat, ya? Siapa di sini yang masih memiliki utang? Jangan pura-pura lupa, lho Bapak/Ibu. Ini hanya peringatan sekalian bercanda saja hehe.

Jemaah yang dirahmati Allah..

Utang dalam Islam bukan perkara ringan dan bisa diabaikan begitu saja. Jadi sekali lagi, jangan menganggapnya remeh meskipun jumlahnya sedikit, ya Bapak/Ibu. Sebab, statusnya tetap sama, yakni “utang”. Nah, utang itu sebenarnya bukan sekadar urusan dunia, tetapi juga urusan akhirat. Banyak orang menganggap remeh utang, padahal utang adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 282

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa utang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, kejelasan, dan niat untuk melunasi, bukan untuk menghindar atau melalaikan.

Padahal perintah Allah seperti itu, tapi fenomena yang sering kita jumpai hari ini malah sebaliknya. Iya atau iya, Bapak/Ibu?

Orang yang berutang justru lebih galak daripada yang memberi utang. Saat ditagih dengan cara baik-baik, dia marah. Saat diingatkan, dia menghindar. WhatsApp kita diblokir, komunikasi langsung diputus begitu saja, dan ngilang nggak tahu ke mana. Repot banget, ya! Padahal kita cuma ingin hak kita kembali. Bahkan ada yang merasa tersinggung seolah-olah dizalimi, waktu meminjam saja memelas seperti orang yang sangat membutuhkan bantuan. Naudzubillahmindzalik. Semoga tidak terjadi pada kita semua yang ada di sini, ya Bapak/Ibu sekalian. Aamiin.

Perlu diketahui untuk jemaah dan tentunya saya sendiri sebagai pengingat, bahwa ganjaran bagi orang yang lalai membayar utang, selain dosa, adalah hilangnya keberkahan hidup. Hidupnya sempit, urusannya kusut, dan doanya sulit dikabulkan. Bahkan Rasulullah pernah menolak menshalatkan jenazah seseorang yang masih memiliki utang, sampai ada sahabat yang menjamin pelunasannya. Ini menunjukkan betapa beratnya konsekuensi utang di sisi Allah.

Sebaliknya, bagi orang yang berutang dan berusaha jujur, bersikap rendah hati, meminta waktu dengan sopan, serta sungguh-sungguh berusaha melunasi, maka Allah akan menolongnya. Bahkan orang yang memberi kelonggaran kepada orang yang kesulitan membayar utang dijanjikan pahala besar oleh Allah. Tapi ini bukan berarti, yang berutang bisa bersikap semena-mena. Diberikan kelonggaran berarti harus sungguh-sunguh berusaha untuk melunasinya. Jangan malah santai-santai tanpa usaha.

Jemaah yang dirahmati Allah..

Apabila kita masih memiliki utang, maka lunasilah sebelum ajal menjemput. Jika belum mampu, maka jujurlah, rendahkan hati, dan jangan menyakiti orang yang telah menolong kita. Ingatlah, lebih baik menahan gengsi di dunia daripada menanggung beban utang di akhirat.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang amanah, dijauhkan dari utang yang memberatkan, dan dimudahkan untuk menunaikan hak sesama manusia. Aamiin ya rabbal alamin.

Sekian materi malam ini, tidak perlu terlalu panjang. Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

6. Ceramah tentang Keharusan Mencari Rezeki yang Halalan-Tayyiban

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa bihi nasta’inu ‘ala umuriddunya waddin, wassalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin, sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in.

Jemaah salat tarawih yang dirahmati Allah..

Mencari rezeki adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Namun Islam tidak hanya memerintahkan kita untuk mencari rezeki, tetapi juga mengatur bagaimana cara mencarinya dan bagaimana kualitas rezeki tersebut. Dalam Islam, rezeki tidak cukup hanya halal, tetapi juga harus tayyib, yang artinya baik, bersih, dan membawa keberkahan.

Namun sayangnya, kalau lihat kehidupan di zaman sekarang ini, banyak orang justru berlomba-lomba mengejar harta tanpa mempertimbangkan halal dan haram. Pokoknya gas terus selama jumlahnya banyak tanpa peduli itu halal atau haram. Benar nggak, Bapak/Ibu/Adik-Adik sekalian? Segala cara ditempuh demi kekayaan, jabatan, atau status sosial. Ada yang menipu, memanipulasi, korupsi, riba, atau menghalalkan kebohongan dengan alasan “demi keluarga” atau “demi masa depan”. Padahal kan masa depan kita nggak hanya dunia ini, tapi yang lebih menakutkan adalah masa depan di akhirat. Kenapa? Karena kekal. Kita sudah nggak bisa bertaubat atau pun nyari rezeki secara halalan tayyiban lagi.

Padahal kan Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 168 yang berbunyi:

“Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik (tayyiban), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.”

Ingat, jangan mengikuti langkah-langkah setan! Bahkan Rasulullah menjelaskan tentang seseorang yang berdoa dengan sungguh-sungguh, namun doanya tidak dikabulkan sama Allah karena makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. Peristiwa seperti ini menjadi peringatan bagi kita semua, bahwa rezeki yang tidak halal dan tidak tayyib bisa merusak hubungan seorang hamba dengan Allah. Astaghfirullah…

Jemaah yang dimuliakan Allah..

Rezeki yang halal dan tayyib mungkin tampak lebih kecil, ngumpulinnya tidak bisa dilakukan dengan cepat atau tidak seindah gaya hidup orang lain. Namun percayalah Bapak/Ibu/Adik-Adik sekalian, rezeki yang halal dan tayyib membawa ketenangan, keberkahan, dan keselamatan di dunia serta akhirat. Sebaliknya, harta yang diperoleh dari jalan haram atau tidak tayyib bisa tampak melimpah, tetapi menyisakan kegelisahan, kerusakan akhlak, dan beban dosa yang berat.

Sebagai seorang Muslim, kita dituntut untuk jujur dalam bekerja, bersih dalam berusaha, dan amanah dalam mengelola harta. Lebih baik sedikit tetapi halal dan tayyib, daripada banyak namun menjadi sebab murka Allah.

Mari kita luruskan niat dalam mencari rezeki. Jadikan pekerjaan sebagai ibadah, bukan sekadar ambisi dunia. Ingatlah bahwa kekayaan hanyalah titipan, sementara pertanggungjawabannya adalah kepastian.

Demikian yang bisa saya sampaikan malam ini. Semoga Allah selalu menjaga kita dari perilaku dan perbuatan tercela yang bisa menjerumuskan ke dalam neraka. Aamiin.

Wabillahi taufiq wal hidayah, waridho wal inayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

7. Ceramah tentang Puasa Tetapi Tidak Melaksanakan Salat

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Yuhibbu man atha’ahu, wa yujibu man da’ahu. Wa asyhadu anla ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu. Wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu. Shalawatu rabbi wa salamuhu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa shahbihi w aman ihtada bisunnatihi wa hudahu. Amma ba’du.

Jemaah.. Oh Jemaah.. masih semangat, Bapak/Ibu/Adik-Adik? Khotbah malam ini tidak terlalu panjang, kok. Saya langsung ke intinya saja.

Ketika puasa Ramadan tiba, ibadah yang benar-benar harus dimaksimalkan adalah puasa. Pastikan nggak ada yang bolong kecuali ada uzur syar’i seperti sakit, haid bagi perempuan, atau sedang melakukan perjalanan yang teramat jauh. Nah, masalahnya.. sekarang ini banyak orang rajin berpuasa, tetapi lalai bahkan meninggalkan salat. Ada yang menahan lapar dan dahaga sejak pagi hingga maghrib, namun tidak mendirikan salat lima waktu. Padahal, dalam Islam tidak boleh memilih-milih ibadah atau menjalankan satu kewajiban sambil meninggalkan kewajiban yang lain. Padahal kan puasa wajib, salat lima waktu juga wajib.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan kita dengan bersabda:

“Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya; dan jika salatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalnya.” – (HR. Tirmidzi).

Dari hadits ini diketahui kalau salat menjadi penentu kualitas seluruh ibadah lainnya, termasuk puasa. Puasa tanpa salat ibarat bangunan tanpa fondasi alias mudah rapuh. Bener nggak, Bapak/Ibu/Adik-Adik sekalian?

Apalagi dengan sengaja meninggalkan salat akan merugikan kita sendiri. Mulai dari terhapusnya keberkahan hidup, hatinya sempit, urusannya kacau, dan ibadahnya terasa hampa. Nggak hanya itu, amal ibadah lainnya terancam tidak diterima, termasuk puasa, karena kita meremehkan perintah Allah yang paling utama setelah syahadat.

Semoga kita tidak termasuk golongan yang menerima ancaman siksaan berat di akhirat karena meninggalkan salat. Aamiin ya Allah.

Semoga khotbah malam ini memberikan manfaat bagi kita semua. Mohon maaf atas segala kekurangan saya dan mari tutup dengan hamdalah bersama-sama (Alhamdulillahirobbil alamin). Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang Content Writer SEO dan Content Creator yang suka belajar hal-hal baru, terutama tentang transformasi dunia digital agar bermanfaat dan memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan yang relevan saat ini.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
7 Contoh Teks Ceramah Tarawih Ramadan yang Relevan dengan Kehidupan Saat Ini!

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy Astaga! privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us