Memo: Warisan Paling Berharga AHY?

memo:-warisan-paling-berharga-ahy?
Memo: Warisan Paling Berharga AHY?
Share

Share This Post

or copy the link

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Tragedi kereta di Stasiun Bekasi Timur ungkap sisi lain AHY. Dari mana empati itu berasal?


PinterPolitik.com

“Human caring and the memory of caring and being cared for, which I shall argue form the foundation of ethical response, have not received attention except as outcomes of ethical behavior.” – Nel Noddings, Caring: A Feminine Approach to Ethics and Moral Education (1984)

Cupin sedang menggulir timeline X ketika sebuah video menarik perhatiannya. Seorang pejabat berseragam rompi lapangan sedang berlutut di samping ranjang rumah sakit, mendengarkan cerita seorang perempuan yang lengannya diperban tebal.

Pejabat itu adalah Menteri Koordinator Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono. Ia berada di RSUD Bekasi, sehari setelah tragedi kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur yang merenggut setidaknya 15 nyawa pada Senin malam 27 April 2026.

Cupin kemudian mencari tahu kronologi lengkapnya. Sebuah taksi listrik mogok di perlintasan sebidang, memicu efek domino yang berakhir dengan KA Argo Bromo Anggrek menghantam KRL yang berhenti darurat, dan hampir seluruh korban tewas adalah perempuan pekerja di gerbong khusus wanita yang sedang dalam perjalanan pulang.

Yang membuat Cupin menaikkan alis adalah urutan langkah AHY di lapangan. Menko Infrastruktur itu tiba di Stasiun Bekasi Timur sekitar pukul 13.30 WIB, masuk ke ruang staf untuk berkoordinasi dengan jajaran KAI, dan baru berbicara ke media setelah memahami situasi secara utuh.

AHY kemudian meninjau langsung lokasi tabrakan dan memeriksa kondisi perlintasan liar sebelum bergerak ke RSUD Bekasi. Di sana, ia berdialog satu per satu dengan korban, menanyakan kondisi mereka, dan mencatat bahwa mayoritas adalah perempuan pekerja yang sekadar ingin pulang ke rumah.

Cupin memperhatikan bagaimana AHY menyusun pernyataan publiknya dalam tiga lapis. Lapisan pertama adalah empati terhadap korban dan keluarga, lapisan kedua adalah ketegasan menuntut investigasi KNKT yang transparan dan terbuka, dan lapisan ketiga adalah visi sistemik soal pembenahan 1.800 perlintasan sebidang yang belum terbenahi di Pulau Jawa.

Kemudian Cupin menemukan cuitan viral Fauzan Muhajir yang sudah ditonton 266 ribu kali. Isinya menyebut respons AHY sebagai “respon terbaik dari pemerintah saat ini” dan membandingkannya langsung dengan gaya SBY dalam merespons bencana.

Cupin pun bertanya dalam hati: mengapa publik langsung menghubungkan respons AHY dengan SBY? Dan apakah perbandingan itu menyembunyikan sesuatu yang justru lebih menarik?

Warisan dari Cikeas

Perbandingan AHY dengan SBY memang bukan tanpa dasar. SBY adalah presiden yang dianugerahi Global Champion of Disaster Risk Reduction oleh Sekjen PBB Ban Ki-moon pada 2012, sebuah pengakuan atas manajemen kebencanaan Indonesia sepanjang satu dekade yang dipenuhi bencana beruntun, dari tsunami Aceh 2004 hingga erupsi Merapi 2010.

Polanya pun serupa. SBY, ketika menerima kabar tsunami Aceh di Jayapura pada malam 26 Desember 2004, memilih terbang langsung ke Aceh keesokan harinya alih-alih kembali ke Jakarta, karena ia percaya bahwa pemimpin harus memahami situasi di lapangan sebelum mengambil keputusan. AHY di Bekasi melakukan hal yang sama dalam skala yang berbeda: koordinasi internal dulu, turun ke lokasi dulu, baru bicara ke publik.

Fenomena ini bukan khas Indonesia. Dalam sejarah politik Amerika Serikat, George W. Bush kehilangan legitimasi publik secara dramatis bukan karena kegagalan teknis penanganan Badai Katrina 2005, melainkan karena citra dirinya yang dianggap berjarak, termasuk foto dirinya memandang kerusakan dari jendela pesawat tanpa turun ke lapangan.

Arjen Boin dan Paul ‘t Hart dalam buku mereka The Politics of Crisis Management yang diterbitkan Cambridge University Press mengidentifikasi lima tugas strategis pemimpin saat krisis, yaitu memahami situasi, mengambil keputusan, memberi narasi, mengakhiri krisis, dan memetik pelajaran. AHY, dalam 24 jam pasca-tragedi Bekasi, menunjukkan kelima elemen itu dengan tingkat koherensi yang jarang terlihat dari pejabat setingkat menteri koordinator.

Pierre Bourdieu, sosiolog Prancis yang mengembangkan konsep habitus, menjelaskan bahwa cara seseorang bertindak dalam situasi tertentu bukan semata hasil pelatihan formal, melainkan produk dari paparan berulang terhadap praktik-praktik sosial dalam lingkungan formatifnya. AHY tumbuh besar menyaksikan ayahnya mengambil keputusan di tengah krisis demi krisis, dan pola itu terinternalisasi menjadi disposisi yang beroperasi secara naluriah.

Max Weber, sosiolog Jerman yang mencetuskan teori otoritas, membedakan antara otoritas yang melekat pada jabatan dan otoritas yang melekat pada kapasitas personal seseorang untuk menginspirasi kepercayaan di saat ketidakpastian. AHY secara jabatan adalah menteri koordinator, bukan presiden, namun respons Bekasi menunjukkan bahwa ia mampu mengoperasikan kedua jenis otoritas itu secara bersamaan.

Namun Cupin merasa ada sesuatu yang belum terjawab. Jika DNA krisis AHY hanya soal meniru SBY, mengapa register dominan yang muncul di Bekasi justru lebih bersifat empatik dan relasional ketimbang strategis-operasional? Dan bukankah ada sosok lain di Cikeas yang justru lebih menjelaskan dimensi itu?

Warisan dari Memo

Jawabannya mungkin tersimpan dalam sebuah lukisan. Pada Desember 2024, ketika memperingati 20 tahun tsunami Aceh, SBY ditemukan sedang menyelesaikan lukisan di studionya: seorang perempuan menangis sambil memeluk dua anak yang kehilangan kedua orang tuanya. Perempuan itu adalah Ani Yudhoyono, atau yang dipanggil keluarga dengan nama sayang, Memo.

Dalam wawancara di Metro TV saat itu, SBY mengungkapkan bahwa setiap kali mengunjungi daerah bencana, ia selalu mengajak Ani “supaya bisa ikut berempati, bisa ikut merasakan dan menyampaikan sesuatu kepada mereka.” Kalimat itu, jika dibaca dengan cermat, mengungkap sesuatu yang signifikan: SBY sendiri membutuhkan Ani untuk mengaktifkan dimensi empati dalam respons krisisnya.

Carol Gilligan, psikolog Harvard yang menulis In a Different Voice, berargumen bahwa tradisi moral Barat cenderung memprioritaskan penalaran keadilan, yaitu soal aturan, hak, dan prosedur, di atas penalaran kepedulian yang berorientasi pada relasi, konteks, dan kebutuhan konkret. Keduanya bukan hierarkis, melainkan komplementer, dan keduanya dibutuhkan dalam penanganan krisis.

SBY membawa penalaran keadilan: investigasi, komando, alokasi sumber daya, reformasi institusional seperti pembentukan BNPB dan UU Penanggulangan Bencana. Ani membawa penalaran kepedulian: pelukan di reruntuhan, organisasi doa di malam pertama tsunami, dialog langsung dengan korban, dan kehadiran yang mengayomi.

DNA Cikeas, dalam kerangka ini, bukan satu untai. Ia adalah double helix, dua pilin yang saling melengkapi: untai SBY dan untai Ani.

Martha Nussbaum, filsuf politik Universitas Chicago yang menulis Political Emotions: Why Love Matters for Justice, berargumen bahwa empati dan duka bersama bukan elemen irasional yang harus disingkirkan dari tata kelola. Sebaliknya, emosi-emosi ini adalah infrastruktur moral yang menopang kohesi sosial dan legitimasi pemimpin.

Nel Noddings, filsuf pendidikan Stanford yang mengembangkan Ethics of Care, membedakan antara caring about dan caring for. Caring about adalah kepedulian abstrak terhadap “korban bencana” sebagai kategori. Caring for adalah kehadiran langsung, memeluk anak yatim di reruntuhan, dan berdialog dengan pasien patah tulang di bangsal rumah sakit.

Ketika AHY di RSUD Bekasi mendengarkan cerita korban satu per satu dan mencatat bahwa “rata-rata kalau saya tanya tadi, mereka pulang kerja, hampir semua perempuan,” ia bukan sedang menjalankan protokol dari program MPA Harvard-nya. Ia sedang menjalankan pola yang ia serap dari menyaksikan ibunya memeluk anak-anak yatim di Aceh dua dekade lalu.

AHY menyebut Ani sebagai “pelita, sumber kekuatan, sumber semangat, juga kebahagiaan keluarga kami.” Di pemakaman ibunya pada 2019, ia menutup sambutan dengan kalimat: “Selamat jalan Memo, we love you and we will forever miss you.”

Memo telah pergi. Namun di Stasiun Bekasi Timur, ketika seorang menteri koordinator memilih berlutut untuk mendengarkan cerita perempuan pekerja yang terluka, warisan itu tampak hidup dalam bentuk yang paling konkret: sebuah kehadiran yang bukan sekadar terlihat, melainkan terasa. Apakah itu warisan paling berharga AHY? Waktu dan konsistensi yang akan menjawab. (A43)


0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Memo: Warisan Paling Berharga AHY?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy Astaga! privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us