Dengarkan artikel ini:
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda jadi gubernur No. 1 versi anak muda. Mungkinkah Sherly adalah gubernur arketipe semacam princess Disney?
“”The spectacle is not a collection of images, but a social relation among people, mediated by images.” Guy Debord, Society of the Spectacle (1967)
Cupin baru saja menutup aplikasi TikTok-nya setelah dua jam scrolling tanpa sadar. Yang membuatnya tidak bisa berhenti bukan konten komedi, melainkan video-video seorang gubernur perempuan dari Maluku Utara yang makan bakso bersama nelayan, menangis mengenang suaminya, lalu tiga swipe kemudian tampil memukau sebagai juri Puteri Indonesia 2026.
Gubernur itu bernama Sherly Tjoanda, dan akun TikTok-nya sudah menembus 2,6 juta pengikut. Facebook-nya diikuti 1,28 juta orang, angka yang membuat banyak menteri di Jakarta mungkin diam-diam iri.
Cupin tahu ceritanya: perempuan Tionghoa beragama Kristen yang kehilangan suami dalam kecelakaan kapal di tengah masa kampanye Pilkada 2024, lalu bangkit menggantikannya dan menang dengan 50,73 persen suara di provinsi yang 74,5 persen penduduknya Muslim. Sebuah kemenangan yang oleh banyak pengamat disebut sebagai bukti kedewasaan demokrasi lokal, momen di mana pemilih menilai kapasitas di atas identitas.
Survei Muda Bicara ID menempatkan Sherly di peringkat pertama gubernur terbaik versi anak muda dengan 18,50 persen kepuasan, mengalahkan Pramono Anung dan Dedi Mulyadi. Elektabilitasnya dalam bursa cawapres 2029 di kalangan pemilih muda mencapai 7,25 persen, melampaui Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang hanya 6,13 persen.
Bahkan momen konferensi pers soal pemotongan Dana Transfer ke Daerah bersama Gubernur Aceh Muzakir Manaf pun berubah menjadi konten romantis: internet tidak membaca substansi anggaran, internet membaca chemistry dua gubernur yang terlihat serasi. Cupin sendiri sempat ikut tersenyum melihat videonya sebelum sadar bahwa ia baru saja menukar isu fiskal senilai triliunan rupiah dengan fan-fiction politik.
Cupin, yang biasanya skeptis terhadap politisi mana pun, mendapati dirinya menyukai Sherly, dan justru itu yang membuatnya gelisah. Ia teringat fenomena serupa: Jokowi pada 2012 dengan blusukan-nya, Ahok dengan ketegasannya, Ganjar Pranowo dengan video jogging-nya, yang semua dimulai dari persona yang terasa autentik di media sosial.
Tapi apakah pesona digital adalah jaminan kualitas pemerintahan, ataukah ia justru adalah layar yang menghalangi publik dari evaluasi yang lebih jujur? Dan ketika seorang pemimpin sudah terlanjur dicintai sebagai karakter dalam narasi yang indah, masihkah publik mampu bersikap kritis ketika ceritanya mulai tidak seindah yang dibayangkan?
Moana di Panggung Politik?
Perbandingan Sherly Tjoanda dengan Lady Diana bukan hal baru; publik sudah melakukannya secara intuitif. Namun ada arketipe yang barangkali lebih tepat dan lebih berbahaya sekaligus: Disney Princess.
Amy M. Davis dalam bukunya Good Girls and Wicked Witches: Women in Disney’s Feature Animation menguraikan bagaimana Disney selama delapan dekade membangun taksonomi karakter feminin yang jauh lebih kompleks dari sekadar “putri cantik menunggu pangeran.” Dari Cinderella yang pasif hingga Moana yang memilih pergi menyelamatkan pulaunya sendiri, evolusi Disney Princess mencerminkan pergeseran ekspektasi masyarakat terhadap figur perempuan ideal.
Sherly Tjoanda paling dekat dengan Moana: mewarisi tanggung jawab dari figur laki-laki yang sudah tidak bisa memimpin, menghadapi arena yang belum pernah dimasuki “perempuan sepertinya,” dan membangun legitimasi bukan dari garis keturunan melainkan dari keputusan untuk maju di saat semua orang akan memaklumi jika ia mundur. Ia juga punya dimensi Tiana dari The Princess and the Frog, yaitu princess yang bekerja keras, punya rencana bisnis, dan menanggung beban ganda karena identitas minoritasnya.
Fenomena ini bukan unik Indonesia. Farida Jalalzai dari Oklahoma State University mendokumentasikan pola familial pathway dalam kepemimpinan perempuan di Asia dan Amerika Latin: perempuan yang memasuki politik melalui jejaring kekerabatan dengan politisi laki-laki yang meninggal atau dipenjara.
Corazon Aquino naik setelah pembunuhan suaminya di Filipina; Sirimavo Bandaranaike menjadi perdana menteri pertama di dunia setelah suaminya ditembak di Sri Lanka. Pola ini berulang karena ia bekerja. Duka adalah mesin legitimasi yang sangat efisien.
Martha Nussbaum dalam Political Emotions: Why Love Matters for Justice berargumen bahwa emosi bukan musuh demokrasi; justru demokrasi yang sehat membutuhkan ikatan emosional antara warga dan pemimpinnya. Namun, yang krusial menurut Nussbaum adalah memastikan emosi itu diarahkan pada tujuan keadilan, bukan pada pemujaan personal.
Ada juga sedikit Elsa dari Frozen dalam narasi Sherly: perempuan yang “seharusnya” tidak bisa menjadi apa yang ia menjadi, terlalu asing secara identitas, yang ternyata bukan hanya diterima tetapi dirayakan. Ernst Kantorowicz dalam The King’s Two Bodies menulis tentang pemimpin yang memiliki dua tubuh, alamiah dan politik, dan Sherly, seperti Diana, meruntuhkan dikotomi itu dengan menyodorkan kerentanan personal sebagai sumber legitimasi.
Cupin mulai bertanya pada dirinya sendiri: ketika publik sudah terlalu jatuh cinta pada narasi kebangkitan sang princess, masihkah mereka bisa membedakan antara kekaguman yang sehat dan pemujaan yang membutakan? Dan jika setiap kritik terhadap sang princess otomatis dibaca sebagai serangan villain, bukankah demokrasi sedang kehilangan salah satu fungsi terbesarnya, yaitu akuntabilitas?
Setelah Happily Ever After?
Inilah jebakan terdalam dari arketipe Disney Princess dalam politik: ceritanya selalu berakhir di momen kemenangan. Kita melihat Moana mengembalikan jantung Te Fiti, tetapi tidak melihatnya sepuluh tahun kemudian menghadapi krisis pangan di pulau.
Guy Debord dalam Society of the Spectacle memperingatkan bahwa masyarakat modern telah menggantikan pengalaman hidup yang autentik dengan representasi, dengan tontonan. Dalam kerangka Debord, viralnya Sherly di TikTok bukan sekadar dokumentasi, melainkan sudah menjadi spectacle yang dikurasi dan dikonsumsi, di mana kesan menggantikan substansi.
Sherly Tjoanda memiliki tantangan konkret yang tidak bisa diselesaikan oleh viralitas: kekayaan Rp972 miliar yang sebagian berasal dari imperium tambang nikel keluarga dan perusahaan PT Karya Wijaya yang sedang diselidiki Satgas Penataan Kawasan Hutan. Ha-Joon Chang dalam Kicking Away the Ladder mengingatkan bahwa pemimpin di daerah kaya sumber daya alam sering menerima kredit yang tidak proporsional saat harga komoditas naik, dan pertumbuhan ekonomi Maluku Utara sebesar 32 persen sangat mungkin merupakan windfall siklus nikel global.
Dennis Thompson dari Harvard menyebut situasi seperti ini sebagai institutional corruption: bukan pelanggaran hukum, melainkan erosi integritas institusi akibat loyalitas ganda yang struktural. Seorang gubernur yang keluarganya memiliki konsesi tambang di provinsi yang dipimpinnya menghadapi dilema yang tidak bisa dijawab hanya dengan pernyataan telah mundur dari kepengurusan aktif.
Byung-Chul Han dalam The Transparency Society menambahkan dimensi lain yang lebih halus: masyarakat kontemporer terobsesi pada transparansi bukan karena cinta pada kebenaran, melainkan karena transparansi telah menjadi bentuk hiburan. Video gubernur turun ke sawah terasa transparan, tetapi transparansi performatif justru bisa menyembunyikan realitas kekuasaan yang sesungguhnya.
Yang paling fundamental, sebagaimana argumen Davis tentang narasi Disney: princess tidak pernah benar-benar bersalah secara moral. Kesalahannya selalu dinaturalisasi sebagai bagian dari perjalanan menuju kebaikan, bukan sebagai indikasi keputusan yang keliru.
Jika pola ini diterapkan pada pemimpin nyata, maka setiap kritik akan dibaca sebagai pengkhianatan dan setiap investigasi akan dianggap sebagai konspirasi, sehingga demokrasi kehilangan mekanisme koreksi yang paling dibutuhkannya. Davis menyebut struktur ini sebagai kebutuhan naratif akan villain, dan dalam politik yang beroperasi dengan logika Disney, siapa pun yang mengkritik sang princess otomatis menempati peran Ursula.
Moana, di akhir filmnya, tidak tinggal di kastil. Ia kembali ke laut, ke ketidakpastian yang autentik. Pelajaran terbesarnya bukan soal keberanian, melainkan kesediaan meninggalkan narasi tentang diri sendiri demi realitas yang lebih berantakan.
Cupin menutup laptop-nya dan memandang ke luar jendela. Sherly Tjoanda mungkin memang pemimpin yang baik, bahkan sangat baik, tetapi kebaikan seorang pemimpin seharusnya dibuktikan oleh proses yang panjang dan tidak glamor, bukan oleh narasi yang terlalu indah untuk tidak dipertanyakan. (A43)