Zootropolis 2 hadir di bioskop dengan penuh percaya diri: sebuah sekuel yang seru dan cepat, dipenuhi lelucon tajam, karakter menggemaskan, desain animasi yang indah, serta pesan utama yang menghangatkan hati tanpa terasa berlebihan. Film yang di Amerika Serikat (AS) dan Indonesia berjudul Zootopia 2 ini akan memikat penonton muda dan, untungnya, memiliki cukup banyak pesona untuk dinikmati orang dewasa juga.
Sekuel baru ini kembali bercerita tentang duo utama dari sekuel pertama—Nick (Jason Bateman) dan Judy (Ginnifer Goodwin)—pasangan rubah dan kelinci yang tidak serasi dan bekerja di Departemen Kepolisian Zootropolis.
Bateman menghadirkan karisma nakal dan penuh selera humor pada sosok Nick yang licik. Sementara Judy versi Goodwin tampil enerjik sekaligus penuh kelemahan, dengan kedalaman emosi yang hangat dan memikat. Nick dan Judy menghabiskan sebagian besar cerita dalam posisi saling bertentangan—menghasilkan beberapa momen paling menyentuh di film.
Di awal film, mereka mengikuti “terapi pasangan” dalam sebuah adegan yang dilebih-lebihkan. Ini menjadi latar cerita untuk keseluruhan film, yang memicu tawa kecil anak-anak dan tawa riang orang dewasa dengan nasihat dan wawasan mendalam yang tetap sampai ke penonton.
Inilah kekuatan Zootropolis 2: humornya berpadu apik dengan momen-momen yang menyentuh hati, membuatnya tidak terlalu klise.
Dunia Zootropolis berkembang dalam sekuel ini ketika Judy dan Nick meninggalkan batas kota menuju pedesaan untuk mengejar seekor ular misterius. Hal ini memberi tim produksi banyak ruang untuk menunjukkan kemampuan desain mereka, dan hasilnya benar-benar memukau.
Hamparan animasi yang luas mengingatkan pada lanskap salju Frozen yang paling memesona dan langit senja Tangled yang menakjubkan. Perpaduan warna-warna yang hidup serta deretan hewan dengan keunikan masing-masing menghadirkan keriangan yang terasa segar dan penuh kreativitas.
Terkadang leluconnya mencuri perhatian, membuat duo utama kita agak kurang diperhatikan dan misteri reptil utamanya juga lumayan membingungkan. Namun, hal ini tidak pernah mengurangi daya tarik film ini. Naskahnya sangat mengalir, karakter-karakter barunya bersemangat, sehingga menghadirkan segudang kegembiraan dan hiburan.
Nibbles Maplestick (Fortune Feimster)—seekor berang-berang yang memiliki podcast tentang penyelidikan reptil misterius—mencuri perhatian di setiap adegan yang ia tampilkan. Ia mengundang tawa dengan komedi fisik slapstick dan pertanyaan-pertanyaan konyol seperti, “Apakah ular memakai setengah celana atau hanya satu kaus kaki panjang?” (yang kemudian ia jawab sendiri).
Gary De’Snake (Ke Huy Quan), seekor ular pit viper berwarna biru elektrik yang bisa mendeteksi panas, animasinya mengingatkan kita pada Kaa, tokoh antagonis dari The Jungle Book. Namun ia berhasil melakukan hal yang tampaknya mustahil: membuat ular menjadi sosok yang disukai.
Ada begitu banyak telur Paskah, lelucon singkat, adegan aksi, dan lelucon cepat yang bahkan penonton paling jeli pun tidak akan menangkap semuanya saat pertama kali menonton. Permainan kata dan lelucon visual yang berlimpah membuat penonton tersenyum sepanjang film.
Film ini juga mengenalkan kita pada sepasang zebra macho yang menyebut diri mereka “Zeebros”, logo wortel di ponsel Judy, dan bahkan “furcast” untuk ramalan cuaca. Sebuah festival musik bernama Burning Mammal tampil nakal dengan cara yang tepat, dan sistem transportasi tabung berkecepatan tinggi tampak seperti wahana taman hiburan yang siap dibuat.
Bagian yang paling menyenangkan adalah sejumlah rujukan terhadap film-film Disney lainnya. Parodi penuh kasih pada koki tikus Ratatouille dan adegan spaghetti Lady and the Tramp yang dibuat super canggung menghadirkan sensasi komedi ala Shrek karya DreamWorks dengan tetap dalam balutan sentuhan khas Disney yang berkilau—nostalgis sekaligus sangat lucu.
Di balik semua keseruan dan lelucon, tersimpan pesan tentang pentingnya komunitas dan harmoni antarspesies. Pesan ini dirangkai dengan lembut sepanjang film, tanpa terasa menggurui.
Hubungan Nick dan Judy yang sedang tegang juga mencerminkan kegelisahan yang lebih luas di Zootropolis. Sementara misteri para reptil secara halus menggali tema prasangka dan ketakutan terhadap hal yang tidak dikenal.
Nick berkata, “Perbedaan kita tidak berpengaruh.” Ini adalah gagasan yang bergema kuat dalam semangat tahun 2025, yang dibentuk oleh perang, konflik, serta kerusuhan politik dan budaya.
Zootropolis 2 adalah sekuel yang cerdas dan lucu, dengan sebuah gagasan penting dan menghangatkan hati di pusat ceritanya. Percaya diri dan penuh imajinasi, film ini tampil penuh warna dan penuh emosi, menghadirkan keseruan yang memuaskan penonton tanpa kehilangan pesan utama yang ingin disampaikan.
Dengan menjaga sentimentalitas dan menyeimbangkan kemegahannya dengan ketulusan berbalut humor, film ini membuktikan bahwa dunia Zootropolis tetap sehidup dan semenarik sebelumnya.