‘Superflu’ ditemukan di Indonesia: Pahami karakter dan penyebarannya agar tidak panik

‘superflu’-ditemukan-di-indonesia:-pahami-karakter-dan-penyebarannya-agar-tidak-panik
‘Superflu’ ditemukan di Indonesia: Pahami karakter dan penyebarannya agar tidak panik
Share

Share This Post

or copy the link

● ‘Superflu’ bukan istilah medis resmi, melainkan julukan dari media asing untuk Influenza A (H3N2) subclade K.

● Varian Influenza ini masuk kategori virus penyebab flu musiman yang umumnya bisa disembuhkan.

● Penularan virus ini bisa dicegah dengan vaksinasi Influenza serta rutin menjaga kebersihan diri.


Istilah “superflu” belakangan ramai dibicarakan. Banyak orang langsung khawatir, seolah-olah ini adalah virus baru yang jauh lebih berbahaya.

Padahal superflu bukan istilah medis resmi, melainkan julukan yang disematkan media asing untuk menyebut varian Influenza A (H3N2) subclade K atau dikenal sebagai clade 3C.2a1b.2a.2a.3a.1.

Virus ini sudah menyebar di lebih dari 34 negara, termasuk Indonesia sejak Agustus 2025 lalu.

Di Eropa, sekitar musim dingin di akhir tahun lalu, sejumlah ilmuwan bahkan sudah memprediksi virus Influenza A (H3N2) subclade K akan mewabah.

Influenza A (H3N2) subclade K masih berada dalam kelompok Influenza penyebab flu musiman yang sudah lama kita kenal. Jadi, bukan virus baru ataupun penyakit misterius.

Apakah Influenza A (H3N2) berbahaya?

Virus influenza memang berubah secara alami dari waktu ke waktu. Sejak ditemukan pada 1968, Influenza A (H3N2) sudah bermutasi lusinan kali.

Akan tetapi, hingga saat ini tidak ada bukti bahwa flu yang disebabkan oleh Influenza A (H3N2) subclade K lebih berbahaya dibanding flu biasa. Gejala utamanya relatif sama, yaitu demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan badan terasa lemas.


Read more: ISPA merebak karena Influenza A: Kondisi udara yang buruk akibat asap memperparah penularan


Beberapa pakar menyebut gejala infeksi Influenza A (H3N2) subclade K bisa menimbulkan sakit kepala, nyeri otot, dan demam tinggi 39-41 derajat Celcius. Namun umumnya, flu akibat varian ini bisa disembuhkan.

Temuan ini masih sejalan dengan penelitian tahun 2018 yang menunjukkan bahwa mutasi virus Influenza A (H3N2) tidak selalu membuat penyakit flu menjadi lebih berat. Evolusi virus hanya meningkatkan kemampuan adaptasinya dalam menghindari sistem kekebalan tubuh, sehingga bisa berulang kali menginfeksi kita.

Sistem pemantauan dini lebih sigap

Di Indonesia, varian Influenza A (H3N2) subclade K berhasil terdeteksi dini berkat sistem pemantauan (surveilans) Influenza yang baik.

Lebih dari satu dekade, Indonesia telah menjalankan sistem pengambilan sampel tenggorokan pasien bergejala flu atau infeksi napas berat secara rutin bernama Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI).

Sistem pemantauan ILI-SARI melibatkan puskesmas, rumah sakit, dan laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas).

Spesimen pasien positif Influenza akan dirujuk ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan (BBLBK) untuk dipelajari susunan genetiknya, hingga akhirnya diketahui ada 62 sampel yang mengandung Influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia.

Bersama ratusan laboratorium di seluruh dunia, BBLBK masuk ke dalam jaringan pemantauan influenza global (NICs) milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Jaringan global ini membantu WHO memantau perubahan bentuk virus, kemunculan varian baru, dan pola penyebarannya.

Informasi tersebut sangat penting untuk menentukan formula vaksin flu yang diperbarui setiap tahun agar tetap efektif dalam menghadapi perkembangan virus.

Selain itu, jaringan ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini dari WHO untuk memperingatkan negara lain jika terjadi lonjakan kasus flu yang tidak biasa.

Flu berbeda dengan COVID-19

Di sisi lain, diagnosis laboratorium yang cepat dan tepat juga bantu mengetahui apakah pasien mengalami flu atau COVID-19.

Ini sangat penting untuk mencegah penyebaran lebih lanjut, terutama pada kelompok rentan yang berisiko tinggi mengalami gejala serius.

Flu dan COVID-19 disebabkan oleh virus yang berbeda. Namun, pola penyebaran keduanya sangat mirip, karena sama-sama melalui droplet (air liur) dan udara.

Aktivitas masyarakat yang kembali normal, mobilitas tinggi, serta interaksi di ruang tertutup membuat keduanya bisa beredar bersamaan.


Read more: Tanpa aturan yang jelas, pasar hewan Indonesia berisiko memicu pandemi berikutnya


Waspada, tapi tidak perlu panik

Studi di Cina tahun 2024 menunjukkan bahwa setiap orang umumnya akan terinfeksi Influenza A (H3N2) sekali dalam lima tahun.

Kendati sebagian besar kasus bisa sembuh sendiri, kelompok rentan dengan kekebalan tubuh lemah (bayi, anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta) tetap harus waspada jika mengalami gejala infeksi.

Jika mulai merasakan gejala seperti demam dan batuk, segera beristirahat di rumah, jaga jarak dari orang lain, dan lakukan pemeriksaan medis guna memperoleh diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Untuk mencegah penularan virus Influenza, WHO menyarankan kita untuk tetap disiplin dalam menjaga kebersihan diri, seperti rutin mencuci tangan dan menerapkan etika batuk atau bersin yang benar.

Gunakanlah masker, terutama ketika sakit dan berada di ruang tertutup yang ramai.

Lakukan pula vaksinasi influenza tahunan yang tetap menjadi perlindungan paling efektif untuk mencegah gejala berat.

Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UK Health Security Agency) menyebut bahwa vaksin influenza efektif mengurangi sekitar 70-75% risiko anak yang terinfeksi dirawat di rumah sakit. Sementara, pada orang dewasa risikonya menurun 30-40%.

Jadi, selalu waspada itu penting, tapi tidak perlu takut berlebihan dalam menghadapi superflu.


0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
‘Superflu’ ditemukan di Indonesia: Pahami karakter dan penyebarannya agar tidak panik

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy Astaga! privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us