Dengarkan artikel ini:
Di tengah konflik antara Iran dan Israel, figur Ayatollah Ali Khamenei justru semakin “bangkit” di platform media sosial (medsos) seperti X (dulu Twitter).
“There will be more words written on Twitter in the next two years than contained in all books ever printed” – Christian Rudder, pengusaha dan penulis asal Amerika Serikat
Cupin, seorang mahasiswa politik semester akhir, awalnya tidak terlalu tertarik pada akun X (dulu Twitter) milik Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Namun akhir-akhir ini, ia mulai memperhatikan akun @khamenei_ir yang berbahasa Inggris, karena cuitan-cuitan lama Khamenei tiba-tiba kembali ramai diperbincangkan.
Yang membuat Cupin heran, unggahan yang viral bukan soal nuklir atau geopolitik. Justru yang banyak disukai adalah cuitan Khamenei tentang menanam pohon atau nasihat agar para suami memperlakukan istri mereka dengan penuh kelembutan.
Di platform yang biasanya ramai oleh humor sinis dan debat panas, Khamenei justru muncul sebagai figur konservatif yang dianggap “wholesome” oleh sebagian pengguna. Banyak komentar menyebutnya sebagai “wife guy” atau bahkan “sweet old guy”, sebuah respons yang menurut Cupin terasa janggal sekaligus menarik.
Cuitan-cuitan itu kini beredar luas, bahkan di luar kalangan yang biasanya mengikuti isu Timur Tengah. Cupin melihat bagaimana gaya bahasa yang tenang dan bernada nasihat hidup dari Khamenei menarik simpati audiens yang lebih muda dan mungkin tidak terlalu mengenal konteks politik Iran.
Sebagai mahasiswa politik, Cupin melihat ini bukan sekadar nostalgia atau algoritma acak. Ia mulai curiga bahwa ada narasi yang sedang dibentuk ulang, atau setidaknya dipoles agar tampil lebih bersahabat di mata global.
Dalam benaknya, Cupin bertanya: mengapa fenomena ini bisa terjadi? Mungkinkah ada dinamika politis di balik viralnya cuitan-cuitan lama Khamenei?
X: Dari Atrisi Jadi Narasi?
Cupin duduk di bangku perpustakaan kampusnya sambil membuka dua tab sekaligus: satu berisi berita terbaru soal ketegangan Iran-Israel, dan satu lagi menampilkan linimasa X yang penuh dengan potongan video, meme, dan kutipan politik. Ia sadar bahwa konflik yang dulu bersifat fisik dan tertutup kini berubah menjadi terbuka dan simbolik—berpindah dari arena perang atrisi ke medan perang narasi.
Sejak sebelum konflik terbaru pecah, baik Iran maupun Israel telah aktif membentuk citra dirinya di dunia maya. Melalui akun resmi maupun jaringan pendukung, masing-masing pihak mencoba mengendalikan persepsi global dengan membanjiri X dengan argumen, klaim moral, dan identitas diri yang dikurasi secara saksama.
Cupin teringat pada buku Subjective Consciousness: A Self-Representational Theory karya Uriah Kriegel, yang menyebut bahwa kesadaran subyektif tak hanya mengenali objek di luar diri, tapi juga menyertakan representasi tentang diri sendiri. Bagi Cupin, ini menjelaskan mengapa Iran atau Israel tidak hanya bicara soal lawan mereka, tapi juga tentang siapa mereka di mata publik dunia.
Misalnya, ketika akun resmi Israel menampilkan dirinya sebagai benteng demokrasi dan perlindungan warga, Iran melalui akun seperti @khamenei_ir mengedepankan nilai-nilai moral, spiritualitas, dan bahkan kelembutan dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya berupaya menjadi “subjek yang disadari” oleh dunia internasional—bukan hanya sebagai pelaku, tapi sebagai sosok dengan narasi diri yang kuat.
Cupin mulai berpikir bahwa perang ini tidak lagi hanya antarnegara, tapi juga melibatkan publik global sebagai audiens dan juri. Dalam benaknya, ia bertanya-tanya: mengapa perang narasi ini bisa saja menunjukkan peran entitas politik lain di luar pihak-pihak yang sedang berkonflik? Mungkinkah ini berkaitan dengan perusahaan-perusahaan teknologi yang memiliki platform media sosial itu sendiri?
The Elon-Khamenei Saga?
Cupin semakin larut dalam pencariannya memahami wajah baru konflik internasional di era digital. Kini, ia tak hanya memperhatikan negara-negara yang terlibat, tapi juga perusahaan-perusahaan teknologi yang memfasilitasi narasi dari masing-masing pihak.
Dalam jurnal Global: Jurnal Politik Internasional, peneliti Abid A. Adonis menjelaskan bahwa media sosial telah mendorong transformasi aktor dalam hubungan internasional. Perusahaan teknologi, yang dulunya hanya dianggap fasilitator komunikasi, kini menjadi aktor non-negara dengan kekuasaan yang nyata terhadap dinamika global.
Cupin menyoroti satu kasus yang terjadi pada tahun 2024, saat Elon Musk—pemilik X—memblokir akun Khamenei yang berbahasa Ibrani karena dugaan pelanggaran pedoman komunitas. Keputusan ini memicu perdebatan luas karena dianggap menunjukkan keberpihakan, sekaligus memperlihatkan betapa besarnya pengaruh pemilik platform terhadap siapa yang boleh bicara dan siapa yang dibungkam.
Ia menyadari bahwa dalam konteks konflik seperti Iran-Israel, peran platform media sosial tak lagi netral. Keputusan moderasi, algoritma penyebaran konten, hingga amplifikasi suara tertentu bisa berpengaruh besar terhadap bagaimana satu pihak dipersepsikan oleh publik dunia.
Cupin berpikir bahwa era kedaulatan digital tak bisa lagi hanya diukur dari kontrol negara terhadap infrastrukturnya. Perusahaan teknologi global, terutama yang dipimpin figur berpengaruh seperti Elon Musk, telah menjadi bagian dari struktur kekuasaan baru di atas panggung internasional.
Kesimpulan yang mulai terbentuk di benak Cupin adalah: konflik antarnegara kini tak bisa dilepaskan dari dinamika kekuasaan para pemilik platform. Perang narasi digital tak lagi hanya soal negara, tapi juga tentang siapa yang menguasai ruang bicara. (A43)