SBY Effect: Jalan RI-2 AHY?

sby-effect:-jalan-ri-2-ahy?
SBY Effect: Jalan RI-2 AHY?
Share

Share This Post

or copy the link

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu, kerinduan terhadap era SBY kembali mencuat di media sosial. Apakah nostalgia ini sekadar romantisasi masa lalu, atau justru pertanda arah baru dalam politik Indonesia?


PinterPolitik.com

“Nostalgia restoratif menuntun pada rekonstruksi masa lalu yang mitis; nostalgia reflektif menuntun pada perenungan tentang ingatan yang tidak pernah lengkap.” – Svetlana Boym dalam The Future of Nostalgia (2001)

Cupin baru saja pulang kerja ketika ia membuka media sosial sambil selonjoran di sofa. Tak sengaja, ia menemukan sebuah video TikTok berisi kompilasi berita lawas: harga BBM murah, kurs rupiah stabil, dan senyum khas Presiden SBY saat konferensi pers.

Scroll demi scroll, konten bernuansa nostalgia era kepemimpinan SBY terus berdatangan. Di kolom komentar, warganet menyebut masa itu sebagai “era cari duit gampang,” bahkan ada yang mengaku rindu masa bisa beli rumah dengan gaji tetap.

Tak hanya video nostalgia, ada juga unggahan grafis yang membandingkan pertumbuhan IHSG antar-presiden. Angka pertumbuhan 500% di era SBY membuat banyak orang terkejut, apalagi jika dibandingkan dengan Soeharto yang “hanya” 345%.

Cupin mulai mengingat kembali masa-masa saat ibunya bisa membuka usaha kecil dan menabung setiap bulan. Di saat yang sama, ia membandingkan dengan kini—teman-temannya banyak yang struggling, bahkan yang bergelar sarjana sekalipun.

Seseorang di Twitter menulis: “SBY bukan cuma puitis, tapi juga bikin ekonomi manis.” Cupin tersenyum geli, tapi tak bisa membantah bahwa narasi itu mulai terasa relevan di tengah situasi sekarang.

Semakin banyak yang mengidealkan masa lalu, semakin kuat pula gelombang nostalgia kolektif yang terbentuk. Bahkan, beberapa akun mulai memunculkan tagar-tagar politik yang berkaitan dengan Presiden SBY.

Cupin menatap layar ponselnya, termenung. Mengapa kini semua merindukan era SBY? Mungkinkah nostalgia ini punya konsekuensi politis di masa depan?

Era SBY: Sebuah Nostalgia Reflektif?

Cupin sedang membaca sambil mendengarkan hujan sore ketika ia menemukan kutipan menarik dari The Future of Nostalgia karya Svetlana Boym. Dalam buku itu, Boym membagi nostalgia menjadi dua jenis: reflektif dan restoratif.

Nostalgia restoratif, tulis Boym, berusaha mengembalikan masa lalu seutuhnya—utopis, konkret, bahkan politis. Sementara nostalgia reflektif lebih bersifat personal, merenungkan masa lalu tanpa perlu mengulangnya secara utuh.

Cupin teringat betapa seringnya ia melihat unggahan tentang era Presiden SBY belakangan ini. Video harga bensin Rp4.500 dan musik era 2000-an muncul beriringan dengan komentar, “Zaman cari kerja gampang.”

Bila mengikuti kerangka Boym, kerinduan terhadap era SBY ini tampaknya lebih mencerminkan nostalgia reflektif. Orang-orang tidak benar-benar ingin kembali ke tahun 2009, tetapi mereka merindukan perasaan aman, stabil, dan penuh harapan yang dulu pernah mereka rasakan.

Cupin merenung: kerinduan ini muncul di tengah kondisi ekonomi yang sulit, harga kebutuhan pokok naik, dan ketidakpastian kerja yang tinggi. Mungkin karena itu, era SBY yang dulu terlihat biasa saja, kini dikenang sebagai masa yang ideal.

Namun, bukan berarti nostalgia reflektif tak punya dampak nyata. Ketika perasaan ini dibagikan secara kolektif dan terus-menerus digaungkan, ia bisa berubah menjadi narasi politik yang kuat.

Cupin menutup bukunya dan menatap layar ponselnya yang masih menyala, menampilkan meme era SBY lengkap dengan lagu D’Masiv di latar. Lantas, bila memang sebagian masyarakat merindukan era SBY, mungkinkah ini akan berdampak terhadap dinamika politik ke depan?

Menuju Nostalgia Restoratif: SBY Effect untuk AHY?

Cupin kembali membuka catatan tentang The Future of Nostalgia karya Svetlana Boym. Ia menemukan satu gagasan menarik: nostalgia reflektif bisa berubah menjadi nostalgia restoratif ketika kerinduan itu mulai mencari bentuk konkret dalam realitas politik.

Awalnya, nostalgia reflektif hanya sebatas kenangan dan perasaan hangat tentang masa lalu. Namun, ketika kerinduan itu dibingkai ulang oleh narasi politik, ia bisa berubah menjadi dorongan restoratif yang ingin menghidupkan kembali “kejayaan” masa silam.

Dalam konteks Indonesia, kerinduan pada era SBY bisa saja mulai bergerak ke arah itu. Terlebih ketika figur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)—putra SBY—kini menempati posisi penting sebagai Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan dalam kabinet Prabowo Subianto.

Nama AHY pun mulai kembali dibicarakan dalam ruang-ruang politik sebagai calon wakil presiden potensial untuk Prabowo di Pilpres 2029. Dengan posisi strategis dan warisan nama besar ayahnya, AHY berada dalam jalur politik yang sangat terbuka.

Cupin melihat bahwa nostalgia era SBY tidak hanya berhenti pada soal ekonomi atau stabilitas sosial. Ia kini menjadi bagian dari kapital politik yang dapat dimobilisasi, khususnya oleh Partai Demokrat dan pendukung SBY.

Jika tren ini berlanjut, nostalgia reflektif bisa menjadi kendaraan restoratif bagi aktor-aktor politik yang ingin menghidupkan kembali nilai-nilai atau simbol kejayaan masa lalu. Dalam hal ini, nama SBY menjadi lebih dari sekadar kenangan—ia menjadi harapan baru.

Cupin menulis catatan kecil di bukunya: ketika nostalgia berubah menjadi arah politik, siapa pun yang mewarisi memori itu bisa saja mendapat momentum. Dan mungkin, itulah yang sedang dialami AHY hari ini. (A43)


0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
SBY Effect: Jalan RI-2 AHY?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy Astaga! privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us