Dengarkan artikel ini:
Di tengah perseteruannya dengan Presiden Trump, Elon Musk mendapatkan dukungan dari netizen Tiongkok. Nyatanya Musk memang cukup dekat dengan Tiongkok – hubungan yang juga diwarnai oleh relasi positif antara sang ibu, Maye Musk, dengan Negeri Panda itu.
Gejolak politik di Amerika Serikat belakangan ini kian menarik perhatian dunia, tak terkecuali pernyataan kontroversial dari salah satu inovator terkemuka, Elon Musk. Perseteruannya dengan Presiden Donald Trump, yang memuncak dengan wacana dirinya terkait pendirian “Partai Amerika” – partasi baru saingan Demokrat dan Republik – sebagai bentuk kritik terhadap pengesahan Rancangan Undang-Undang Pajak dan Belanja oleh Senat AS, tak hanya menggaung di tanah Paman Sam, tetapi juga meresonansi kuat hingga ke Tiongkok.
Ya, di Tiongkok, pernyataan Musk ini menjadi viral, mengundang gelombang dukungan dari netizen Negeri Tirai Bambu. “Brother Musk, ada lebih dari 1 miliar orang di pihak kita yang mendukungmu,” demikian salah satu komentar yang mencerminkan sentimen populer di sana.
Fenomena ini sejatinya bukanlah hal yang mengejutkan. Hubungan Elon Musk dengan Tiongkok memang terbilang sangat mesra, bahkan bisa dibilang jauh lebih baik dibandingkan dengan para pebisnis teknologi Barat lainnya.
Ia adalah sosok yang sangat populer di negara tersebut, sejajar dengan ikon teknologi lain seperti Steve Jobs, yang sama-sama dihormati karena dianggap brilian di bidangnya. Bukti popularitasnya terlihat dari penjualan buku biografi Musk yang ditulis Walter Isaacson, yang menjadi salah satu best-seller di Tiongkok. Kedekatan ini tak hanya sebatas popularitas individual, tetapi juga ditopang oleh relasi bisnis dan personal yang mendalam.
Salah satu pilar utama kedekatan ini adalah hubungannya dengan Perdana Menteri Tiongkok, Li Qiang. Relasi ini bisa ditarik kembali ke tahun 2019, ketika Li Qiang masih menjabat sebagai sekretaris Partai Komunis Tiongkok untuk Shanghai.
Tahun itu menjadi momen bersejarah bagi Tesla, karena mereka membuka pabrik luar AS pertama dalam sejarah perusahaan di Shanghai. Pabrik ini, yang kini menjadi fasilitas produksi Tesla terbesar di dunia dari sisi output, dibangun dengan sokongan pinjaman senilai US$521 juta atau sekitar Rp8,4 triliun dari bank milik pemerintah Tiongkok. Pertemuan-pertemuan rutin antara Musk dan Li Qiang, baik di Tiongkok maupun di AS, semakin mengukuhkan ikatan personal dan profesional mereka.
Namun, di tengah segala intrik geopolitik dan bisnis ini, ada satu elemen yang mungkin luput dari perhatian banyak pihak, namun memiliki peran tak kalah vital dalam membentuk citra positif Elon Musk di Tiongkok: sosok ibunya, Maye Musk.
Maye, seorang model senior berusia 77 tahun yang masih aktif, hampir setiap bulan melancong ke Tiongkok untuk berbagai acara fashion. Ia tidak hanya sekadar seorang ibu dari inovator terkenal, tetapi juga influencer dengan jutaan pengikut di berbagai platform media sosial Tiongkok, termasuk 577 ribu pengikut di platform Xiaohongshu – medsos mirip Instagram di Tiongkok.
Maye secara konsisten melontarkan pujian atas kemajuan Tiongkok, sebuah sentimen yang tentu saja sangat disukai dan diterima dengan baik oleh publik setempat. Pertanyaannya kemudian, seberapa besar personal branding Maye Musk ini bisa ikut memengaruhi dan menjadi “senjata” dalam menjaga citra serta kepentingan Elon Musk di Tiongkok?
Soft Power Maye
Untuk memahami bagaimana popularitas Maye Musk bisa menjadi instrumen strategis dalam diplomasi soft power dan personal branding Elon Musk di Tiongkok, kita dapat merujuk pada beberapa teori komunikasi dan hubungan internasional. Analisis ini akan membantu kita melihat lebih jauh dari sekadar fenomena permukaan.
Pertama, ada teori persuasi peripheral route dari Petty dan Cacioppo yang menawarkan kerangka kerja yang relevan. Teori ini menyatakan bahwa audiens dapat dipengaruhi oleh isyarat-isyarat peripheral yang tidak terkait langsung dengan argumen inti, terutama ketika mereka tidak memiliki motivasi atau kemampuan untuk memproses informasi secara mendalam.
Dalam konteks ini, popularitas dan citra positif Maye Musk di Tiongkok bertindak sebagai isyarat peripheral. Ketika Maye, sebagai figur publik yang dihormati dan dicintai, secara konsisten memuji Tiongkok dan berinteraksi positif dengan budayanya, hal ini menciptakan asosiasi positif secara tidak langsung terhadap keluarganya, termasuk Elon Musk.
Masyarakat Tiongkok mungkin tidak secara langsung menganalisis setiap detail bisnis atau politik Elon, tetapi citra positif dari sosok ibunya yang ramah dan mengapresiasi Tiongkok dapat memengaruhi persepsi mereka terhadap Elon secara keseluruhan.
Profesor Nancy Snow, seorang ahli public diplomacy dan soft power, sering menekankan bagaimana cultural figures dan individu dapat melampaui batas-batas politik formal untuk membangun jembatan pemahaman antarnegara. Maye Musk, dengan profesinya sebagai model dan kehadirannya yang konsisten, secara efektif menjadi “duta budaya” informal.
Kedua, adan teori penanaman (cultivation theory) yang dikembangkan oleh George Gerbner dan juga memberikan wawasan menarik. Meskipun teori ini umumnya diterapkan pada dampak paparan media jangka panjang, prinsip-prinsipnya dapat diperluas ke eksposur berkelanjutan terhadap citra dan narasi tertentu.
Jika masyarakat Tiongkok secara terus-menerus melihat Maye Musk hadir di acara-acara fashion yang glamor, mengucapkan pujian tulus tentang Tiongkok, dan berinteraksi positif dengan penggemarnya, hal ini dapat secara bertahap “menanamkan” pandangan yang lebih positif tentang keluarga Musk dan secara ekstensi, perusahaan-perusahaan mereka.
Narasi positif yang dibangun Maye secara konsisten ini dapat membentuk persepsi publik tentang Elon Musk sebagai pribadi yang tidak hanya brilian, tetapi juga memiliki ikatan dan penghargaan terhadap Tiongkok, yang berbeda dari narasi negatif yang mungkin muncul dari media Barat. Scholar seperti Douglas Kellner, yang banyak menulis tentang budaya media dan kekuatan simbolik, akan berargumen bahwa representasi yang berulang-ulang, meskipun tidak disengaja, dapat membangun narasi yang kuat di benak publik.
Ketiga, kita bisa melihat dari perspektif teori relasi publik dan kredibilitas sumber. Dalam komunikasi strategis, kredibilitas sumber sangat penting untuk efektivitas pesan. Maye Musk, dengan usianya yang matang, latar belakang sebagai model internasional, dan kehadiran yang otentik, memancarkan aura kredibilitas dan kehangatan.
Ketika ia memuji Tiongkok, pujian itu tidak terdengar seperti pernyataan politis yang kaku, melainkan ekspresi personal dari seseorang yang menikmati dan menghargai pengalaman budayanya. Ini berbeda dengan jika pujian tersebut datang langsung dari Elon Musk yang mungkin akan dicurigai memiliki motif bisnis. Dalam konteks budaya Tiongkok yang menghargai keluarga dan hubungan personal, kehadiran dan popularitas Maye dapat membangun jembatan emosional dan kepercayaan yang sulit dicapai melalui jalur diplomatik atau bisnis formal semata.
Profesor Robert Cialdini, dalam karyanya tentang prinsip-prinsip persuasi, menggarisbawahi pentingnya “liking” dan “authority” dalam memengaruhi orang. Maye Musk, dengan kepribadiannya yang disukai dan statusnya sebagai figur publik yang dihormati, secara efektif memanfaatkan kedua prinsip ini untuk kepentingan branding keluarganya.
Simbiosis Soft Power dan Kepentingan Bisnis
Popularitas Maye Musk di Tiongkok bukanlah sekadar fenomena sampingan dari ketenaran anaknya. Sebaliknya, hal ini dapat dianalisis sebagai sebuah simbiosis yang cerdas dan efektif antara soft power personal dan kepentingan bisnis. Elon Musk, melalui perusahaannya seperti Tesla, memiliki investasi besar dan ketergantungan yang signifikan terhadap pasar dan rantai pasokan Tiongkok. Oleh karena itu, menjaga citra positif dan hubungan baik dengan Tiongkok adalah hal yang krusial.
Personal branding Maye Musk, secara tidak langsung, berfungsi sebagai lapisan pelindung dan penguat bagi citra Elon Musk di Tiongkok. Lebih lanjut, relasi personal antara Elon Musk dan Perdana Menteri Li Qiang, ditambah dengan peran Maye Musk sebagai “duta budaya” informal, menciptakan sebuah jaringan pengaruh yang multidimensional. Ini bukan hanya tentang lobi politik atau kesepakatan bisnis; ini tentang membangun hubungan yang didasari pada kepercayaan, penghormatan, dan pemahaman budaya.
Di tengah lingkungan geopolitik yang semakin kompleks, di mana teknologi dan inovasi seringkali menjadi medan persaingan, memiliki “kartu truf” seperti popularitas Maye Musk bisa menjadi aset yang sangat berharga.
Tentu saja, ini bukan berarti Maye Musk adalah agen politik yang disengaja. Kemungkinan besar, popularitas dan interaksinya dengan Tiongkok adalah ekspresi tulus dari ketertarikannya terhadap budaya tersebut. Namun, dalam dunia hubungan internasional dan public relations yang serba terhubung, setiap interaksi figur publik dapat memiliki implikasi yang luas. Dalam kasus Maye Musk, interaksi tulusnya justru menjadi kekuatan yang lebih dahsyat karena terasa otentik dan tidak bermotif tersembunyi.
Pada akhirnya, fenomena Maye Musk ini menunjukkan bagaimana personal branding dan soft power dapat beroperasi di tingkat yang sangat pribadi, namun dengan dampak yang signifikan pada arena global. Hubungan Elon Musk dengan Tiongkok adalah sebuah studi kasus yang menarik tentang bagaimana seorang pemimpin bisnis global memanfaatkan berbagai sumber daya, termasuk hubungan personal dan citra keluarga, untuk menavigasi lanskap geopolitik yang rumit dan menjaga kepentingan bisnisnya.
Maye Musk, tanpa disadari atau tidak, telah menjadi senjata soft power yang sangat efektif dalam “diplomasi” Elon Musk di Tiongkok, menjaga agar “Brother Musk” tetap dicintai oleh lebih dari satu miliar orang di Negeri Tirai Bambu. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)