Dengarkan artikel ini:
Eddie Lembong, peracik obat yang meracik pula persatuan bangsa. Bagaimana sosok dari Tinombo ini menjembatani bisnis, identitas, dan sejarah?
“Putra kelahiran Tinombo, Sulawesi Tengah ini adalah figur yg selalu memikirkan dan bekerja keras untuk menguatkan semangat kebangsaan.” – @aniesbaswedan di Instagram (5/11/2017)
Tinombo, sebuah desa kecil di pesisir Sulawesi Tengah, mungkin tak pernah membayangkan akan melahirkan seorang anak yang kelak menjadi penyerbuk budaya bangsa. Eddie Lembong, lahir pada tahun 1936 di sana, tumbuh dalam suasana desa yang damai, namun jauh dari gemuruh kota dan dunia modern.
Ayahnya seorang guru desa, sementara ibunya mengurus rumah tangga dan menanamkan nilai kerja keras serta hormat kepada sesama. Sejak kecil, Eddie akrab dengan buku dan sering terlihat duduk bersila di bawah pohon dengan bacaan tua yang diwariskan dari sang ayah.
Tahun 1957, Eddie meninggalkan Tinombo untuk kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), jurusan Farmasi. Masa itu, Indonesia masih muda dan banyak anak desa seperti Eddie datang ke kota besar dengan semangat belajar tinggi dan kantong pas-pasan.
Di kampus, Eddie cepat dikenal bukan hanya karena kecerdasannya, tapi juga karena kepekaannya terhadap kebutuhan teman-temannya. Satu hari, ketika melihat banyak temannya kesulitan mengakses buku pelajaran farmasi yang langka dan mahal, ia meminjam buku dari dosen dan mulai menggandakannya sendiri.
Diktat-diktat hasil ketikan dan penggandaan sederhana itu diedarkan ke teman-teman seangkatannya—murah, tapi sangat membantu. Bagi Eddie, ilmu bukanlah komoditas, melainkan tanggung jawab yang harus dibagi seluas mungkin.
Di sela kuliah, ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan, berdiskusi tentang masa depan bangsa, dan menumbuhkan idealisme. Dari situ, bibit awal nasionalisme yang inklusif dalam dirinya mulai tumbuh: bahwa semua warga Indonesia, tak peduli suku dan rasnya, harus punya hak yang sama untuk belajar, bekerja, dan dihormati.
Meracik Obat, Meracik Bangsa
Setelah lulus pada 1965, Eddie bekerja di industri farmasi, menyelami dari dekat realitas dunia obat-obatan Indonesia yang saat itu masih sangat tergantung pada impor. Tapi diam-diam, ia menyimpan cita-cita: mendirikan pabrik obat sendiri, yang tidak hanya kuat di bisnis, tapi juga berkontribusi pada ketahanan kesehatan nasional.
Pada 1971, cita-cita itu terwujud lewat pendirian PT Pharos Indonesia. Eddie memulai usaha ini dengan keyakinan bahwa obat berkualitas harus bisa diproduksi sendiri, dan bahwa Indonesia tak boleh selamanya menjadi pasar bagi obat asing.
Tiga tahun kemudian, pemerintah mulai membatasi impor obat jadi. Momen itu dimanfaatkan Eddie dengan penuh visi: Pharos bermitra dengan perusahaan global seperti Glaxo Wellcome untuk memproduksi secara lokal, tanpa kehilangan kendali nasional.
Ia tidak sekadar menjual obat—ia merancang ekosistem. Pada 1993, Eddie meluncurkan jaringan apotek Century, bukan hanya sebagai saluran distribusi, tetapi sebagai pusat edukasi farmasi langsung ke masyarakat.
Ketika seorang ibu bertanya kepada apoteker di Apotek Century, “Apa beda obat generik dan paten?”, Eddie ingin jawaban yang diberikan tak hanya akurat tapi juga memanusiakan. Dalam apoteknya, pelayanan adalah bagian dari pengabdian.
Ia juga aktif dalam organisasi profesi, seperti Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) dan GP Farmasi, mendorong standar mutu, etika profesi, dan kemandirian industri farmasi nasional. Tahun 1996, kontribusinya diakui lewat FAPA Ishidate Award, penghargaan tertinggi di bidang farmasi se-Asia Pasifik.
Namun jauh di dalam dirinya, masih ada keresahan yang tak bisa diselesaikan hanya lewat dunia farmasi: keresahan soal identitas, diskriminasi, dan luka sejarah yang dialami warga Tionghoa Indonesia—komunitas yang tak pernah lepas dari prasangka.
Penyerbukan dan Perjuangan Sang Lembong
Mei 1998. Asap, tangis, dan amarah membubung di langit Jakarta dan kota-kota lain. Eddie duduk diam di ruang kerjanya, menyaksikan di televisi bagaimana kerusuhan menargetkan toko-toko milik warga Tionghoa. Rasa sakit itu terlalu dalam untuk kata-kata.
Alih-alih mundur, Eddie bergerak. Pada 1999, ia ikut mendirikan Perhimpunan INTI (Indonesia Tionghoa), organisasi yang bertujuan membangun jembatan antara etnis Tionghoa dan Indonesia pada umumnya. Bagi Eddie, ini bukan soal membela satu kelompok, tapi menyatukan yang tercerai.
Satu hari, dalam sebuah diskusi di kampus, seorang mahasiswa bertanya, “Pak Eddie, kenapa Bapak masih repot urus soal identitas Tionghoa padahal Bapak sudah jadi orang sukses?” Eddie hanya tersenyum dan berkata, “Karena sukses pribadi tak akan pernah menutupi luka kolektif.”
Dari sana lahir juga gagasan Yayasan NABIL, yang mengusung konsep “Penyerbukan Silang Antarbudaya.” Eddie percaya bahwa Indonesia bukan sekadar tempat banyak budaya hidup berdampingan, tapi tempat budaya-budaya itu saling mengisi, seperti angin yang membantu bunga-bunga menyerbuk satu sama lain.
Ia menyukai istilah “penyerbukan silang”—karena baginya, bangsa besar tidak dibangun dari pemurnian, tapi dari percampuran yang kreatif dan damai. Dalam forum-forum NABIL, ia sering mengundang budayawan Batak, seniman Jawa, tokoh Dayak, dan pemikir Tionghoa untuk berdialog.
Tak hanya berhenti di forum, Eddie juga aktif mendorong pengakuan terhadap kontribusi anak bangsa lintas latar belakang. Ia termasuk tokoh utama yang mengusulkan agar Laksamana John Lie, seorang perwira TNI AL berdarah Tionghoa, diangkat sebagai Pahlawan Nasional.
Tak lama berselang, Eddie juga mengusulkan agar AR Baswedan, tokoh jurnalis, diplomat, dan pejuang kemerdekaan dari komunitas Arab-Indonesia, memperoleh gelar yang sama. Dalam pandangannya, keduanya mewakili semangat kebangsaan yang melampaui identitas asal, dan layak dikenang sebagai pemersatu.
Ketika banyak orang berbicara soal nasionalisme dengan nada marah, Eddie menyampaikannya lewat keteladanan dan bukti kerja. Ia meyakini bahwa bangsa ini hanya akan besar bila berani melihat sejarah dengan jujur dan memberi tempat bagi semua pejuang, tanpa terkecuali.
Buku biografinya Eddie Lembong: Mencintai Tanah Air Sepenuh Hati (Bonnie Triyana, 2011), mencatat dengan rinci pergulatan batin, cita-cita sosial, dan jalan sunyi Eddie dalam menyatukan dua dunia: dunia bisnis dan dunia aktivisme. Ia bukan orator lantang, tapi pejalan senyap yang tekun menanam benih.
Pada 2017, Eddie Lembong wafat dalam usia 81 tahun. Tapi warisannya masih hidup dalam setiap obat yang terjangkau, setiap forum lintas budaya, dan setiap warga Indonesia yang merasa diakui penuh sebagai bagian dari bangsa ini.
Seorang kawan dekat pernah mengenang, “Eddie itu seperti apoteker yang bukan hanya meracik obat untuk tubuh, tapi juga untuk luka-luka kebangsaan kita.” Kata-kata itu mungkin sederhana, tapi menggambarkan seluruh hidupnya.
Ia adalah pengusaha yang jujur, intelektual yang rendah hati, dan nasionalis yang memahami bahwa cinta tanah air bukan hanya soal tanah, tapi juga soal menghormati semua anak bangsa yang hidup di atasnya. Eddie Lembong telah pergi, tapi semangatnya terus menyerbuk di antara kita. (A43)