Dengarkan artikel ini:
Cucu dari Mohammad Hatta, Gustika Jusuf-Hatta, makin vokal mengkritik pemerintah lewat berbagai isu politik. Mungkinkah ini tanda kebangkitan trah Hatta di panggung nasional?
“Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata membela cita-cita.” – Mohammad Hatta
Cupin masih ingat bagaimana linimasa media sosial pada 17 Agustus itu mendadak riuh oleh satu unggahan sederhana. Di layar ponselnya, ia melihat Gustika Jusuf-Hatta mengenakan kebaya hitam dipadukan batik soblog, lalu menuliskan kalimat singkat yang membuatnya berhenti sejenak.
“Walau bukan Kamisan, pagi ini aku memilih kebaya hitam yang sengaja kupadukan dengan batik soblog…,” tulis Gustika. Cupin mengernyit, bukan karena heran pada busana itu, tapi pada pilihan kata yang terdengar lebih seperti refleksi sejarah daripada sekadar caption perayaan.
Di sekelilingnya, orang-orang membicarakan pesta kembang api, parade, dan konser kemerdekaan. Namun unggahan Gustika terasa seperti suara dari ruang lain—sebuah simbol keprihatinan yang jauh dari hingar bingar seremonial. Cupin membatin, seolah ada pesan yang sengaja disampaikan lewat keheningan.
Bagi sebagian orang, unggahan itu hanya fashion statement. Tetapi bagi Cupin, ia membaca ulang simbol kebaya hitam itu sebagai tanda warisan sunyi, yakni warisan dari Bung Hatta yang tak pernah mengandalkan retorika keras, melainkan refleksi tenang.
Sejak saat itu, Cupin mulai berpikir tentang istilah “trah Hatta” yang muncul dalam diskusi publik. Kata “trah” di Indonesia biasanya lekat dengan dinasti politik, tetapi dalam konteks Hatta, ia lebih terdengar seperti jalan intelektual yang jauh dari kursi kekuasaan.
Cupin kemudian teringat bahwa Hatta, sang wakil presiden pertama, pernah menulis panjang lebar tentang demokrasi kerakyatan, koperasi, dan pendidikan sebagai jalan bangsa. Mengacu pada buku Mohammad Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman dari Tempo, warisan terbesar Hatta adalah rasionalisme, bukan agitasi.
Namun, ketika Cupin melihat ke realitas politik kini, ia sadar betapa sunyinya gaung trah Hatta. Di saat trah politik lain tampil dengan mobilisasi besar-besaran, keturunan Hatta justru memilih berada di tepian, lebih sebagai simbol refleksi ketimbang pelaku politik aktif.
Pertanyaan pun mulai menggema dalam pikiran Cupin: mengapa warisan sebesar itu terasa tak berdaya di tengah politik yang riuh oleh figur karismatik? Apakah gagasan Bung Hatta masih punya ruang untuk relevan, atau justru makin terkikis oleh pragmatisme politik hari ini?
Menanti “Kebangkitan” Trah Hatta
Cupin lalu membuka kembali catatan sejarah. Ia membaca Indonesia Today: Challenges of History karya Grayson Lloyd dan Shannon Smith, yang menjelaskan bagaimana dinasti politik di Indonesia bertahan karena mampu menggabungkan figur dengan mobilisasi massa.
Contoh paling gamblang adalah trah Soekarno. Ketika Soekarno dibuang Belanda pada 1933, ia tetap menulis, berkomunikasi, dan membangun tradisi agitasi. Putrinya, Megawati Soekarnoputri, melanjutkan warisan ini hingga menjadi Presiden RI kelima sekaligus pemimpin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Cupin tersenyum getir saat membaca jurnal Power Networks of Political Families in Southeast Asia: The Enduring Dynastic Influence in Democratic Contexts oleh Rahmad Hidayat. Di sana ditegaskan, dinasti politik bukan sekadar mempertahankan nama besar, tetapi juga menciptakan basis legitimasi yang efektif lewat loyalitas publik.
Lalu ada trah Soeharto. Anak-anaknya, seperti Tommy dan Titiek, memang tak pernah sesukses Megawati, tetapi jejak mereka di arena politik tetap jelas. Trah ini cenderung pragmatis, menggunakan kekuatan jejaring dan modal ekonomi untuk tetap relevan.
Namun, di titik inilah Cupin menemukan perbedaan besar. Trah Hatta tak memiliki tradisi agitasi atau manuver politik yang masif. Bung Hatta, bersama Sutan Sjahrir, menandai era politik yang berbasis pendidikan dan rasionalitas, sebagaimana dijelaskan Rudolf Mrázek dalam buku Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia.
Cupin merasa jalan sunyi itu membuat trah Hatta sulit menanamkan akar dalam politik elektoral. Bahkan, keturunan biologis Hatta seperti Gustika lebih memilih jalur aktivisme intelektual ketimbang kontestasi praktis.
Bagi Cupin, inilah yang membuat trah Hatta berbeda. Mereka bukan pewaris massa, melainkan pewaris gagasan. Namun, justru karena itulah mereka rentan diklaim pihak luar, dari Sandiaga Uno, Muhaimin Iskandar, hingga Anies Baswedan, yang mana kerap mencomot gagasan Hatta untuk kepentingan politik masing-masing.
Fenomena ini membuat Cupin terdiam lama. Ia bertanya-tanya, jika gagasan Hatta bisa diklaim siapa saja, apa artinya trah biologis dalam konteks politik Indonesia? Bukankah trah tanpa mobilisasi massa akan mudah larut dalam riuh suara politik yang serba pragmatis?
“Hatta is Hatta. You are you…”
Cupin mulai menyadari bahwa trah Hatta lebih mirip dengan “trah gagasan” ketimbang “trah biologis”. Mereka adalah penjaga simbol dan refleksi, bukan perebut panggung politik. Bahkan Gustika pernah berkata, “Hatta is Hatta, you is you. I’m a Hatta but I ain’t Bung Hatta,” seolah menegaskan bahwa setiap generasi harus menemukan suaranya sendiri.
Buku Mohammad Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman kembali meneguhkan hal itu. Hatta dikenang bukan karena menciptakan dinasti keluarga, melainkan karena menanamkan ideologi ekonomi kerakyatan, koperasi, dan demokrasi berbasis pendidikan.
Cupin lalu membayangkan sebuah skenario alternatif. Bagaimana jika suatu hari lahir partai politik berbasis ide Hatta, yakni partai yang mengusung ekonomi rakyat, demokrasi deliberatif, dan pendidikan progresif?
Namun, Cupin segera ingat bahwa sistem politik Indonesia sangat kompetitif dan figur-sentris. Tanpa tokoh karismatik, gagasan sebesar apa pun sulit menggerakkan massa. Edward Aspinall dan Ward Berenschit dalam buku mereka Democracy for Sale: Elections, Clientelism, and the State in Indonesia menyebutkan bahwa kelemahan utama demokrasi Indonesia adalah dominasi pragmatisme jangka pendek.
Cupin pun termenung. Ia sadar bahwa tanpa figur sentral, trah Hatta hampir mustahil menjadi kekuatan elektoral. Yang tersisa hanyalah jejak gagasan, simbol moral, dan refleksi sunyi yang tetap relevan bagi mereka yang mencari alternatif di luar hiruk-pikuk politik praktis.
Di titik inilah Cupin merasa bahwa “kebangkitan” trah Hatta bukanlah soal kegagalan, melainkan konsekuensi dari pilihan jalan. Mereka memang tak lahir untuk merebut kekuasaan, tetapi untuk mengingatkan bahwa politik seharusnya tak pernah tercerabut dari akal sehat dan nilai-nilai kerakyatan.
Mungkin suara mereka tak akan pernah menjadi arus utama. Tetapi di tengah dunia politik yang riuh, keheningan itulah yang bisa jadi pengingat paling keras: bahwa bangsa ini pernah dibangun di atas gagasan, bukan sekadar nama besar dan loyalitas massa.
Di penghujung refleksinya, Cupin berbisik lirih: “Mungkin memang begini cara Hatta tetap ada. Tidak lewat nama besar keturunannya, tetapi lewat gagasan yang diam-diam selalu hadir di setiap generasi.” (A43)