Audio ini dibuat dengan teknologi AI.
Selain sering menjadi peringatan dari Presiden Prabowo, kutipan Thucydides juga merupakan salah satu perkataan paling terkenal bagi pemerhati geopolitik. Mengapa demikian?
Ketika Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato di Sidang Majelis Umum PBB, perhatian banyak pihak justru tertuju pada kutipan klasik yang ia bawa dari seorang sejarawan Yunani kuno: Thucydides. Kalimat yang kerap muncul dalam literatur hubungan internasional itu berbunyi, “The strong do what they can, the weak suffer what they must.”
Dalam sejarahnya, kutipan tersebut menjadi salah satu refleksi paling tajam mengenai realitas politik dunia. Ia menggambarkan sebuah tatanan internasional yang digerakkan oleh kekuasaan, bukan moralitas. Tidak sedikit pemimpin dunia yang pernah mengutip Thucydides untuk menekankan pahitnya logika kekuatan dalam hubungan antarnegara.
Namun menariknya, Presiden Prabowo mengambil posisi berbeda. Alih-alih menerima logika klasik itu sebagai kebenaran, ia menolaknya secara terbuka. Baginya, kekuatan dan kelemahan bukanlah alasan untuk mendominasi. Semua bangsa, besar maupun kecil, memiliki hak yang sama untuk berdiri sejajar.
Sikap ini tentu mengundang perhatian. Siapa sebenarnya Thucydides, dan mengapa Prabowo selalu menegaskan untuk menolak doktrin yang disinggungnya?

Thucydides dan Realisme
Thucydides adalah sejarawan Yunani kuno dari abad ke-5 SM. Karyanya yang monumental, History of the Peloponnesian War, bukan sekadar catatan perang antara Athena dan Sparta, melainkan juga cikal bakal lahirnya teori realisme dalam hubungan internasional.
Berbeda dari penulis-penulis zamannya yang masih kental dengan mitos dan intervensi dewa, Thucydides menekankan logika kekuasaan. Ia berusaha menjelaskan perilaku negara dengan rasionalitas: siapa yang kuat akan menentukan aturan, sementara yang lemah harus menerima konsekuensinya.
Kutipan yang paling terkenal, yang kini sering dikutip maupun diperdebatkan, muncul dalam Melian Dialogue. Dalam episode itu, Athena memaksa pulau kecil Melos untuk menyerah. Argumen Athena jelas: demi bertahan hidup, Melos tidak punya pilihan selain tunduk pada kekuatan yang lebih besar. Melos menolak, dan akhirnya mengalami kehancuran.
Dari peristiwa inilah lahir rumusan klasik realisme: politik internasional bukanlah arena moralitas, melainkan arena kekuasaan. Selama berabad-abad, pandangan ini mewarnai teori maupun praktik politik global—mulai dari keseimbangan kekuatan di Eropa abad pertengahan, politik kolonial, hingga dinamika Perang Dingin.
Dengan latar belakang demikian, menarik melihat bagaimana Presiden Prabowo merespons warisan Thucydides. Ia tidak menafikan bahwa realitas dunia diwarnai oleh ketimpangan kekuasaan. Namun ia menolak menerima kesimpulan fatalistik bahwa yang kuat selalu berhak menindas yang lemah.
Prabowo justru menekankan bahwa bangsa-bangsa harus mencari titik sejajar: saling melindungi, bukan saling menekan. Pandangan ini sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif, sekaligus memperlihatkan tafsir modern atas realisme klasik. Jika Thucydides adalah simbol kekerasan logika kekuasaan, maka Prabowo ingin menghadirkan wajah alternatif: realisme yang tetap berakar pada keadilan.
Secara teoretis, pendekatan ini dapat disebut sebagai realisme normatif. Ia mengakui fakta adanya perbedaan kekuatan, tetapi mendorong pembentukan norma dan institusi agar kekuatan tidak berkembang menjadi dominasi tanpa batas. Inilah yang melahirkan keberadaan hukum internasional, organisasi multilateral, dan berbagai mekanisme kolektif untuk mengurangi kesewenang-wenangan negara besar terhadap negara kecil.
Pidato Prabowo datang pada saat dunia tengah menghadapi ketegangan baru: rivalitas Amerika Serikat–Tiongkok, perang Rusia–Ukraina, hingga dinamika di Timur Tengah. Dalam situasi seperti ini, logika Thucydides seakan menemukan kembali relevansinya. Banyak pihak percaya bahwa sejarah akan berulang: kekuatan besar kembali menekan yang kecil, sementara hukum internasional kerap tak berdaya.
Namun di sinilah tafsir ulang Prabowo menjadi signifikan. Dengan tegas ia menolak pesimisme sejarah. Indonesia, sebagai negara berkembang dengan posisi strategis, memilih untuk menghadirkan narasi tandingan. Pesan ini jelas: kekuatan tidak boleh menjadi pembenar bagi penindasan, dan bangsa-bangsa harus terus membangun mekanisme kolektif untuk menahan godaan dominasi.
Dalam kacamata geopolitik, sikap Prabowo sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai penyeimbang (balancer). Negara ini tidak masuk dalam orbit kekuatan besar mana pun, tetapi juga tidak bersikap pasif. Ia berusaha menghadirkan alternatif bagi dunia yang cenderung terbelah. Dengan mengutip Thucydides dan menolak logikanya, Prabowo tidak hanya merefleksikan sejarah, tetapi juga menawarkan visi politik luar negeri Indonesia yang lebih progresif.

Beyond Thucydides
Mengutip Thucydides di forum internasional tentu bukan sekadar retorika. Ia adalah pernyataan politik yang sarat makna. Di satu sisi, Prabowo mengakui bahwa politik global sering berjalan mengikuti logika kekuasaan. Namun di sisi lain, ia ingin menegaskan bahwa Indonesia tidak akan menyerah pada logika itu.
Dengan menolak doktrin klasik Thucydides, Prabowo menempatkan Indonesia sebagai aktor yang memperjuangkan kesetaraan dan keadilan global. Sikap ini konsisten dengan prinsip bebas-aktif, tetapi juga menambahkan dimensi moral baru: keberanian untuk membantah narasi yang sudah mapan.
Dalam konteks lebih luas, langkah ini memberi dua pesan. Pertama, kepada dunia internasional: Indonesia ingin berperan sebagai penyeimbang, bukan pengikut buta kekuatan besar. Kedua, kepada masyarakat domestik: Presiden memiliki kesadaran geopolitik yang dalam, dan mampu menerjemahkannya menjadi visi moral bagi bangsa.
Pada akhirnya, Thucydides memang akan selalu dikenang sebagai sejarawan yang menunjukkan wajah paling keras dari politik dunia. Tetapi Prabowo memilih jalur berbeda: menafsirkan ulang warisan itu sebagai peringatan, bukan sebagai dogma. Dari titik inilah muncul harapan bahwa Indonesia dapat menjadi contoh nyata bagaimana sebuah negara, meski tidak selalu menjadi yang terkuat, tetap mampu menegakkan martabat dan keadilan.
Jika Thucydides memberi dunia pelajaran tentang bahaya dominasi, maka Prabowo menawarkan jawaban tentang bagaimana seharusnya bangsa-bangsa bersikap: saling melindungi, saling menghargai, dan berdiri sejajar. Sebuah pesan yang sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya, ia punya daya gemakan yang panjang dalam geopolitik dunia. (D74)