● Industri media Tanah Air khususnya cetak amat suram beberapa waktu terakhir.
● Minat baca Gen Z tidak berkurang, tapi hanya berpindah media dan format.
● Media cetak perlu beradaptasi dalam pengemasan yang sesuai minat Gen Z.
Surat kabar atau koran cetak masih ada di Indonesia, tapi kondisi mereka di era digital ini seperti “hidup segan, mati pun tak mau”.
Bila dibandingkan angka populasi melek huruf yang mencapai 95% untuk kategori orang 15 tahun keatas, jumlah oplah koran sebesar 2,4 juta per tahun 2024 sangatlah kecil.
Melansir Serikat Perusahaan Pers (SPS), lebih dari 190 media cetak berhenti produksi sejak tahun pandemi. Angka ini termasuk tabloid, majalah, dan terbitan lokal.

Bisnis media cetak terpukul akibat menurunnya jumlah pembaca, anjloknya perolehan iklan, dan melambungnya harga kertas. Surat kabar terakhir yang menghentikan cetaknya adalah Koran SINDO per April 2023.
Padahal keberadaan surat kabar di Indonesia sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Di Nusantara (sebelum bernama Indonesia), surat kabar pertama terbit pada tahun 1744 bernama Bataviasche Nouvelles.
Surat kabar bermunculan pesat ketika Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP)—izin penerbitan yang rumit era Orde Baru—dihapus pada 1999.
Read more: Benarkah pendidikan jurnalisme sudah tak relevan dengan perkembangan media digital?
Kini, mayoritas pelanggan koran cetak adalah institusi pemerintah dan institusi formal lain, perusahaan swasta, lembaga laba maupun nirlaba, organisasi kemasyarakatan dan komunitas. Sebagian lagi adalah pembaca milenial yang masih menjaga tradisi koran dan romantisme membaca halaman kertas.
Bagaimana masa depan industri surat kabar nasional yang berada di ujung tanduk usai berdarah-darah lebih dari 2 dekade terakhir. Akankah generasi penerus bisa menghidupi kembali industri ini?
Menaruh harapan pada generasi ‘tech savvy’
Banyak survei menunjukkkan Gen Z mengakses informasi melalui media sosial, sebagai paparan berita secara tak sengaja.
Salah satunya adalah survei IDN Media pada 2022. Survei tersebut mengungkap konsumsi koran cetak para kawula muda hanya 4%. Pun kalangan pembacanya terkonsentrasi di antara kelompok Gen Z yang lebih tua (usia 21 hingga 24 tahun).
Read more: Pentingnya dana jurnalisme publik untuk mengatasi muramnya pers Indonesia
Jika dilihat dari demografi ekonomi, Gen Z dari kelompok sosial ekonomi menengah ke bawah mengakses media digital (51%), dibandingkan dengan kalangan Gen Z menengah ke atas dan menengah (masing-masing 35% dan 41%).
Kelompok Gen Z menengah ke atas dan menengah juga masih membaca majalah, meski persentasenya lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan media digital dan koran. Ada kemungkinan majalah merupakan simbol status dan koneksi dibandingkan sumber informasi.
Meski demikian, ada secercah peluang dari generasi yang berjumlah 75 juta orang Gen Z. Yakni mereka di antaranya yang bergelar “skena”.
Peluang dari Zine yang sedang digandrungi
Skena adalah salah satu subkultur di kalangan anak muda yang terus berkembang. Kita bisa mengenali kekhasan mereka, yaitu kaum muda yang menyenangi musik indie dan hal-hal yang antimainstream alias di luar arustama.
Ciri yang tampak dari skena adalah gaya berpakaian yang tidak mengikuti fast fashion (sebagian justru terlihat vintage), nongkrong di ruang-ruang komunitas atau tempat independen berupa kafe yang unik, datang ke acara gigs, berkreasi secara mandiri (do it yourself/DIY), serta menghargai originalitas.
Lingkungan komunitas kreatif membuat kalangan skena umumnya kritis. Mereka peduli pada isu-isu lingkungan hidup, keberagaman gender, inklusivitas, kesehatan mental, dan isu penting seperti kapitalisme dan demokrasi.
Zine (publikasi independen dan tidak resmi) sebagai bagian budaya penerbitan DIY bersinggungan dengan skena. Zine menjadi alternatif untuk mengekspresikan identitas, seni, aktivisme, dan perlawanan. Kini bermunculan workshop zine dan komunitasnya yang digerakkan kalangan skena.
Read more: Pendidikan jurnalisme perlu dekolonisasi: Berorientasi pada publik, bukan industri
Skena yang mencerminkan semangat ekspresi kaum muda. Pencarian identitas Gen Z pun bisa menemukan rumahnya dengan membaca surat kabar.
Meski begitu, skena sebagai bagian dari budaya kontemporer ini terhitung “niche”, sehingga keputusan untuk terus menerbitkan koran cetak kembali kepada perusahaan pers.
Selain terus memelihara indepedensi, koran bisa memperbanyak porsi liputan constructive journalism atau jurnalisme konstruktif yang pemberitaannya berfokus pada solusi. Solusi yang dimaksud tidak melulu pendapat pakar, tetapi juga pendapat orang-orang yang berada di dalam cerita.
Sajian semacam itu bisa menjembatani gaya liputan langsung ala koran dan slow journalism yang biasa dilakukan awak majalah. Harapannya, hal tersebut makin mendekatkan media pada selera Gen Z skena, sehingga mereka melirik koran cetak dan merangkulnya sebagai bagian dari identitas antimainstream.
Berkaca dari geliat ulang kamera analog
Skena cenderung menentang nilai-nilai konvensional, dan sering kali memosisikan diri sebagai kultur tandingan yang menawarkan alternatif dari budaya arus utama yang dianggap terlalu komersial.
Penentangan tadi membuat mereka mengeksplorasi hal-hal baru yang tidak mereka alami ketika lahir hingga tumbuh besar. Di antaranya adalah fotografi analog yang menggeliat lagi karena munculnya jenis film seluloid baru—medium rekam untuk kamera analog.
Produsen Leica, Yashica, Pentax, dan Rollei, misalnya, memproduksi lagi kamera analog. Pun produsen Fujifilm: selain memproduksi instax (mirip Polaroid), mereka juga merilis kamera dengan gimik memiliki tombol layaknya kamera analog meski digital.

Dengan melihat fenomena yang ternyata telah bertahan lebih dari satu dekade terakhir ini, maka keyakinan konsumsi bacaan kertas di kalangan anak muda akan selalu ada.
Kuncinya: konten berita berkualitas
Surat kabar sering dianggap sebagai “kasta tertinggi” dalam pemberitaan . Jumlah tiras, distribusi yang luas, serta bukti fisik membuat surat kabar kerap dianggap menjadi sajian berita yang paling kredibel. Saking bisa dipercaya, banyak pembuktian administrasi menggunakan arsip cetakan koran.
Keberadaan bukti fisik tadi membuat berita ditulis secara hati-hati. Informasi diperiksa secara cermat sebelum sebuah kabar memutuskan penempatan berita dalam suatu edisi. Sementara ralat adalah keteledoran yang tercela, meski wajib dituliskan bila ditemukan kesalahan kemudian.
Read more: ‘Publisher’s rights’: meningkatkan atau menghambat jurnalisme berkualitas?
Surat kabar tidak mengejar kecepatan seperti media online, melainkan kedalaman dan (bila perlu) reportase yang eksklusif. Berita di surat kabar sering menjadi acuan pengambilan keputusan oleh pemangku kepentingan termasuk pemerintah.
Masalah dalam jurnalisme kita bukan hanya ‘relevansi dengan teknologi’ ataupun selera pasar. Melainkan kehilangan fungsi pembebasannya baik di dalam pengembangan pengetahuan maupun praktiknya.
Oleh karena itu, koran harus terus memegang teguh idealisme jurnalisme dengan harus berani mengedepankan kepentingan publik, alih-alih yang berkuasa, berkata ‘tidak’ pada kepentingan siapapun. Jika ramuan konten koran sudah relevan dan dipercaya pembaca, koran bisa melihat ulang cara pengemasannya.