Dengarkan artikel ini:
Tayangan Doraemon resmi dihentikan di TV nasional. Apakah ini pertanda kita harus berhenti berharap pada “jalan pintas” politik ala Gibran?
“Apa kamu selamanya akan terus bergantung padaku? Kalau terus begitu, matamu tidak akan terbuka! Kamu harus berusaha dengan kekuatanmu sendiri!” – Doraemon, Stand Bye Me Doraemon (2014)
Cupin menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong, seolah baru saja membaca berita duka yang menyayat hati dari kerabat dekatnya. “Tayangan Doraemon Resmi Dihentikan,” begitu bunyi judul berita yang berkedip di notifikasi media sosialnya, menandai akhir dari sebuah era yang telah menemani pagi Minggunya selama puluhan tahun.
Bagi Cupin, dan jutaan anak Indonesia lainnya yang kini telah beranjak dewasa, Doraemon bukan sekadar kucing robot berwarna biru tanpa telinga. Ia adalah simbol dari sebuah jaminan keamanan absolut, sebuah entitas yang selalu memiliki jawaban atas setiap kebuntuan hidup yang paling rumit sekalipun.
Cupin teringat bagaimana setiap pukul delapan pagi, ia akan duduk terpaku di depan televisi tabung, menanti momen ajaib saat tangan bulat Doraemon merogoh kantong empat dimensinya. Ada rasa lega yang aneh menjalar di dadanya setiap kali alat ajaib dikeluarkan, seolah masalah Nobita adalah masalahnya juga yang turut terselesaikan.
Namun, kabar penghentian tayangan ini memicu perenungan yang jauh lebih filosofis di benak Cupin sore itu. Ia mulai menyadari bahwa ketergantungannya pada narasi “solusi instan” ini mungkin telah meracuni alam bawah sadarnya lebih dalam dari yang ia duga.
Doraemon mengajarkan bahwa tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan jalan pintas teknologi masa depan. Jika terlambat sekolah, ada “Pintu Ke Mana Saja”; jika ingin lulus ujian tanpa belajar, ada “Roti Pengubah Ingatan”.
Cupin menyeruput kopinya yang mulai dingin, menyadari bahwa ketiadaan Doraemon di layar kaca mungkin adalah metafora bagi realitas yang harus dihadapi bangsanya. Kita mungkin sedang dipaksa bangun dari mimpi indah tentang penyelamat eksternal yang akan membereskan kekacauan tanpa kita perlu berkeringat.
Ia melihat sekeliling kafe, memperhatikan wajah-wajah muda yang sibuk dengan gawai mereka, generasi yang sering disebut sebagai bonus demografi. Cupin bertanya-tanya, apakah mereka juga mewarisi mentalitas Nobita yang selalu menengadah ke atas menunggu bantuan jatuh dari langit?
Narasi tentang Gibran Rakabuming Raka yang melesat ke puncak kekuasaan tiba-tiba melintas di pikirannya, seolah ada benang merah tak terlihat yang menghubungkan fenomena politik itu dengan si kucing robot. Apakah Gibran adalah manifestasi dari keinginan kolektif kita akan “alat ajaib” yang bisa memotong kompas birokrasi dan waktu?
Cupin merasa ada sesuatu yang patologis dalam hubungan antara penyedia solusi dan penerima bantuan ini. Ia mulai membedah ingatan masa kecilnya, bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai studi kasus psikologis.
Dalam keheningan pikirannya, Cupin mencoba merumuskan dampak jangka panjang dari paparan terus-menerus terhadap narasi “bantuan tanpa syarat” ini. Bukankah Nobita tidak pernah benar-benar tumbuh dewasa karena keberadaan Doraemon itu sendiri?
Apakah pola ketergantungan Nobita kepada Doraemon ini sebenarnya mencerminkan sebuah sindrom psikologis yang nyata dan berbahaya jika terjadi dalam skala massal? Dan mungkinkah fenomena politik hari ini adalah buah dari “Generasi Doraemon” yang telah kehilangan daya juangnya?
Kutukan Nobita dan Ketidakberdayaan
Cupin membiarkan pikirannya melayang ke ruang studi psikologi perilaku, mencoba mencari landasan teori untuk menjelaskan fenomena Nobita Nobi. Ia teringat pada sebuah konsep yang sangat relevan untuk membedah mengapa Nobita selalu gagal, bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena ia percaya bahwa usahanya sia-sia.
Ini mengingatkan Cupin pada tesis monumental yang ditulis oleh Martin Seligman dalam bukunya yang berjudul Learned Helplessness: On Depression, Development, and Death. Dalam karya tersebut, Seligman menjelaskan bahwa ketidakberdayaan bukanlah sifat bawaan, melainkan sebuah respon yang dipelajari dari pengalaman traumatis atau kegagalan berulang yang tak terkontrol.
Cupin membayangkan Nobita sebagai subjek eksperimen Seligman, di mana setiap kali ia mencoba belajar atau berolahraga, ia dirundung oleh Giant atau dimarahi ibunya. Akhirnya, Nobita belajar bahwa satu-satunya cara untuk selamat bukanlah dengan meningkatkan kompetensi diri, melainkan dengan berteriak memanggil nama Doraemon.
Dalam perspektif ini, Doraemon—tanpa sadar—bertindak sebagai agen yang memperkuat learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari tersebut. Setiap alat ajaib yang dikeluarkan Doraemon adalah konfirmasi bagi Nobita bahwa ia tidak perlu mengembangkan mekanisme pertahanan diri internal.
Cupin menghela napas panjang, menyadari bahwa pola asuh “Doraemon” ini menciptakan atrofi mental yang parah. Kemampuan Nobita untuk memecahkan masalah menjadi lumpuh karena ia tidak pernah diberi kesempatan untuk bergulat dengan konsekuensi dari tindakannya sendiri.
Lebih jauh lagi, Cupin teringat pada analisis sosiologis Richard Sennett dalam bukunya The Corrosion of Character, yang membahas bagaimana kapitalisme fleksibel dan struktur kerja modern mengikis karakter personal. Meskipun Sennett bicara konteks kerja, Cupin melihat paralelnya: ketergantungan pada sistem instan (alat ajaib) mengikis karakter ketekunan dan loyalitas pada proses.
Nobita adalah representasi sempurna dari karakter yang terkorosi ini; ia menginginkan hasil akhir (nilai bagus, dikagumi Shizuka) tanpa menghargai narasi perjuangan. Mentalitas ini berbahaya karena menciptakan individu yang rapuh, yang akan hancur lebur begitu sang penyedia bantuan menghilang.
Cupin melihat sosok Gibran dalam bayang-bayang analisis ini, bukan sebagai Nobita, melainkan sebagai produk dari sistem yang memfasilitasi jalan pintas. Jika Nobita butuh “Kue Penerjemah” untuk paham bahasa asing, Gibran mendapatkan “karpet merah” konstitusi untuk melompati syarat usia.
Apakah kita sedang melihat lahirnya sebuah generasi yang menganggap proses meritokrasi sebagai sesuatu yang “kuno” dan tidak efisien? Bagi Cupin, bahaya terbesar dari sindrom Nobita bukanlah kemalasannya, melainkan hilangnya agensi diri.
Ketika seseorang merasa bahwa nasibnya sepenuhnya ditentukan oleh faktor eksternal (alat Doraemon atau keputusan paman di MK), maka motivasi untuk berjuang menjadi nol. Ini adalah kematian dari etos kerja dan kelahiran dari budaya meminta-minta yang dilegitimasi oleh struktur sosial.
Cupin mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, memikirkan bagaimana learned helplessness ini tidak hanya menjangkiti individu, tapi bisa menular menjadi patologi sosial. Jika satu generasi tumbuh dengan pola pikir bahwa “selalu ada jalan pintas”, maka integritas menjadi barang dagangan yang murah.
Ia membayangkan sebuah masyarakat di mana setiap kesulitan direspon dengan mencari “tombol reset” alih-alih evaluasi diri. Di sinilah letak tragedi sesungguhnya: Nobita selamanya akan tetap menjadi bocah kelas 4 SD yang cengeng, tidak peduli berapa banyak petualangan yang ia lalui.
Tapi bagaimana jika mentalitas Nobita ini bukan lagi sekadar cerita kartun, melainkan cetak biru dari realitas politik Indonesia saat ini? Mungkinkah negara telah memosisikan dirinya sebagai Doraemon raksasa yang memelihara ketidakberdayaan rakyatnya demi melanggengkan kekuasaan?
Negara Doraemon dan Ilusi Kemajuan
Cupin kini memandang jalanan di luar kafe dengan perspektif yang lebih suram, melihat baliho-baliho politik sisa pemilu yang masih terpasang. Ia melihat wajah-wajah politisi yang tersenyum manis, seolah menawarkan diri sebagai Doraemon yang siap mengeluarkan “Bansos Ajaib” dari kantong anggaran negara.
Dalam konteks politik Indonesia, Cupin melihat learned helplessness telah dikapitalisasi menjadi strategi elektoral yang sangat efektif. Rakyat diposisikan sebagai Nobita yang rentan, yang dibuat merasa tidak mampu bertahan hidup tanpa intervensi langsung dan terus-menerus dari sang penguasa.
Cupin teringat pada analisis Daron Acemoglu dan James A. Robinson dalam buku fenomenal mereka, Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty. Mereka menjelaskan bagaimana institusi ekstraktif sengaja diciptakan untuk menghambat kemandirian ekonomi mayoritas rakyat demi menguntungkan segelintir elit.
Dalam “Negara Doraemon”, institusi ekstraktif ini bekerja dengan cara menciptakan ketergantungan; kemiskinan tidak diselesaikan secara struktural, melainkan “diobati” sementara dengan bantuan sosial yang bersifat karitatif. Pemerintah bertindak seperti Doraemon yang memberikan “Roti Hafalan” saat ujian (bantuan tunai saat pemilu), alih-alih mengajarkan Nobita cara belajar (membangun lapangan kerja yang layak).
Gibran Rakabuming Raka, dalam renungan Cupin, muncul sebagai simbol puncak dari fenomena “Pintu Ke Mana Saja” dalam politik nasional. Kenaikannya yang kilat mematahkan logika meritokrasi dan kaderisasi partai yang normalnya memakan waktu puluhan tahun.
Bagi Cupin, penerimaan publik yang luas terhadap proses instan Gibran menunjukkan bahwa masyarakat kita memang telah mengidap sindrom Nobita akut. Kita tidak lagi peduli pada proses hukum yang “berdarah-darah” atau etika yang dilanggar, asalkan “alat ajaib” berupa keberlanjutan kekuasaan dan janji makan siang gratis bisa terwujud.
Ini juga sejalan dengan pemikiran Erich Fromm dalam bukunya Escape from Freedom, di mana ia berargumen bahwa manusia sering kali takut pada kebebasan yang menuntut tanggung jawab penuh. Alih-alih memikul beban kebebasan itu, masyarakat (Nobita) lebih memilih menyerahkan otonomi mereka kepada figur otoriter atau paternalistik (Doraemon/Penguasa) yang menjanjikan keamanan.
Cupin melihat bahwa “Generasi Doraemon” bukanlah generasi yang malas, melainkan generasi yang pragmatis secara ekstrem akibat ketidakpercayaan pada sistem yang adil. Jika “Baling-baling Bambu” tersedia lewat koneksi orang dalam, mengapa harus berjalan kaki mendaki gunung meritokrasi yang terjal?
Negara, dengan segala instrumen kekuasaannya, menikmati peran sebagai Doraemon karena itu menjamin loyalitas Nobita. Selama Nobita terus merengek meminta alat, posisi Doraemon sebagai satu-satunya penyedia solusi tidak akan tergantikan.
Namun, Cupin sadar ada bahaya besar mengintai: baterai Doraemon suatu saat akan habis. Anggaran negara memiliki batas, dan utang yang menumpuk untuk membiayai “alat-alat ajaib” populis ini adalah bom waktu yang nyata.
Ketika hari itu tiba, Nobita Indonesia akan bangun dan mendapati bahwa kantong ajaib itu kosong melompong. Dan karena mereka tidak pernah belajar untuk “berkelahi” dengan Giant (tantangan ekonomi global) menggunakan tangan sendiri, mereka akan menjadi mangsa yang empuk.
Sebagai penutup lamunannya, Cupin menyimpulkan bahwa fenomena Gibran dan matinya tayangan Doraemon adalah dua sisi mata uang yang sama: sebuah peringatan keras tentang kedewasaan. Kita tidak bisa selamanya menjadi Nobita yang berlindung di balik punggung kekuasaan atau mengharapkan keajaiban instan dari pemimpin muda yang dikarbit. Sudah saatnya bangsa ini berhenti mencari kantong ajaib dan mulai belajar mengerjakan “PR” sejarahnya sendiri, sebelum waktu benar-benar habis dan tidak ada mesin waktu untuk memperbaikinya. (A43)