Dengarkan artikel ini:
Audio dibuat menggunakan AI.
Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com
Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis
KATA PEMRED #21
PinterPolitik.com
Di sebuah rumah di kawasan selatan Jakarta, ada pintu kayu yang tidak selalu terbuka. Pada pertengahan Februari lalu, di balik pintu itu, Jusuf Kalla menyampaikan sembilan pesan untuk Presiden Prabowo Subianto — dengan satu syarat: jangan diumumkan ke publik. Beberapa minggu kemudian, suara dari rumah yang sama terdengar di hampir setiap layar kaca. Kontradiksi itu bukan kontradiksi politik. Ia kontradiksi tentang sifat pengaruh.
Saluran rahasia dipakai untuk hal yang serius. Saluran publik dipakai untuk hal yang membutuhkan tekanan kolektif. Mencampur keduanya adalah kebingungan struktural — bukan strategi. Hasilnya telah hadir di publik. Dalam hitungan minggu sejak nasihat itu bergulir di awal April, sejumlah pejabat di lingkar pemerintah — dari kabinet hingga parlemen — memilih jalur kebijakan subsidi yang berbeda. Mereka bukan oposisi. Mereka bagian dari koalisi yang seharusnya menjadi pendengar paling siap. Bila pendengar yang paling siap pun tidak terbawa, ada dua kemungkinan. Pertama, masalahnya pada medium. Kedua, dan ini yang lebih sulit dihadapi: masalahnya pada asumsi bahwa setiap suara dari masa lalu masih membawa bobot yang sama di struktur kekuasaan hari ini.
“Bila pendengar yang paling siap pun tidak terbawa, masalahnya bukan tentang isi pesan. Masalahnya tentang asumsi bahwa setiap suara dari masa lalu masih membawa bobot yang sama di struktur kekuasaan hari ini.”
Ada sesuatu yang jarang diakui dalam literatur kepemimpinan: setiap keberhasilan besar membawa serta beban epistemiknya sendiri. Malino, dengan segala keagungannya, mengandung satu beban yang jarang disadari oleh pembawanya — keyakinan bahwa konteks hari ini masih bisa dijawab dengan refleks dua dekade lalu. Yang menyelamatkan konflik komunal tidak tentu menyelamatkan pemerintahan. Republik bergerak dalam fase. Setiap fase punya pusat gravitasi dan kosakatanya sendiri. Kebijaksanaan seorang mantan tidak diukur dari seberapa lama ia masih bicara — melainkan dari seberapa jeli ia membaca kapan ia sedang berdiri di luar pusat gravitasi yang aktif.
Pasca-kekuasaan adalah jabatan yang tidak dilantik. Tidak ada upacara, tidak ada sumpah, tidak ada bingkai konstitusional yang mengaturnya. Ia bukan ruang kosong; ia ruang yang dipenuhi pilihan-pilihan kecil yang akan membentuk bagaimana seseorang dikenang dua dekade ke depan. Milan Kundera pernah menulis bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan kelupaan. Yang jarang dikatakan: perjuangan republik menjaga negarawan tuanya pun adalah perjuangan ingatan — terhadap dirinya sendiri. Republik kita, dalam delapan dekade kemerdekaan, belum pernah mengajarkan jabatan itu kepada siapa pun. Setiap negarawan tua dipaksa menjadi tukang kayu sendiri — membangun pintunya, sering kali terlambat.
Hannah Arendt menulis tentang dua mode keberadaan: vita activa dan — dunia tindakan harian, dan dunia jarak tempat seseorang menarik diri bukan untuk hilang, melainkan untuk melihat. Albert Hirschman menambahkan: setiap aktor politik punya tiga mode — keluar, bersuara, atau bertahan setia. Suara yang terus-menerus tanpa modulasi berubah menjadi gangguan. Republik tidak membutuhkan lebih banyak suara. Ia membutuhkan lebih sedikit suara — yang tepat.
“Kebijaksanaan seorang mantan tidak diukur dari seberapa lama ia masih bicara, melainkan dari seberapa jeli ia membaca kapan ia sedang berdiri di luar pusat gravitasi yang aktif.”
Bandingkan tiga rumah dalam republik yang sama. Habibie, setelah meninggalkan istana, mendirikan The Habibie Center dan menulis Detik-Detik yang Menentukan — memilih jalan vita contemplativa. Otoritas moralnya bertahan hingga hari kematiannya, dihormati bahkan oleh lawan paling keras. Megawati memilih PDIP sebagai benteng dan Teuku Umar sebagai filter — diam yang panjang, tetapi diam yang berdaya karena memiliki struktur. SBY memilih menjadi pelukis. Kanvas menjadi mediumnya, warna menjadi bahasanya. Sejak masa sekolah menengah ia melukis; kini lukisan menjadi pernyataan publik tanpa pidato. Di Pacitan, museum miliknya bersama Ani Yudhoyono diam-diam mendokumentasikan jejak hidup yang sengaja tidak dikomentari setiap minggu. SBY berbicara tanpa berbicara. Lawan dan teman membaca lukisannya dengan saksama — sebagaimana mereka dulu membaca pidatonya. Tiga rumah, tiga pilihan, tiga bahasa berbeda.
Lee Kuan Yew, dari negara kota yang tidak lebih besar dari satu provinsi kita, menjelaskan ekonomi pasca-kekuasaannya dalam satu prinsip. Ia menulis buku — tetapi tidak berbicara setiap hari. Ia memilih medium yang membuat setiap kalimatnya dibaca dua kali: sekali oleh teman, sekali oleh lawan. Ia juga jujur tentang sesuatu yang sering disembunyikan: setiap intervensi publik dari masa pasca-kekuasaan tidak pernah sepenuhnya netral. Ia selalu membawa serta dimensi positioning — bukan dalam arti pejoratif, melainkan struktural. Ada yang ingin menjaga relevansi. Ada yang ingin membentuk ulang warisan. Negarawan yang cerdik tidak menyangkal motif itu; ia mengelolanya.
Di sinilah Presiden Prabowo Subianto sedang membaca sesuatu yang tidak banyak terbaca. Dalam enam bulan pertama pemerintahannya, ia datang ke Cikeas, ke Teuku Umar, ke kediaman Brawijaya. Ia mengirim utusan, mendengarkan tanpa janji yang tergesa, menyimpan banyak yang ia dengar tanpa mengumumkan apa yang ia putuskan. Setiap kunjungan dipikirkan, setiap kalimat ditahan, setiap waktu dipilih dengan presisi yang tidak terlihat. Para pendahulunya tidak melakukan ini — tidak dalam derajat ini, dan tidak dengan sikap ini. Banyak yang membaca isyarat itu sebagai protokol. Mereka keliru. Yang sedang dibangun adalah arsitektur — kontrak baru dengan para negarawan senior republik ini, sebuah template yang belum pernah ditawarkan oleh pendahulunya.
Ini adalah template yang tenang. Dan karena ia tenang, ia hampir luput dari liputan. Ada keahlian yang jarang dibicarakan dalam literatur kepemimpinan modern: keahlian membangun arsitektur tanpa pernah menamainya. Sebab nama adalah beban — yang dinamai harus dibela, sementara yang dijaga dalam diam dirasakan sebelum dideklarasikan. Prabowo memahami apa yang tidak semua kepala negara modern memahami: republik tidak dijaga oleh siapa yang paling keras berbicara, melainkan oleh arsitektur yang membuat setiap suara punya tempatnya. Ia menawarkan jalan vertikal kepada para senior — saluran privat yang bermartabat, konsultasi struktural, panggung yang tidak menjebak. Tawaran itu, bagi yang membacanya dengan jeli, adalah pintu yang sedang dibuka dari sisi istana.
Pelajaran trilogi ini berhenti menjadi soal satu orang. Setiap pemimpin di republik ini akan menjadi mantan, suatu hari nanti — Prabowo sendiri suatu hari, generasi yang menjabat hari ini suatu hari. Mereka akan menemukan bahwa kursi pasca-kekuasaan tidak pernah ditata oleh negara. Sebagian akan memilih kanal harian, dan habis dalam kebisingan. Sebagian akan memilih jarak, dan dilupakan. Tetapi sebagian, yang langka, akan belajar membaca tawaran Prabowo seperti membaca puisi — bukan sebagai protokol, melainkan sebagai geometri.
Kembali ke pintu kayu di kawasan selatan itu. Pintu itu tidak ditutup oleh siapa pun; ia menunggu pemiliknya menemukan ritmenya. Apakah Jusuf Kalla masih akan membawa banyak ke depan, akan ditentukan bukan oleh seberapa sering pintunya terbuka — melainkan oleh seberapa jeli ia membaca kapan ia tidak perlu membuka. Yang sedang diuji hari ini bukan kebijaksanaannya — kebijaksanaan itu telah dibuktikan oleh tiga dekade kerja kenegaraan. Yang sedang diuji adalah kemampuannya membaca bahwa percakapan republik telah menemukan ruang baru, dan bahwa rumahnya yang dulu menjadi salah satu pusat utama kini berbagi panggung dengan rumah-rumah lain yang juga sah. Sembilan pesan, kadang, lebih kuat ketika tetap sembilan — daripada ketika ia bertumpuk dengan keramaian harian.
Republik bukan rumah yang dijaga oleh suara yang banyak. Republik adalah rumah yang dijaga oleh siapa yang tahu kapan membuka pintu, dan kapan duduk diam di belakangnya.
**********************
Bagian 1 Trilogi Jusuf Kalla : Saksi Yang Harus Bersaksi Lagi
Bagian 2 Trilogi Jusuf Kalla : Empat Puluh Tujuh Detik
Tentang Penulis
Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com
Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis