Dari cerita Ari Lasso di Bali hingga fakta ilmiah tentang puber kedua yang sering disalahpahami.
Belakangan sebutan puber kedua dikaitkan dengan kemesraan Ari Lasso dengan sang kekasih Dearly Djosua saat berlibur di Bali. Sang kekasih, bahkan sempat mengunggah kebersamaan mereka di media sosial. Dalam potret tersebut, Ari dan Dearly tampak menikmati suasana dinner romantis di Kamandalu Ubud Resort, Bali persis seperti pasangan muda yang sedang berada di fase butterfly era. Senyum hangat, tatapan penuh cinta, dan momen kebersamaan mereka seakan menggambarkan semangat baru yang sedang mewarnai hidup sang musisi legendaris.

Meski sempat dikabarkan kurang fit usai acara di Bali, Ari Lasso tetap tampil penuh energi bersama kekasihnya. Kehangatan ini kemudian memicu obrolan publik yang mengaitkan momen tersebut dengan istilah puber kedua, sebuah fase ketika seseorang di usia matang kembali merasakan gairah muda—baik dalam kehidupan pribadi maupun asmara.
Pertanyaannya, apakah puber kedua benar-benar ada secara medis, atau hanya sekadar istilah populer yang dipakai untuk menggambarkan perubahan gaya hidup di usia tertentu? Untuk menjawab rasa penasaran itu, mari kita kupas lebih dalam lewat 9 hal penting berikut yang bisa membantu memahami puber kedua, antara mitos dan fakta.
9 Hal Penting Tentang Puber Kedua Antara Mitos dan Fakta
1. Apa Itu Puber Kedua?

Puber kedua adalah istilah populer yang menggambarkan perubahan fisik, emosional, atau gaya hidup yang terjadi setelah masa remaja. Walaupun bukan istilah medis resmi, fenomena ini nyata dialami banyak orang dan terbagi ke dalam dua perspektif: medis dan budaya.
Dalam perspektif medis internasional:
Situs kesehatan Healthline menjelaskan bahwa tubuh manusia sebenarnya masih terus mengalami perkembangan setelah pubertas pertama. Pertumbuhan otak baru selesai di usia sekitar 25 tahun, dan perubahan hormon tetap berlangsung hingga usia 30-an. Karena itu, istilah second puberty sering dipakai untuk menggambarkan fase ini—misalnya muncul jerawat dewasa, perubahan distribusi lemak tubuh, hingga fluktuasi energi.
Dalam perspektif budaya di Indonesia:
Istilah puber kedua justru lebih sering dipakai untuk menggambarkan fase di usia matang, terutama 40 tahun ke atas. Pada pria, ini biasanya berkaitan dengan penurunan kadar testosteron (andropause), sedangkan pada wanita dengan peri-menopause. Secara emosional, fase ini sering membuat seseorang merasa “muda kembali”, lebih romantis, atau bahkan ingin mengubah gaya hidup. Fenomena ini yang sering kita lihat dalam kehidupan publik figur atau orang sekitar.
Artinya, puber kedua bukanlah mitos semata, tapi istilah populer yang dipakai untuk menjelaskan perubahan nyata dalam tubuh dan psikologis. Bedanya hanya soal usia dan sudut pandang yang digunakan.
2. Kenapa Banyak Orang Indonesia Mengaitkan Puber Kedua dengan Gairah?

Di Indonesia, puber kedua identik dengan gairah hidup yang meningkat pada usia matang. Banyak orang merasa lebih romantis, lebih perhatian pada penampilan, atau bahkan ingin mencoba hal baru. Fenomena ini seolah menggambarkan bahwa usia bukanlah penghalang untuk tetap merasa muda.
Perubahan hormon yang terjadi memang bisa memengaruhi mood dan energi, tapi faktor sosial dan budaya juga berperan besar. Misalnya, setelah anak mulai mandiri, pasangan suami istri punya lebih banyak waktu untuk fokus ke diri sendiri maupun hubungan, sehingga terasa seperti “jatuh cinta lagi”.
3. Perubahan Hormon di Usia 20–30-an

Walau di Indonesia puber kedua sering diasosiasikan dengan usia 40+, faktanya perubahan hormon sudah mulai terasa sejak usia 20–30-an. Penelitian menunjukkan bahwa metabolisme melambat, hormon seksual mulai menurun secara perlahan, dan hal ini memengaruhi fisik maupun emosi.
Contohnya, wanita bisa mengalami siklus haid yang lebih tidak stabil dibanding masa remaja, sementara pria mulai merasakan energi yang berbeda dibandingkan usia belasan. Itulah kenapa istilah second puberty di luar negeri lebih banyak dipakai untuk usia ini.
4. Puber Kedua vs Midlife Crisis

Banyak orang mengira puber kedua sama dengan midlife crisis, padahal berbeda.
Puber kedua lebih ke perubahan alami pada tubuh dan psikologis.
Midlife crisis adalah krisis eksistensial yang sering muncul karena merasa usia semakin menua, pencapaian hidup belum sesuai, atau rasa bosan dengan rutinitas.
Meski berbeda, keduanya bisa saling berhubungan. Orang yang mengalami midlife crisis kadang mengekspresikan diri lewat gaya hidup baru, yang akhirnya mirip dengan tanda-tanda puber kedua.
5. Tanda-Tanda Puber Kedua

Beberapa tanda yang sering terlihat antara lain:
- Lebih memperhatikan penampilan
- Muncul energi baru untuk mencoba hobi atau olahraga
- Rasa ingin tampil lebih muda atau segar
- Perubahan mood yang lebih dinamis
- Dalam hubungan asmara, muncul kembali “rasa berbunga-bunga”
Tanda-tanda ini bisa muncul di berbagai usia, tergantung kondisi biologis dan lingkungan.
6. Dampak Positif

Walaupun sering dianggap bercanda, second puberty punya banyak sisi positif. Orang yang mengalaminya biasanya jadi lebih semangat menjaga kesehatan, lebih romantis dengan pasangan, dan lebih berani mengeksplorasi hal-hal baru yang mungkin belum pernah dicoba.
7. Risiko yang Perlu Diwaspadai

Di sisi lain, puber kedua juga bisa menimbulkan risiko jika tidak dikelola dengan baik. Beberapa orang terlalu ekstrem dalam mengejar “muda kembali” hingga mengabaikan kesehatan atau membuat keputusan impulsif dalam hubungan. Penting untuk memahami bahwa puber kedua sebaiknya dijalani dengan bijak, bukan sekadar euforia.
8. Kaitannya dengan Relasi Asmara

Tak sedikit pasangan yang justru merasa hubungan mereka kembali hangat di masa second puberty. Namun, ada juga yang menghadapi tantangan, terutama jika salah satu pasangan merasa perubahan ini terlalu drastis. Kunci utamanya ada pada komunikasi dan saling memahami.
9. Cara Menghadapi Puber Kedua dengan Bijak

Beberapa langkah sederhana bisa membantu menjalani fase ini dengan lebih sehat:
- Rajin olahraga dan jaga pola makan
- Berani mengekspresikan diri, tapi tetap realistis
- Bangun komunikasi yang baik dengan pasangan
- Jangan ragu mencari bantuan medis atau konseling bila perlu
Dengan begitu, puber kedua bukan hanya soal mitos atau godaan, melainkan peluang untuk memperbarui semangat hidup.
Kesimpulan

Puber kedua memang bukan istilah medis resmi, tapi bukan juga sekadar mitos. Baik dalam perspektif kesehatan maupun budaya Indonesia, fenomena ini nyata. Jika dijalani dengan bijak, puber kedua bisa menjadi kesempatan untuk memperbarui energi, semangat, dan hubungan.
Gimana menurut kamu? Apakah kamu atau orang terdekat pernah merasakannya? Jangan ragu untuk share artikel ini ke siapa saja yang perlu membaca ini