Jebakan ‘echo chamber’: Panduan etika untuk ‘influencer’ agar tidak blunder

jebakan-‘echo-chamber’:-panduan-etika-untuk-‘influencer’-agar-tidak-blunder
Jebakan ‘echo chamber’: Panduan etika untuk ‘influencer’ agar tidak blunder
Share

Share This Post

or copy the link

● Konten di media sosial berpotensi menciptakan ruang gema dan polarisasi.

● ‘Influencer’ perlu mempertimbangkan subjek, tujuan, dampak, dan audiens sebelum membuat konten.

● Kita juga harus kritis terhadap ‘influencer’ yang diikuti agar mampu membangun perspektif yang lebih seimbang.


Masyarakat saat ini banyak mengonsumsi informasi dari media sosial. Terlebih Gen Z yang sangat aktif di Instagram dan TikTok. Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling di media sosial—sambil sesekali berhenti karena menemukan konten yang menurut kita menarik.

Masalahnya, media sosial bekerja dengan algoritma. Ketika kita menonton sebuah video pendek di media sosial sampai habis, apalagi memberi like, bahkan share atau save, maka algoritma kita akan memunculkan konten-konten serupa.

Akibatnya, kita sering terjebak dalam ruang gema atau echo chamber, yaitu ruang yang berisi informasi serupa dengan apa yang dikonsumsi sebelumnya.

Hal ini menciptakan status quo atau kondisi lingkaran pertemanan di media sosial yang tetap. Akhirnya, pengguna media sosial cenderung mengikuti satu pandangan saja dan sulit terbuka pada opini berbeda.

Sayangnya, algoritma media sosial bisa tidak netral. Karena itu, influencer yang kita ikuti sangat berpengaruh membentuk opini kita.

Jika mereka menyebarkan konten negatif atau bernuansa provokasi, ini bisa memunculkan polarisasi, yaitu penguatan pandangan individu yang bertentangan dengan perspektif lain dan disertai emosi negatif.

Karena itu, konten yang dibuat oleh influencer sebaiknya berdasarkan data dan fakta, serta memberikan edukasi yang bernada netral atau positif daripada negatif.

Untuk melakukan ini, influencer harus memahami etika.


Read more: Tak hanya akurat tapi harus menghibur: Preferensi informasi ala Gen Z


Panduan etika untuk ‘influencer’

Salah satu bentuk etika yang patut diperhatikan oleh influencer dalam membuat konten adalah ‘etika representatif’. Artinya, ketika membuat konten, influencer tidak hanya menimbang kepentingan pribadinya saja, melainkan juga memperhatikan subjek sebagai representasi dari masyarakat dunia nyata.

Etika ini penting karena konten yang kita hasilkan di internet dapat memengaruhi kehidupan di dunia nyata.

Etika representative ini memiliki konsep segitiga etika.

kerangka etika yang bisa digunakan influencer

Konsep segitiga ‘etika representatif’ Renee Hobbs (2011).

Dari ketiga konsep tersebut, terdapat pertanyaan-pertanyaan yang bisa memandu kreator konten dalam merefleksikan sikap etis di dunia digital.

1. Dalam melihat subjek

a. Apakah dia berkenan masuk dalam konten saya? (consent)

b. Apakah dia merasa bebas atau tidak ada paksaan untuk berpartisipasi? (free will)

Dalam bagian ini, influencer perlu mempertimbangkan kehendak dari subjek lain yang muncul di dalam konten yang dibuat. Influencer perlu izin dan tidak bisa seenaknya memunculkan subjek lain di dalam konten. Karena mereka memiliki kebebasan untuk memilih dalam berpartisipasi.

Contohnya, influencer Uya Kuya yang ditegur oleh seorang warga, saat ia mengambil gambar peristiwa kebakaran di Los Angeles, Amerika Serikat (AS) pada Januari 2025 di depan rumah warga tersebut. Menurut warga, Uya Kuya merekam tanpa izin dan tidak berempati terhadap korban. Akhirnya, Uya Kuya mengklarifikasi, lalu menurunkan kontennya, dan meminta maaf.

2. Sebagai kreator konten

a. Apakah karya saya memiliki maksud yang baik untuk orang lain? (intentionality)

b. Apakah saya mempertimbangkan konsekuensi dari apa yang saya buat? (consequences)

c. Apakah efek yang muncul dari karya saya ke depannya? Apakah dampaknya baik untuk masyarakat?

Sebagai pencipta karya, sebelum mengunggah konten, influencer perlu mempertimbangkan apa konsekuensi dan dampak yang muncul dari konten tersebut ke depannya.

Jadi, jangan terburu-buru dalam mengunggah konten, bacalah konten berulang, atau dapat dibantu orang lain untuk memikirkan kemungkinan dampak setelahnya. Sebab meskipun konten bisa dihapus, jejak digitalnya bisa jadi sudah tersebar ke mana-mana.


Read more: Tak hanya ‘followers’, kreator konten juga perlu edukasi literasi digital


3. Dalam melihat audiens

a. Apakah audiens/ orang lain memahami maksud baik saya? (intentionality)

b. Apakah audiens/ orang lain dapat berkontribusi dalam hubungan sosial yang sehat? (social good)

Di bagian audiens, influencer perlu juga mempertimbangkan audiens atau followers yang akan menikmati konten. Tujuannya agar followers dapat menerima maksud baik dari konten, serta ikut menciptakan hubungan sosial yang sehat antara influencer dan followers.

Harapannya, panduan pertanyaan reflektif ini dapat membantu influencer mempertimbangkan aspek etis ketika membuat konten, khususnya mempertimbangkan kehadiran subjek lain di lingkungan algoritmanya. Sehingga, apa yang influencer hasilkan dapat berdampak baik bagi dunia digital Indonesia.

‘Follower’ tak boleh tinggal diam

Tak hanya influencer, kita pun perlu lebih kritis dan beretika dalam mengonsumsi dan memproduksi informasi.

Kasus kekecewaan publik terhadap DPR yang menguat selama beberapa minggu terakhir menunjukkan bahwa terdapat influencer yang menyampaikan pikiran tanpa klarifikasi data.

Misalnya, influencer Deddy Corbuzier yang sering mengulas isu terkini dengan mendatangkan narasumber secara langsung, tapi kemudian menyerahkan sepenuhnya penilaian kepada pengikut (follower).

Lantas, bagaimana jika pengikutnya tidak memiliki cukup data untuk menilai sehingga mereka hanya menelan mentah-mentah informasi yang disampaikan?

Terlebih, cara berkomunikasi Deddy yang cenderung blak-blakan, sehingga tutur bahasa terkesan kurang pantas disampaikan oleh seorang influencer. Ia misalnya mengkritik siswa yang bilang makanan bergizi gratis rasanya tidak enak, kemudian disambung dengan komentarnya “Kurang enak, palalu pe’a!”

Namun, ada pula influencer yang memaparkan data untuk mengedukasi follower. Misalnya Jerome Polin yang menyatakan bahwa nilai tunjangan beras Anggota DPR bisa untuk makan sekampung, sehingga para pengikutnya semakin memahami konteks masalahnya.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa ada influencer yang memberikan informasi berdasarkan data dan fakta kepada masyarakat. Namun, ada pula yang bicara tanpa data dan bahkan antikritik.

Fenomena ini menuntut kita sebagai konsumen konten untuk kritis dalam mengikuti akun-akun influencer.

Jika influencer perlu mempertanyakan etika representatif mereka, maka follower juga perlu mengajukan lima pertanyaan refleksi:

  1. Siapa saja influencer yang kita ikuti?
  2. Konten seperti apa yang dibuat oleh para influencer tersebut?
  3. Apakah influencer yang kita ikuti berbicara berdasarkan fakta dan data, atau minimal memaparkan informasi secara seimbang?
  4. Mengapa kita mengikuti influencer tersebut?
  5. Apa yang dapat kita lakukan untuk memperkaya perspektif dari influencer yang kita ikuti?

Intinya, kita juga bisa ‘melawan algoritma’ kita sendiri dengan melihat kembali apakah influencer yang kita ikuti sudah tepat atau belum. Sebab, influencer inilah yang membuat opini sering tidak netral dan menjebak kita di dalam ruang gema.


0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Jebakan ‘echo chamber’: Panduan etika untuk ‘influencer’ agar tidak blunder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy Astaga! privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us