Frederica dan Super Leviathan OJK

frederica-dan-super-leviathan-ojk
Frederica dan Super Leviathan OJK
Share

Share This Post

or copy the link

Dengarkan artikel ini:

Audio dibuat menggunakan AI.

Ketika regulator keuangan terkuat Indonesia mendapat nahkoda baru di tengah badai. Friderica Widyasari Dewi resmi dilantik sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan. Perempuan pertama dalam sejarah lembaga ini.


PinterPolitik.com

Dalam mitologi Yunani, ada kisah tentang Athena yang lahir bukan dari rahim, melainkan dari kepala Zeus yang terbelah — dewi yang muncul dalam wujud lengkap, bersenjata, siap berperang. Athena tidak dipilih oleh para dewa lain melalui pemungutan suara. Ia hadir karena kekosongan memanggilnya: Olympus membutuhkan sosok yang menggabungkan kebijaksanaan dan kekuatan tempur dalam satu entitas. Para dewa laki-laki yang lebih senior — Ares, Hermes, Apollo — tidak ada yang mengisi peran itu. Dan justru dari ketiadaan itulah, Athena muncul sebagai pelindung peradaban.

Pada 11 Maret 2026, sesuatu yang menyerupai mitos itu terjadi di Jakarta. Dr. Friderica Widyasari Dewi — yang akrab dipanggil Kiki — resmi dilantik sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan. Perempuan pertama dalam sejarah lembaga ini. Ia tidak naik dalam kondisi normal. Ia naik setelah empat pejabat senior — Mahendra Siregar, Mirza Adityaswara, dan dua Kepala Eksekutif lainnya, semuanya laki-laki — mengundurkan diri secara bersamaan pada 30 Januari 2026, di tengah krisis kepercayaan pasar modal terburuk dalam satu dekade. IHSG anjlok. Indeks MSCI membekukan sejumlah saham Indonesia. Investor asing menarik dana. Dan dari reruntuhan itu, Friderica — satu-satunya pejabat senior yang tidak ikut mundur — justru mendapat mandat terbesar.

Kisahnya mengingatkan pada pola yang berulang dalam sejarah kepemimpinan dunia. Christine Lagarde menjadi Direktur Pelaksana IMF pada 2011 setelah Dominique Strauss-Kahn jatuh karena skandal — lembaga itu sedang krisis legitimasi. Janet Yellen memimpin Federal Reserve AS pada 2014, perempuan pertama dalam sejarah 100 tahun The Fed, di saat ekonomi global masih rapuh pasca-krisis 2008. Dan Mary Robinson menjadi Presiden Irlandia pertama dari kalangan perempuan pada 1990, ketika negara itu sedang bergulat dengan identitas pasca-kolonial yang penuh luka. Friderica bergabung dalam barisan itu: perempuan yang dipilih bukan di saat tenang, melainkan justru di saat badai.

“Monster” Berkepala Satu: Anatomi Kekuasaan OJK

Untuk memahami besarnya taruhan yang dihadapi Friderica, kita harus terlebih dulu memahami lembaga yang ia pimpin. OJK bukan sekadar badan pengawas biasa. Ia adalah apa yang bisa disebut — meminjam dan memperluas konsep filsuf Thomas Hobbes — sebagai “Super Leviathan.”

Dalam karya monumentalnya Leviathan (1651), Hobbes berargumen bahwa negara adalah entitas kekuasaan tertinggi yang diberi mandat oleh rakyat untuk menegakkan ketertiban. Tanpa Leviathan, manusia hidup dalam kondisi “war of all against all” — perang semua melawan semua. OJK adalah Leviathan untuk satu sektor spesifik: tanpa regulator keuangan yang kuat, pasar akan jatuh ke dalam ketidakpercayaan, penipuan massal, dan keruntuhan sistemik.

Yang membuat OJK unik bahkan dibanding regulator keuangan negara lain adalah konsentrasi tiga pilar kekuatan dalam satu lembaga. Pertama, kekuatan quasi-legislatif: OJK membuat peraturan yang mengikat seluruh industri keuangan — perbankan, asuransi, pasar modal, fintech, hingga kripto — tanpa perlu persetujuan DPR untuk setiap regulasi. Kedua, kekuatan quasi-yudisial: OJK bisa menyelidiki, memberikan sanksi, bahkan membekukan operasi lembaga keuangan yang melanggar. Ketiga, dan yang paling mengejutkan: otonomi anggaran total.

Ini adalah fakta yang jarang dibahas publik: OJK tidak menggunakan satu rupiah pun dari APBN. Seluruh anggarannya — mendekati Rp 7 triliun per tahun — berasal dari pungutan terhadap industri keuangan yang diawasinya sendiri. Dengan aset industri keuangan Indonesia yang diestimasi lebih dari Rp 12.000 triliun, OJK memungut rata-rata 0,045 persen sebagai biaya operasional.

Implikasinya sangat politis: tidak ada pihak manapun — termasuk Presiden — yang bisa “mencekik” OJK melalui anggaran. Bandingkan dengan SEC di Amerika Serikat yang anggarannya harus disetujui Kongres setiap tahun, atau FCA di Inggris yang meski mandiri secara finansial tetap tunduk pada mekanisme akuntabilitas parlementer yang jauh lebih ketat. OJK, dalam hal ini, adalah anomali — sebuah super-regulator dengan tingkat kemandirian yang nyaris tanpa padanan.

Glass Cliff: Dipilih di Tepi Jurang

Michelle Ryan dan Alexander Haslam dari University of Exeter pada 2005 menemukan sebuah pola yang mereka namai “Glass Cliff.” Berbeda dari “Glass Ceiling” yang mencegah perempuan naik ke puncak, Glass Cliff menggambarkan fenomena sebaliknya: perempuan dan minoritas justru lebih sering dipilih memimpin ketika organisasi sedang dalam krisis paling dalam. Mereka ditempatkan di tepi jurang — posisi yang tampak prestisius tapi penuh risiko asimetris.

Kasus Friderica mengikuti pola ini dengan presisi yang nyaris sempurna. Ia tidak diangkat saat OJK sedang berjaya. Ia diangkat justru setelah gelombang pengunduran diri yang belum pernah terjadi sebelumnya, di tengah pasar yang kehilangan kepercayaan, dan di saat indeks global mempertanyakan kredibilitas regulasi Indonesia. Beban yang ia warisi bukan beban yang ia ciptakan. Tapi dialah yang harus menanggungnya.

Pola serupa pernah terjadi di panggung global. Theresa May menjadi Perdana Menteri Inggris pada 2016 setelah David Cameron mundur akibat Brexit — sebuah krisis konstitusional yang tidak May ciptakan, tapi ia harus selesaikan. Ellen Johnson Sirleaf menjadi Presiden Liberia pada 2006, perempuan pertama yang memimpin negara Afrika, tepat setelah dua perang saudara yang menghancurkan seluruh infrastruktur negara.

Mereka semua berdiri di atas glass cliff: jika berhasil, narasi yang tercipta adalah “pemulihan di bawah kepemimpinan perempuan.” Jika gagal, risiko naratifnya sangat berbeda — dan tidak pernah simetris.

Yang perlu dipertanyakan secara jujur: apakah Friderica dipilih karena kompetensinya yang memang paling mumpuni — ia memiliki track record panjang di KSEI, BEI, BRI Danareksa Sekuritas, dan empat tahun sebagai “Panglima Perlindungan Konsumen” di OJK — ataukah karena para kandidat laki-laki yang lebih senior memilih untuk tidak mewarisi puing-puing krisis? Jawaban atas pertanyaan ini mungkin tidak pernah diucapkan secara terbuka. Tapi pertanyaannya sendiri penting untuk ditaruh di atas meja.

Siapa Mengawasi Sang Pengawas?

George Stigler, ekonom peraih Nobel, pada 1971 memperingatkan tentang bahaya “regulatory capture” — kondisi di mana regulator secara bertahap mulai lebih melayani kepentingan industri yang diawasinya ketimbang kepentingan publik. Mekanismenya halus dan hampir tak terasa: revolving door antara regulator dan industri, ketergantungan pada input teknis dari pihak yang diawasi, serta model pendanaan yang menciptakan insentif implisit untuk tidak terlalu agresif terhadap “pihak yang membiayaimu.”

OJK memiliki kerentanan struktural terhadap ketiga mekanisme itu. Friderica sendiri pernah menjadi Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas — industri — sebelum masuk ke OJK — regulator. Revolving door ini bukan keunikan Indonesia; Alan Greenspan dan Henry Paulson di AS juga menempuh jalur serupa antara Wall Street dan Washington. Tapi pengalaman krisis keuangan 2008 menunjukkan betapa mahalnya harga yang dibayar publik ketika batas antara regulator dan yang diregulasi menjadi kabur.

Giandomenico Majone, ilmuwan politik Italia, menyebut lembaga seperti OJK sebagai “non-majoritarian institutions” — institusi yang legitimasinya bukan dari pemilu melainkan dari keahlian teknis dan reputasi independensi. Ini adalah sumber kekuatan sekaligus kerentanan paling fundamental: semakin independen sebuah regulator, semakin jauh pula ia dari kontrol demokratis langsung. Paradoks ini tidak punya solusi sempurna. Ia hanya bisa dikelola — dan pengelolaannya sangat bergantung pada integritas pribadi pemimpinnya.

Di sinilah pertaruhan historis Friderica sesungguhnya terletak. Ia tidak hanya mewarisi krisis teknis pasar modal. Ia mewarisi krisis kepercayaan institusional. MSCI tidak hanya mempertanyakan transparansi emiten Indonesia — mereka mempertanyakan apakah regulator Indonesia bisa dipercaya menegakkan standar global tanpa intervensi politik. Memulihkan kepercayaan itu jauh lebih berat dari sekadar reformasi regulasi. Ini adalah proyek pembangunan kembali reputasi — sesuatu yang membutuhkan bukan hanya kompetensi, tapi juga keberanian untuk mengatakan “tidak” kepada pihak-pihak yang jauh lebih berkuasa.

Athena, dalam mitos Yunani, tidak hanya dewi perang. Ia juga dewi kebijaksanaan — dan yang membedakannya dari Ares adalah bahwa ia tahu kapan harus bertempur dan kapan harus menahan diri. Friderica Widyasari Dewi kini berdiri di persimpangan yang sama: memimpin Super Leviathan yang kekuatannya luar biasa, tapi yang legitimasinya sedang dipertanyakan dunia. Lima tahun ke depan akan menentukan apakah ia mampu menjadi Athena bagi sistem keuangan Indonesia — atau apakah glass cliff yang ia pijak akan membuktikan dirinya sebagai jurang yang sesungguhnya.

Seperti yang pernah dikatakan oleh mantan Gubernur Bank of England, Mark Carney: “Trust arrives on foot but leaves on horseback.” Kepercayaan datang berjalan kaki, tapi pergi menunggang kuda. Friderica sudah tahu bahwa kuda itu sudah berlari. Pertanyaannya sekarang: bisakah ia membuatnya berbalik arah? (S13)

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Frederica dan Super Leviathan OJK

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy Astaga! privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us