Makin ke sini, jumlah orang jomblo terus bertambah. Kira-kira kenapa, ya?
Mending mulai hubungan atau pilih jomblo aja, ya? Au ah, pusing!
Jomblo atau pilihan hidup untuk single bukan lagi status yang perlu ditanggapi dengan rasa kasihan. Di Indonesia sendiri, fenomena ini semakin ramai menjadi topik perbincangan yang mengarah pada heteropessimism, yakni kondisi yang menunjukkan bahwa banyak perempuan muda sengaja menghindari hubungan romantis. Bukan karena mereka tak laku, tapi itu termasuk bagian dari pilihan hidup.
Bagi sebagian orang yang relate, pilihan tersebut terasa masuk akal. Namun, bagi yang kurang memahaminya, pasti memiliki banyak pertanyaan di kepala “kenapa, ya perempuan sekarang lebih suka menjomblo?”
Hipwee mencoba memahami beberapa alasan orang jomblo saat ini yang diakibatkan oleh beberapa faktor.
1. Trauma Kolektif dari Pengalaman Buruk

Ghosting, diselingkuhi, diremehkan secara emosional merupakan daftar pengalaman buruk yang bukan lagi bisa dianggap permasalahan personal, akan tetapi menjadi narasi kolektif yang beredar di antara kaum perempuan, terutama di dunia maya.
Ketika cerita-cerita toxic relationship atau kisah perselingkuhan viral di X, Threads, atau TikTok, dampaknya pun meluas hingga menimbulkan efek domino yang menyebar secara cepat. Akhirnya, timbul kecurigaan sistemik terhadap potensi hubungan heteroseksual (hubungan antara lawan jenis).
Fenomena ini mirip dengan “vicarious trauma” (respon paparan trauma) yang menggambarkan seseorang merasakan dampak trauma meski tidak mengalaminya langsung. Misalnya, setelah melihat kasus perselingkuhan di media sosial, seorang perempuan mulai berpikir “Dia yang cakep aja bisa diselingkuhi, apalagi aku” atau “kalau itu aja bisa kejadian sama dia, berarti bisa aja kejadian sama aku juga.”
Akibat dari pola pikir seperti itu, muncullah praktik risk aversion, yaitu menghindari risiko dengan cara tidak memulai hubungan sama sekali. Bagi mereka, cara tersebut menjadi strategi perlindungan diri yang rasional. Media sosial yang tadinya berfungsi untuk menghubungkan manusia, justru menjadi panggung pembuktian bahwa cinta modern terlalu berisiko. Ending-nya? Banyak orang memilih jomblo karena ingin tetap aman dan nyaman dengan kehidupannya.
2. Standar Ekspektasi yang Lebih Tinggi
Generasi sekarang tidak lagi puas dengan “cukup sayang-sayangan.” Mereka mencari emotional labor yang setara, komunikasi yang matang, kesadaran diri, dan keselarasan nilai hidup yang membuat hubungan menjadi lebih maju.
Perubahan ini tentunya tidak terjadi begitu saja, tetapi dimulai dari akses ke psikologi populer seperti melihat/mempelajari konten terapi di YouTube hingga munculnya diskusi soal attachment style yang telah mengedukasi perempuan muda untuk mengenali pola, cara, hingga respon lawan jenis. Dari situlah, mereka mulai memahami pola dan ciri-ciri hubungan yang toxic dan hubungan yang sehat.
Ketika ekspektasi dan standar akan calon pasangan mulai naik, tetapi realitasnya mereka bertemu sosok yang tidak memenuhi itu semua, menjadi seorang jomblo merupakan opsi yang lebih tepat. Mereka berpikir bahwa hanya karena belum menemukan seseorang sesuai ekspektasinya, bukan berarti harus menurunkan standar tersebut. Paradoksnya, semakin tahu apa yang diinginkan, semakin sulit menemukan yang cocok. Kamu ngerasa gitu, nggak? Akhirnya, ya udah pasrah menjomblo aja, deh!
3. Kebebasan Baru dan Kemandirian Ekonomi

Perempuan muda kini lebih punya akses ke pendidikan tinggi dan karier yang menjanjikan. Kemandirian finansial pun akhirnya menghapus urgensi “butuh diselamatkan” dalam bentuk pernikahan atau hubungan. Dari sinilah, muncul pemahaman di kalangan perempuan, kalau jomblo bukanlah sebuah kegagalan dan kesuksesan tidak bisa diukur dari sudah atau belumnya seseorang menikah. Singkatnya, menikah memang bukan kompetisi, kan?
Ketika seorang perempuan bisa membeli apa pun yang dia mau, traveling ke sana kemari dengan bebas, dan membangun jaringan sosial yang luas, akhirnya struktur tradisional yang menempatkan pasangan sebagai satu-satunya sumber keamanan pun mulai tergerus. Perempuan mulai berpikir “Ternyata nggak punya pasangan nggak masalah, yang penting banyak duit!”
4. Self-Love sebagai Prioritas Utama
Narasi “cintai diri sendiri dulu” atau yang dikenal dengan sebutan “self-love” bukan lagi sekadar slogan semata. Kini, banyak wanita muda hingga dewasa mulai menerapkan self-love melalui berbagai cara dan kegiatan. Sebut saja seperti, terapi, journaling, healing, dan melakukan apa yang mereka sukai. Perempuan mulai sadar kalau menginvestasikan energi dan waktu untuk diri sendiri itu jauh lebih penting, sebelum mereka membaginya ke orang lain.
Jadi, generasi sekarang terutama para perempuan melihat hubungan sebagai suatu opsi, bukan suatu keharusan. Hal ini berbeda dari pandangan generasi sebelumnya yang berpikir kalau untuk hubungan harus bisa “melengkapi” diri yang terasa kurang. Nah, berbeda dengan generasi sekarang yang justru merasa jika mereka harus “lengkap” dulu sebelum memulai hubungan.
Praktik self-love juga mengubah definisi “siap” untuk menjalin hubungan. Perempuan zaman sekarang melihat kesiapan bukan lagi hanya soal usia atau status, tapi soal kapasitas mengelola konflik, mengekspresikan kebutuhan, dan menerima cinta tanpa merasa tidak layak. Eaak!
5. Kritik terhadap Struktur Hubungan Tradisional

Banyak yang mulai mempertanyakan, “Kenapa harus pacaran kalau akhirnya cuma bikin repot dan capek batin aja?” atau “Kalau pacaran cuma bikin tambah pusing, mending single aja nggak, sih?”
Beban emosional perempuan dalam hubungan heteroseksual sering kali tidak setara, mereka kerap melalukan beberapa hal seperti mengingat tanggal anniversary, mengalah dalam konflik hubungan, dan sering menjadi “pengelola hubungan.”
Kemudian di tengah arus digitalisasi yang serba cepat dalam menyebarkan informasi membuat mereka semakin sadar akan ketidakadilan tersebut. Perempuan akhirnya mereka memilih menjauh dari hubungan yang membuat mereka merasa kelelahan.
6. Tidak Perlu Validasi oleh Pasangan
Generasi sekarang tumbuh dengan narasi bahwa keberhasilan hidup tidak harus diukur dari status pernikahan. Influencer, penulis, tokoh publik yang single dan berprestasi menunjukkan berbagai realitas yang bisa dilihat secara logis. Mereka memperlihatkan kepada banyak perempuan bahwa validasi bisa datang dari mana saja, termasuk keluarga, sahabat, karir yang diperjuangkan, keberhasilan karya, atau nilai spiritualitas yang dirasakan secara personal. Maksudnya, validasi itu tidak harus selalu berasal dari pengakuan orang lain, tetapi bisa dari diri sendiri yang merasa cukup.
Perubahan pola pikir ini mengurangi anxiety of singleness yang dulu memaksa banyak orang menerima hubungan yang kurang memuaskan. Misalnya, “Gak masalah deh disakiti pacar, yang penting nggak jomblo”. Padahal bertahan dalam luka hanya karena status sangatlah melelahkan dan bisa merusak mental secara perlahan.
Berbeda dengan sekarang, banyak orang sudah menganggap dirinya sendiri berharga dan bermakna, mereka tidak lagi bergantung pada pasangan, apalagi berpikir untuk “menghilangkan” status jomblo dengan menikah atau berpacaran agar bisa memperoleh validasi saja.
7. Media Sosial sebagai Alternatif Penghibur

Media sosial membuat orang lebih terhubung sekaligus lebih selektif dalam memahami karakter seseorang. Banyak orang merasa kalau dirinya bisa menjalin kedekatan emosional atau membangun relasi tanpa harus pacaran. Selain itu, tak sedikit pula orang yang lebih menyukai menonton konten self-development daripada harus memikirkan ribetnya membangun komitmen. Sebagian yang lain justru lebih nyaman scroll short video di TikTok karena bisa menonton banyak hiburan tanpa harus minta dihibur oleh pasangannya.
Beberapa kebutuhan yang terpenuhi itu membuat mereka untuk memilih jomblo atau single dan memutuskan untuk tidak memikirkan hubungan yang dianggap lebih merepotkan.
Sekarang bisa dipahami kan alasan orang jomblo di zaman modern seperti sekarang? Di antara trauma kolektif, trauma personal, ekspektasi tinggi, kebebasan baru, self-love, kritik struktural, validasi alternatif, dan intimasi digital, jomblo adalah strategi bertahan bagi sebagian orang. Ini berarti jomblonya seseorang bukan dianggap sebagai kekurangan.
Sekarang fokusnya bukan cenderung pada pola berpikir “kenapa belum punya pacar?”, tapi “apa yang membuatmu merasa utuh dan bahagia sekarang?”
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
Tim Dalam Artikel Ini
Penulis
Seorang Content Writer SEO dan Content Creator yang suka belajar hal-hal baru, terutama tentang transformasi dunia digital agar bermanfaat dan memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan yang relevan saat ini.
Editor
Seorang Content Writer SEO dan Content Creator yang suka belajar hal-hal baru, terutama tentang transformasi dunia digital agar bermanfaat dan memberikan solusi atas permasalahan-permasalahan yang relevan saat ini.