tirto.id – Sarjo Utomo, seorang kakek berusia 71 tahun, adalah salah satu dari 360 jemaah haji asal Embarkasi Yogyakarta atau YIA. Ia tergabung dalam Kloter YIA 1 yang mendarat di Bandara Madinah pada 22 April lalu.
Mbah Sarjo tidak hanya termasuk kategori usia lanjut atau lansia, tapi ia juga seorang penyandang disabilitas tunanetra. Namun, hal tersebut tidak mengendorkan semangat Mbah Sarjo dalam menunaikan rukun Islam kelima.
Saat tiba di Kota Madinah, para petugas haji yang tergabung dalam PPIH Arab Saudi 2026 sigap membantu jemaah. Mereka menuntun jemaah lansia turun dari bus dengan hati-hati. Dari sekian banyak jemaah lansia, terdapat seorang kakek tunanetra yang keluar dari bus, dituntun oleh seorang perempuan.
Beberapa petugas haji dengan sigap membantu si kakek turun dari bus dan menyiapkan kursi roda untuknya. Ia pun didorong menuju pintu masuk hotel tempatnya menginap selama berada di Madinah.
Bermula dari Kandang Sapi
Mbah Sarjo memulai hidup dari bawah. Saat masih muda, ia bekerja sebagai pembantu di peternakan sapi milik seorang pedagang. Pekerjaannya tidak ringan—membersihkan kandang, memberi makan, hingga mengantar hewan ke pasar.
Di tempat itulah ia belajar. Bukan melalui bangku sekolah, melainkan dari keseharian. Ia mengamati cara berdagang, memahami bagaimana transaksi terjadi, hingga mengenali pola pembeli. Pengalaman itu perlahan membentuknya.
Dari pembantu, ia beralih menjadi pedagang sapi. Usahanya berkembang pelan-pelan. Ia mulai mengumpulkan uang, membeli sebidang tanah, kemudian menambah lagi sedikit demi sedikit. Dari situ, ia memiliki sawah yang menjadi sumber penghidupan.

Mbah Sarjo tidak hidup mewah, tetapi cukup untuk membesarkan keluarga. Ia memiliki tiga anak. Dua di antaranya berhasil menempuh pendidikan tinggi, bahkan hingga Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Semua itu, cerita Mbah Sarjo, bukan karena ia mampu menyediakan segalanya, melainkan karena anak-anaknya juga berjuang. “Saya cuma mendukung saja,” ujarnya.
Saat hidup mulai stabil, ujian datang. Mbah Sarjo mengalami gangguan pada mata. Diagnosa dokter menyebutkan bahwa penyakit tersebut tidak bisa disembuhkan. Penanganan yang dilakukan justru memperburuk kondisi hingga akhirnya ia kehilangan penglihatan sepenuhnya.
Dalam situasi itu, pilihan terbuka. Ia bisa menggunakan harta yang dimilikinya untuk berobat—mencoba berbagai kemungkinan agar penglihatannya kembali—atau naik haji. Namun, Mbah Sarjo mengambil keputusan yang berbeda. Ia memilih berangkat haji.
Keputusan itu tidak ringan. Mbah Sarjo menjual sawah dan tanah yang selama ini ia kumpulkan. Aset yang menjadi hasil kerja bertahun-tahun dilepaskan untuk satu tujuan: berangkat ke Tanah Suci.
Seluruh asetnya—termasuk sawah—ia jual untuk biaya haji. Ia mendaftar bersama istri dan anaknya. Namun takdir kembali menguji: sang istri wafat 2,5 tahun lalu.
Bagi Mbah Sarjo, haji adalah panggilan iman. Ia ingin menunaikan rukun Islam kelima selagi masih diberi kesempatan. Ia juga menyadari usianya yang tak lagi muda. Baginya, haji bukan sekadar perjalanan, tetapi bekal.
“Saya ingin ibadah untuk sangu saya,” kata dia.
Mbah Sarjo mendaftar haji pada 2018, dan dijadwalkan berangkat pada 2041. Namun tahun ini, ia mendapatkan kesempatan lebih cepat karena mendampingi anak perempuannya sebagai mahram. Kesempatan itu datang di saat yang tidak ia duga.
Menjelang keberangkatan, ia sempat menghadapi kendala. Pembeli pertama tidak kunjung memberikan kepastian, sementara waktu pelunasan semakin dekat. Situasi itu membuat rencana keberangkatan nyaris gagal.
Namun beberapa hari sebelum batas akhir, datang pembeli lain yang langsung memberikan uang. Dari situlah perjalanan membawanya ke Tanah Suci.
“Jadi, saya ini Haji Wahyu. Haji karena sawah payu (laku),” katanya sembari tertawa.
Ia sadar kondisi fisiknya tidak lagi sekuat dulu. Karena itu, kesempatan tersebut tidak ingin ia tunda.
Setibanya di Madinah, Mbah Sarjo tidak memiliki banyak keinginan. Ia hanya ingin satu hal: bisa masuk ke Raudhah. Di tempat itu, ia ingin berdoa. Bukan untuk kesembuhan. Bukan untuk urusan dunia.
Ia hanya berharap bisa dipertemukan kembali dengan istrinya yang telah berpulang. “Pingin nyusul,” ucapnya.
tirto.id – Flash News
Reporter: Abdul Aziz
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Anggun P Situmorang