tirto.id – Tiga orang di perairan Atlantik dilaporkan tewas karena infeksi hantavirus. Ketiganya diduga meninggal akibat penyebaran infeksi penyakit zoonosis itu di kapal MV Hondius yang mereka tumpangi. Apa sebenarnya hantavirus?
Sebelumnya, seturut Al Jazeera, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bahwa ada enam orang yang diduga terinfeksi hantavirus dalam kapal HV Hondius. Dari enam orang tersebut, tiga di antaranya meninggal dunia.
Sejauh ini, kata WHO, dua di antara yang tewas adalah pasangan suami-istri. Salah satu di antara mereka telah dikonfirmasi terinfeksi hantavirus.
“Dari enam individu yang terdampak, tiga telah meninggal, dan satu saat ini berada di perawatan intensif di Afrika Selatan,” kata WHO dalam sebuah pernyataan pada Minggu (3/4/2026).
Orang pertama yang jatuh sakit dalam kapal pesiar mewah untuk ekspedisi wilayah kutub itu diidentifikasi sebagai seorang pria berusia 70 tahun. Ia jatuh sakit dan meninggal di kapal.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Afrika Selatan, Foster Mohale, menyebut bahwa jenazah pria tersebut kini disimpan di pulau Saint Helena, wilayah Inggris di Atlantik Selatan.
Istri dari pria ini, seorang perempuan berusia 69 tahun, juga jatuh sakit dengan gejala serupa. Ia sempat dilarikan ke fasilitas kesehatan di Johannesburg. Di sana, sang istri terkonfirmasi mengalami infeksi hantavirus dan meninggal kemudian.
Seturut The Guardian, sepasang suami-istri yang meninggal itu diidentifikasi sebagai warga negara Belanda. Sementara itu, satu orang tewas lain belum teridentifikasi, ia juga meninggal ketika dirawat secara intensif di rumah sakit di Johannesburg.
WHO mengatakan bahwa pihaknya kini masih menginvestigasi bagaimana hantavirus bisa menyebar di kapal pesiar mewah itu. Namun, Vinod Balasubramaniam, seorang ahli virologi molekuler di Universitas Monash Malaysia, menyebut ada tiga dugaan yang bisa menjelaskan hal tersebut.
Dugaan pertama adalah adanya hewan pengerat yang sudah terinfeksi hantavirus yang mengontaminasi kapal. Menurut Balasubramaniam, ada kemungkinan “tikus yang terinfeksi memiliki akses ke area penyimpanan… kabin dan ruang tertutup lainnya”.
Kedua, ada dugaan hantavirus telah menginfeksi orang-orang di kapal justru ketika berada di luar kapal saat berlabuh. Virus ini memiliki masa inkubasi yang panjang, sehingga memungkinkan para penumpang baru menunjukkan gejala setelah berada di kapal.
“Penumpang atau awak kapal secara teoritis dapat terpapar selama aktivitas di darat,” kata Balasubramaniam.
Dugaan ketiga adalah penularan dari manusia ke manusia. Balasubramaniam menyebut hal ini termasuk dalam kemungkinan, walaupun karakteristik hantavirus membuat persentase kemungkinannya kecil.
“Secara teoritis ini masuk akal, tetapi sangat [tidak mungkin],” kata Balasubramaniam.
Mengenal Hantavirus, Penyakit Langka Bersumber dari Hewan Pengerat
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menjelaskan hantavirus adalah virus berbahaya yang berasal dari hewan pengerat. Dalam ilmu taksonomi biologis, virus ini dikenal sebagai orthohantavirus.
Hewan pengerat seperti tikus dan mencit merupakan dijelaskan merupakan inang alami bagi virus ini. Bagi hewan pengerat, virus ini tidak fatal. Namun, virus ini dapat menyebabkan dampak yang parah jika menginfeksi manusia.
Menurut Profesor Adam Taylor dari Universitas Lancaster, setidaknya ada 38 spesies hantavirus yang diakui secara global kini. Dari jumlah teresebut, 24 di antaranya menyebabkan penyakit pada manusia.
Dampak infeksi hantavirus pada manusia terbagi menjadi dua jenis menurut tipe virusnya. Tipe virus pertama adalah “hantavirus dunia lama” yang ditemukan di Eropa dan Asia. Tipe virus ini memiliki tingkat kematian 1-15 persen pada manusia.
Hantavirus dunia lama ini dapat menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS). Gejalanya dapat berupa sakit kepala hebat, nyeri punggung dan perut, demam, dan potensi kerusakan ginjal.
Sementara itu, tipe virus kedua adalah “hantavirus dunia baru” yang ditemukan kawasan Amerika. Virus ini punya tingkat kematian hingga 40 persen pada manusia. Infeksi virus ini dapat memicu sindrom paru-paru dan gagal napas yang berkembang cepat.
Gejala yang mungkin terjadi pada pasien infeksi hantavirus dunia baru dapat berupa gejala seperti flu. Hal itu termasuk demam, kelelahan, dan nyeri otot.
Penelitian yang ada saat ini menyebut bahwa penyebaran hantavirus ke manusia dapat terjadi karena inhalasi atau kontak dengan kotoran, urin, dan air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Pada kasus yang lebih jarang terjadi, infeksi virus ini juga bisa berasal dari gigitan dan cakaran dari hewan yang terkontaminasi.
Hasil penelitian dari infeksi virus ini menyebut bahwa infeksi hantavirus dari manusia ke manusia kecil kemungkinan terjadi. Meski begitu, sebagaimana dijelaskan Vinod Balasubramaniam, hal ini tetap mungkin terjadi.
Balasubramaniam menyebut, sejauh ini, kendala utama pada penanganan infeksi virus ini adalah belum adanya antivirus yang efektif untuk menangkal hantavirus. Hal ini membuat penanganan medis pasien infeksi hantavirus kini lebih berfokus pada perawatan suportif.
“Kita belum memiliki obat antivirus yang benar-benar efektif,” kata Balasubramaniam.
tirto.id – Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar