Dengarkan artikel ini:
Tiga krisis menghantam PSI dalam 72 jam. Apakah Kaesang protagonis atau sekadar pewaris cerita orang lain?
“自分がダメな人間だと思うこともある。もう希望なんかないって。でも、僕は絶対に諦めない!” – Izuku Midoriya (My Hero Academia)
Cupin baru saja selesai menonton ulang arc Marineford di One Piece ketika ia membuka Twitter dan mendapati tiga headline tentang PSI berjajar di timeline-nya. Grace Natalie dilaporkan ke Bareskrim oleh 40 ormas Islam, Ade Armando mengundurkan diri dari partai, dan Bro Ron dipukuli hingga berdarah di Menteng.
Tiga krisis dalam 72 jam. Cupin meletakkan ponselnya dan berpikir: dalam anime mana pun, ini adalah momen yang seharusnya memaksa sang protagonis keluar dari bayang-bayang dan berdiri di garis depan.
Tapi Kaesang Pangarep, Ketua Umum PSI yang baru berusia 31 tahun itu, sedang berada di Sorong, Papua Barat Daya, melantik pengurus daerah. Jakarta sedang membara, dan sang kapten memilih melanjutkan jadwal di ujung timur Indonesia.
Cupin mengingat bahwa Kaesang menjadi anggota PSI pada September 2023 dan dua hari kemudian langsung menjadi Ketua Umum, tanpa pernah menjadi kader biasa atau merasakan pahitnya kalah dalam pemilihan internal. Sebuah lompatan yang, menurut Cupin, tidak akan pernah terjadi di anime shonen mana pun.
Cupin paham bahwa ada logika di balik pilihan itu. Ahmad Ali, Ketua Harian PSI, memang ditempatkan untuk mengelola operasional dan ia merespons dengan cukup sigap, mulai dari memanggil Grace untuk klarifikasi hingga menerima pengunduran diri Ade Armando.
Tapi Cupin juga paham bahwa politik adalah soal persepsi, bukan hanya soal manajemen. Dan persepsi yang terbentuk saat ini adalah bahwa PSI sedang dilanda badai sementara nahkodanya tidak terlihat di dek kapal.
Yang membuat Cupin lebih penasaran adalah konteks yang lebih luas. Sebelum tiga krisis ini meledak, 13 pengurus DPC PSI Semarang sudah mundur massal pada Februari 2026, dan kader yang melaporkan Jusuf Kalla atas polemik video ceramah UGM ternyata juga pejabat struktural di DPP PSI.
Cupin menyeduh kopi keduanya dan mulai bertanya-tanya. Apakah ini sekadar rangkaian kesialan, atau gejala dari sesuatu yang lebih mendasar di tubuh PSI? Dan yang lebih penting: apakah Kaesang Pangarep adalah tipe pemimpin yang tumbuh dari tekanan, atau justru tipe yang belum pernah benar-benar diuji?
Arc Kedua: Nakama yang Diwarisi, Bukan Dibangun
Cupin teringat satu pola yang selalu konsisten di setiap cerita shonen yang ia tonton sejak kecil. Protagonisnya, entah itu Naruto, Luffy, atau Deku, selalu membangun ikatan dengan cara yang sama: melalui pengalaman bersama menghadapi sesuatu yang sulit, bukan melalui transaksi atau jabatan.
Dalam dunia anime, ikatan semacam itu disebut nakama. Luffy tidak merekrut Zoro dengan menawarkan posisi, melainkan dengan menyelamatkannya dari eksekusi dan membuktikan bahwa ia bersedia mempertaruhkan nyawa untuk orang yang baru ia kenal.
Cupin melihat paralel yang menarik dengan dunia kepartaian. Samuel Huntington dalam Political Order in Changing Societies menyebut proses serupa sebagai value infusion, yaitu momen ketika nilai dan loyalitas tertanam begitu dalam sehingga organisasi menjadi bernilai pada dirinya sendiri, melampaui fungsinya sebagai kendaraan menuju tujuan-tujuan pragmatis.
PSI di bawah Kaesang belum pernah melewati momen foundational semacam itu. Kader yang bergabung setelah September 2023 masuk ke struktur yang sudah jadi, bukan ke perjuangan yang sedang berlangsung.
Mereka tidak tahu apakah Kaesang akan berdiri di depan ketika badai datang, karena badai belum pernah benar-benar datang sebelumnya. Krisis Mei 2026 seharusnya menjadi momen itu, tapi sang Ketum memilih mendelegasikan penanganannya ke Ahmad Ali.
Yang membuat Cupin mengernyit adalah cara PSI menangani anggotanya yang bermasalah. Ketika Grace dan Ade tersandung polemik, partai dengan cepat menegaskan bahwa itu urusan pribadi dan menolak memberikan bantuan hukum secara institusional.
Albert Hirschman dalam Exit, Voice, and Loyalty menjelaskan bahwa organisasi yang sehat membutuhkan tiga mekanisme sekaligus: kemampuan anggota untuk keluar, kemampuan menyuarakan kekhawatiran dari dalam, dan alasan yang cukup kuat untuk tetap tinggal. Ketika Ade Armando terpaksa mundur dan belasan pengurus Semarang memilih hengkang, itu bukan karena mekanisme internal gagal, melainkan karena mekanisme itu tidak pernah benar-benar ada.
Cupin membandingkannya dengan bagaimana Megawati Soekarnoputri membangun PDIP. Model kepemimpinan Megawati tentu punya banyak catatan, tapi satu hal yang sulit disangkal: ketika PDIP menghadapi Kudatuli 1996, kekalahan dari SBY, hingga hengkangnya Jokowi, Megawati selalu hadir di garis depan.
Dalam logika shonen, itu setara dengan kapten yang tidak pernah meninggalkan kru-nya menghadapi badai sendirian. Cupin bertanya pada dirinya sendiri: apakah Kaesang sudah membangun nakama-nya sendiri, atau ia masih mengandalkan kru yang diwariskan? Dan jika krisis Mei 2026 belum cukup untuk memicunya turun ke garis depan, krisis sebesar apa yang dibutuhkan?
Final Arc: Ambisi Milik Siapa?
Cupin selalu percaya bahwa ada satu hal yang membuat protagonis shonen berbeda dari karakter lain: ambisi mereka selalu spesifik dan selalu milik sendiri. Luffy ingin jadi Raja Bajak Laut, Naruto ingin jadi Hokage.
Spesifisitas itu bukan hiasan naratif, melainkan fungsi dramaturgi yang membuat penonton tahu persis apa yang sedang diperjuangkan. Dan ketika penonton tahu apa taruhannya, setiap kemajuan dan kemunduran terasa nyata.
PSI, menurut Cupin, memiliki ambisi yang masih kabur. Partai ini lahir sebagai partai anak muda dan progresif, tapi “anak muda” adalah kategori demografis dan “progresif” adalah suasana hati, bukan platform ideologis.
Ada pula kontradiksi yang membuat Cupin geleng-geleng kepala. PSI didirikan dengan semangat anti-dinasti, tapi kini dipimpin putra presiden dengan sang presiden sendiri sebagai Dewan Pembina.
Max Weber dalam Economy and Society membedakan tiga tipe otoritas: tradisional yang bersumber dari warisan, karismatik yang bertumpu pada daya tarik personal, dan rasional-legal yang berdiri di atas prosedur dan institusi. Kaesang memiliki modal karismatik yang tidak kecil karena ia muda, komunikatif, dan secara persona cukup disukai.
Tapi Weber juga memperingatkan bahwa karisma sebagai sumber otoritas itu tidak stabil dan tidak bisa ditransfer ke institusi tanpa proses yang ia sebut sebagai routinization. Tanpa proses itu, ketika sang pemimpin karismatik tidak mampu menjawab krisis, tidak ada sistem yang bisa mengambil alih.
Cupin teringat bagaimana Naruto di episode-episode awal bukan murid yang baik. Ia tidak sabaran, sering mengabaikan pelajaran, dan lebih mengandalkan tekad ketimbang strategi.
Tapi satu hal yang tidak pernah diragukan siapa pun: keinginannya untuk tumbuh itu genuine. Tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang memaksa.
Pertanyaan itu pula yang, menurut Cupin, perlu dijawab Kaesang. Bukan soal apakah ia cukup pintar atau cukup berpengalaman, melainkan apakah ambisinya membangun PSI cukup besar dan cukup genuine untuk memaksanya melewati rasa sakit yang dibutuhkan.
Antonio Gramsci pernah menulis bahwa setiap hubungan hegemonik pada dasarnya adalah hubungan pedagogis. Artinya, pemimpin yang baik adalah mereka yang bersedia menjadi murid sebelum menjadi guru.
Rasa sakit itu bisa berupa banyak hal: membangun ideologi partai yang benar-benar diyakini, hadir di garis depan ketika krisis datang, atau melepaskan kenyamanan menjadi heir dan memilih membangun sesuatu yang sepenuhnya miliknya. Jürgen Habermas dalam teorinya tentang ruang publik menegaskan bahwa legitimasi politik hanya bisa diperoleh melalui proses deliberatif yang terbuka, bukan melalui pewarisan.
Dalam shonen, episode pertama jarang menentukan nasib protagonis. Yang menentukan adalah bagaimana ia merespons ujian pertamanya: apakah ia menyalahkan keadaan, atau menggunakannya sebagai bahan bakar untuk membangun sesuatu yang lebih kuat.
Krisis Mei 2026 adalah episode pertama itu bagi Kaesang. Ceritanya masih sangat panjang sebelum siapa pun bisa memutuskan apakah ini arc seorang protagonis atau sekadar karakter yang lewat. (A43)