Bagi anak-anak, uang adalah alat tukar yang sangat praktis. Karena sumber uang murni dari orang tua, anak-anak biasanya akan mengalokasikan uangnya untuk membeli berbagai barang konsumtif seperti mainan, camilan, atau benda-benda lain yang diinginkan.
Perilaku ini sangat wajar dan natural bagi anak-anak. Sebab mereka belum memahami konsep keuangan seperti menabung atau investasi untuk masa depan. Meski begitu, bukan berarti edukasi keuangan tidak boleh menyasar anak-anak.
Pasalnya, melansir Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan tahun 2024 Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia hanya mencapai 65,43 persen. Rendahnya literasi keuangan ini dapat membuat masyarakat lebih rentan mengambil keputusan finansial yang kurang menguntungkan, yang pada akhirnya berpotensi mengganggu stabilitas keuangan di masa depan.
Lalu bagaimana orang tua dapat mengajarkan anak untuk menggunakan uang dengan lebih bijak? Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengenalkan konsep time value of money sejak dini pada anak.
Apa itu time value of money?
Time value of money (TVM) merupakan sebuah konsep dasar keuangan yang menyatakan bahwa uang yang dimiliki saat ini lebih berharga dibandingkan dengan jumlah yang sama yang akan diterima di masa depan. Jika diadaptasi ke Bahasa Indonesia konsep ini bernama nilai uang dari waktu ke waktu.
Sebagai ilustrasi, jika kamu mendapatkan dua opsi: opsi pertama, menerima sejumlah Rp100 ribu hari ini. Sedangkan pada opsi kedua uang Rp100 ribu tersebut diberikan pada tahun depan. Tentunya kamu akan memilih untuk menerima uang tersebut hari ini.
Contohnya, jika kamu memilih opsi pertama dan menginvestasikan uang tersebut dengan bunga 5% per tahun, maka dalam satu tahun uang tersebut akan tumbuh menjadi Rp105.000,00. Bayangkan jika kamu memilih opsi kedua, kamu akan rugi karena melewatkan kesempatan untuk mendapatkan bunga selama satu tahun.
Inilah mengapa uang hari ini lebih berharga dibandingkan uang yang sama yang diterima nanti. Jika kita memiliki uang sekarang, kita bisa menanam uang tersebut dalam bentuk tabungan atau investasi, yang kemudian akan berkembang seiring waktu. Dalam jangka panjang, uang ini bisa memberikan hasil yang jauh lebih besar dibandingkan membiarkannya atau menghabiskannya segera.
Mengapa anak perlu memahami konsep time value of money?
Secara umum, memahami konsep TVM sangat penting bagi setiap orang, karena uang yang kita miliki saat ini memiliki potensi untuk bertambah nilainya jika dikelola dengan bijak. Pemahaman akan TVM juga dapat membantu individu membuat keputusan finansial dengan lebih baik.
Namun edukasi konsep TVM sejak dini dapat membantu para generasi memupuk pola pikir tentang pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab. Kebiasaan finansial anak, termasuk pemahaman dasar tentang manajemen uang, mulai terbentuk sejak usia tujuh tahun.
Hal tersebut mengindikasikan bahwa anak-anak yang diperkenalkan konsep finansial sejak dini akan lebih mudah membentuk kebiasaan baik dalam hal menabung, berinvestasi, dan mengelola keuangan di kemudian hari. Pemahaman konsep TVM dapat pula mendorong anak untuk menyadari pentingnya menekan konsumsi bersifat konsumtif dan mengedepankan kebutuhan.
Studi menunjukkan output edukasi keuangan yang diterima anak-anak bisa menjadi sebuah kebiasaan positif yang terbawa hingga dewasa. Anak yang memiliki pengetahuan keuangan sejak dini juga cenderung terhindar dari masalah keuangan, yang akan berdampak positif pada stabilitas keuangan dalam jangka panjang.
Selain itu, pemahaman TVM tidak hanya mengajarkan anak menabung tetapi juga memberi mereka wawasan tentang investasi. Saat anak-anak menyadari bahwa uang yang disimpan atau diinvestasikan memiliki potensi untuk berkembang, mereka akan belajar untuk lebih produktif dalam mengelola keuangan.
Pengetahuan TVM juga penting dalam membentuk kemampuan mengambil keputusan keuangan yang matang. Anak yang memahami konsep TVM, akan terbiasa mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan finansial yang dibuat, yang kemudian akan membentuk perilaku keuangan yang sehat pada saat dewasa.
Strategi yang efektif bagi anak
Mengenalkan konsep TVM pada anak dapat dimulai dengan praktik langsung pendekatan dasar yang sederhana seperti menabung dengan menyisihkan sebagian dari uang sakunya. Orang tua bisa menjelaskan bahwa jika uang tersebut disimpan dalam rekening tabungan anak, nilainya akan terus bertambah.
Setelah kebiasaan dasar menabung sudah terasah, orang tua bisa meningkatkan pemahaman anak dengan berbagai fitur simulasi tabungan. Misalnya, setiap kali anak menabung Rp10 ribu dari uang sakunya, orang tua bisa memberikan tambahan Rp500 sebagai bunga. Studi menunjukkan bahwa pengalaman merupakan salah satu pendekatan yang efektif dalam mengajarkan konsep keuangan dasar kepada anak-anak.
Pendekatan efektif lainnya adalah melibatkan anak dalam keputusan keuangan dalam keluarga. Contohnya, orang tua bisa mengajak anak berdiskusi tentang pilihan belanja yang lebih hemat, seperti membandingkan harga produk untuk mendapatkan yang terbaik.
Hal tersebut dapat mengajarkan anak bahwa membelanjakan uang juga perlu didasari pikiran logis. Anak-anak sangat perlu diajakan untuk mendahulukan belanja kebutuhan dari belanja barang/jasa yang berlandaskan keinginan. Ketika orang tua mampu menunjukkan perilaku keuangan yang bijaksana, seperti menabung secara teratur, berinvestasi, dan merencanakan pengeluaran, anak-anak akan cenderung untuk meniru kebiasaan tersebut.
Manfaat jangka panjang time value of money pada anak
Memahami TVM memberikan dampak jangka panjang yang signifikan bagi kehidupan anak ketika dewasa. Anak yang sejak kecil memahami pentingnya mengelola uang cenderung lebih disiplin, tidak mudah melakukan pengeluaran impulsif, dan lebih percaya diri dalam membuat keputusan finansial.
Pemahaman ini juga membentuk dasar kehidupan finansial yang mandiri, di mana anak mampu menabung dan berinvestasi untuk mencapai tujuan besar. Membiasakan anak dengan prinsip keuangan seperti TVM pada akhirnya dapat mendorong anak menjadi individu yang lebih bijaksana dalam menghadapi kebutuhan dan tantangan keuangan.
Saat ini, pemahaman TVM di Indonesia masih rendah. Ini tercermin dari rendahnya minat investasi di Indonesia. Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia, hingga Oktober 2024, jumlah investor pasar modal di Indonesia baru mencapai 14 juta orang, atau hanya sekitar 5% dari total populasi di Indonesia.
Angka ini mengindikasikan bahwa banyak masyarakat yang masih enggan berinvestasi, padahal investasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan nilai uang di masa depan. Selain itu, investasi juga berguna untuk menghindari penurunan daya beli akibat inflasi, yang berkisar 3.5 persen per tahun dalam 10 tahun terakhir.
Tanpa berinvestasi atau menabung pada instrumen yang menghasilkan keuntungan di atas inflasi, uang yang dimiliki akan tergerus nilainya seiring waktu. Pentingnya pemahaman TVM juga sangat relevan untuk mencegah fenomena yang saat ini marak dibicarakan, yaitu fenomena makan tabungan.
Fenomena ini menggambarkan situasi di mana orang menggunakan tabungan untuk kebutuhan sehari-hari karena kurangnya pendapatan atau perencanaan keuangan jangka panjang. Jika masyarakat memahami konsep TVM, mereka akan lebih terdorong untuk menyisihkan sebagian penghasilan secara konsisten, baik dalam bentuk investasi ataupun tabungan.
Seiring waktu, tabungan atau investasi tersebut akan tumbuh dan menyediakan dana yang bisa diandalkan di masa-masa sulit tanpa perlu “makan” tabungan utama. Di samping itu, TVM mengajarkan bahwa uang yang disimpan atau diinvestasikan lebih awal akan berkembang secara lebih optimal.
Jika seseorang mulai menabung sejak dini, tabungan tersebut dapat tumbuh secara eksponensial (hingga berganda) seiring waktu, sehingga pada saat pensiun, orang tersebut memiliki dana yang cukup tanpa harus bergantung pada tabungan utama. Bahkan edukasi keuangan dini, termasuk TVM ini bisa jadi pencegah terpaparnya perilaku keuangan negatif seperti pinjaman online dan judi online.