Dari kontroversi hingga kebanggaan, animasi lokal punya banyak cerita. Ini deretan karya yang layak jadi pilihan tontonan kamu.
Siapa nih yang belakangan fyp dan feed media sosialnya lagi ramai oleh pembahasan film animasi buatan Indonesia Merah Putih: One For All?
Ada yang penasaran dan langsung menonton trailer-nya, ada yang sekadar melihat cuplikan lalu scroll lagi, dan mungkin ada juga yang baru dengar namanya hari ini lalu ikut penasaran. Wajar saja, karena kehadiran film ini memang memicu rasa ingin tahu, mulai dari kualitas animasinya, deretan kreator di balik layar, sampai alasan kenapa banyak orang membicarakannya. Jadi, kalau kamu masih bertanya-tanya, “Sebenarnya ini film apa sih? Kok banyak yang membahas?”, yuk kita kupas pelan-pelan.
Film animasi buatan Indonesia berjudul Merah Putih: One For All ini bercerita tentang delapan anak dari berbagai daerah, mulai dari Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan Tionghoa yang membentuk Tim Merah Putih. Mereka dipertemukan dalam misi penting: mencari bendera pusaka yang hilang secara misterius hanya dalam kurum waktu tiga hari sebelum upacara 17 Agustus. Petualangan mereka melintasi hutan lebat, sungai deras, hingga badai besar, sambil menghadapi perbedaan karakter, bahasa, dan cara pandang yang kerap memicu konflik. Namun, justru di tengah perbedaan itulah mereka belajar arti persatuan, kerja sama, serta pengorbanan wujud cinta tanah air Indonesia.
Merah Putih: One For All digarap oleh Perfiki Kreasindo di bawah Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail dengan biaya sekitar Rp 6,7 miliar yang sepenuhnya berasal dari internal dan investor pribadi. Rumor dukungan pemerintah dibantah tegas oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar lewat Instagram Stories 10 Agustus 2025, yang menyebut keterlibatan mereka hanya sebatas masukan teknis.
Meski mengusung semangat nasionalisme dan keragaman budaya, film ini menuai kritik karena animasi yang dinilai kurang halus, ekspresi kaku, dan dugaan penggunaan aset siap pakai. Perbandingan pun muncul dengan animasi lokal lain seperti Jumbo. Sutradara Endiarto menjelaskan bahwa film ini hasil gotong royong tim kecil sejak Juni 2025, dikebut untuk rilis sebelum HUT ke-80 RI pada 14 Agustus 2025. Baginya, karya ini adalah kontribusi nyata untuk menanamkan persatuan dan cinta tanah air.
Perjalanan produksinya menjadi contoh nyata bahwa industri animasi Indonesia punya potensi besar untuk berkembang. Nah, selain Merah Putih: One For All, berikut beberapa film animasi buatan Indonesia lain yang memikat dari segi cerita dan visual.
5 Film Animasi Buatan Indonesia yang Wajib Masuk List Tontonan
1. Jumbo (2025)

Film Animasi buatan Indonesia yang pertama adalah Jumbo. Yap film yang mendapat apresiasi dari masyarakat Indonesia. Dirilis pada 31 Maret 2025. berkisah tentang Don, anak yatim yang sering diremehkan karena tubuhnya besar, namun bertekad tampil di panggung bakat dengan cerita dari buku warisan orang tuanya. Film ini dibuat selama lima tahun oleh lebih dari 400 kreator dan berhasil menjadi film animasi terlaris sepanjang masa di Indonesia, melewati Frozen 2 dan meraih lebih dari 9,6 juta penonton lokal serta pendapatan lebih dari US$20 juta. Bahkan sampai sekarang, lagunya masih di putar dimana-mana.
2. Battle of Surabaya (2015)

Salah satu karya film animasi buatan Indonesia yang berkesan adalah Battle of Surabaya, animasi 2D berlatar Perang Surabaya 1945. Dibuat oleh MSV Pictures dan Amikom Yogyakarta, film ini dirilis pada 20 Agustus 2015 Visualnya bergaya anime dan ceritanya emosional, menjadikan film animasi buatan Indonesia ini salah satu film animasi favorite di kalangan pecinta film nasional.
Battle of Surabaya adalah salah satu film animasi 2D Indonesia yang mendapat perhatian luas, berlatar peristiwa bersejarah Perang Surabaya tahun 1945. Menceritakan tentang Musa, seorang pemuda tukang sepatu yang secara tak terduga terlibat dalam perjuangan kemerdekaan dengan menjadi kurir pesan rahasia di tengah situasi perang yang penuh bahaya.
Dengan visual bergaya anime yang dipadukan sentuhan lokal, film ini memadukan aksi, drama, dan nilai sejarah, serta menyampaikan pesan tentang perdamaian dan pengorbanan. Battle of Surabaya tidak hanya diapresiasi di Indonesia, tetapi juga meraih berbagai penghargaan internasional, menjadikannya salah satu pencapaian penting dalam industri animasi tanah air.
3. Nussa (2021)

Film animasi Indonesia ini berawal dari serial edukasi populer di YouTube yang menceritakan keseharian Nussa dan adiknya, Rara, dengan nuansa Islami yang hangat. Kesuksesan serial tersebut mendorong The Little Giantz dan Visinema Pictures mengadaptasinya ke layar lebar pada 14 Oktober 2021.
Kisahnya berfokus pada persaingan lomba sains antar sekolah. Nussa, juara bertahan dengan roket buatannya, mulai goyah saat hadir Jonni, murid baru dengan teknologi lebih canggih. Dari situ, Nussa belajar tentang kerja sama, sportivitas, rasa syukur, dan arti keluarga, dibalut animasi 3D yang halus dan penuh warna.
4. Si Juki The Movie: Panitia Hari Akhir (2017)

Si Juki, debut layar lebar Film animasi buatan Indonesia ini bergenre animasi komedi yang tidak hanya menghadirkan kisah kocak namun juga penuh aksi. Si Juki, selebriti nyentrik yang sedang berada di puncak ketenaran, mendadak berubah menjadi musuh publik nomor satu akibat sebuah blunder fatal. Namun, nasib membawanya pada misi gila: menyelamatkan Indonesia dari hantaman meteor raksasa! Bersama Erin, ilmuwan muda jenius, Juki terjun ke petualangan absurd yang memadukan humor khas, visual 2D penuh warna, dan momen heroik yang tak terduga. Perpaduan komedi urban dan aksi “penyelamatan dunia” membuat film ini jadi tontonan unik di perfilman animasi lokal.
5. Si Juki The Movie: Harta Pulau Monyet (2024)

Tujuh tahun setelah debut layar lebarnya, Si Juki kembali mengocok perut penonton lewat petualangan baru yang lebih segar dan penuh warna. Kali ini, Juki dan keluarganya terjebak dalam pencarian harta karun misterius di sebuah pulau terpencil yang dihuni monyet-monyet cerdik. Perjalanan yang awalnya hanya iseng berubah menjadi serangkaian kejadian kocak, jebakan tak terduga, hingga aksi kejar-kejaran yang absurd. Dengan humor satir khas Juki, desain visual yang lebih modern, dan atmosfer petualangan ala film keluarga, Si Juki The Movie: Harta Pulau Monyet menawarkan hiburan ringan yang tetap setia pada karakter aslinya, sambil memperluas dunianya ke skala yang lebih liar dan seru.
Saatnya Jelajahi Dunia Film Animasi Buatan Indonesia dan Temukan Favoritmu.

Masing-masing film animasi yang disebutkan di atas punya keunikan dan kekuatan tersendiri. Jumbo membuktikan animasi Indonesia bisa meraih rekor box office. Battle of Surabaya menunjukkan kedalaman tema sejarah dengan gaya visual yang serius. Nussa mengedukasi dengan manis tanpa menggurui. Sementara kedua Si Juki memberikan tawa segar dan cita rasa lokal yang ringan.
Pembahasan seputar Merah Putih: One For All memang membuka diskusi penting tentang bagaimana animasi Indonesia dikelola dan diterima. Tapi kacamata itu juga sebaiknya kita lapisi dengan apresiasi terhadap animasi lain yang sudah dibuktikan menarik dan sukses—baik secara kritik maupun penonton. Mungkin akan lebih bijak kalau kita tunggu saja tanggal penayangan Film Merah Putih: One For All baru berkomentar. Selain itu kamu juga bisa mulai menonton salah satu rekomendasi film animasi lainnya, siapa tahu kamu bisa menemukan film animasi buatan Indonesia favorit kamu. Selamat menjelajah!