tirto.id – Iran dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah saling berbalas usulan kesepakatan penghentian perang sejak pekan lalu. Meskipun adanya komunikasi merupakan sinyal positif, ada sejumlah hal yang perlu diketahui terhadap potensi kesepakatan tersebut.
Sebelumnya, Teheran dilaporkan telah mengirim proposal perdamaian ke Washington pada pekan lalu. Washington kemudian merespons dengan mengirim proposal versi mereka pada Minggu (3/5/2026) melalui Pakistan.
Presiden AS Donald Trump juga belakangan memberikan sinyal bahwa pihaknya kini berfokus pada upaya diplomasi. Pada Selasa (5/5), Trump mengumumkan penundaan operasi militer untuk membuka jalur navigasi Selat Hormuz sambil mengklaim akhir perang akan segera tiba.
Menukil Al Jazeera, Trump kembali menegaskan klaim tersebut pada Rabu (6/5). Ia menyebut bahwa pembicaraan dengan Iran telah berlangsung secara positif.
“Kami memiliki pembicaraan yang sangat bagus dalam 24 jam terakhir, dan sangat mungkin kami akan membuat kesepakatan,” katanya kepada para reporter di Gedung Putih.
Akan tetapi, sinyal itu tidak bisa dipandang sepenuhnya sebagai perkembangan positif. Hambatan dalam perundingan yang melingkupi proses kesepakatan bersama ini disebut masih besar.
Mohamad Elmasry, salah satu profesor di Institut Studi Pascasarjana Doha, menyebut bahwa hambatan tampak jelas dalam komentar Iran tentang proposal terbaru yang dikirim AS. Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan negosiasi Iran-AS harus dilakukan dengan itikad baik dan tanpa upaya memaksa.
“Itu dapat dianggap sebagai indikasi negatif bahwa apa yang ada dalam proposal itu tidak membahas tuntutan Iran dengan cara yang dapat diterima,” kata Elmasry, sembari menjelaskan bahwa potensi tercapainya kesepakatan mengecil jika AS terus bersikap memaksa Iran untuk menyerah.
Hambatan Perundingan AS-Iran
Proposal terbaru yang dikirimkan AS pada Minggu tersebut dilaporkan merupakan dokumen satu halaman. Dokumen itu disebut berisi nota kesepahaman agar Iran melonggarkan cengkeramannya di Selat Hormuz dan AS secara bertahap mencabut blokade militernya terhadap pelabuhan Iran.
Outlet berita Axios merupakan yang pertama melaporkan informasi tentang isi dokumen satu halaman itu dan menyebut bahwa program nuklir Iran juga masuk dalam pembahasan, namun detail kesepakatan terkait isu ini akan dinegosiasikan lebih lanjut dalam periode 30 hari.
Seturut ABC News, pemerintahan Trump telah mengubah sikap mereka dalam proposal tersebut. Para pejabat AS yang mengetahui pembicaraan terkait hal ini menyatakan bahwa Trump mengubah sikap terhadap Iran setelah muncul tekanan internasional, tanda gencatan senjata berisiko runtuh, dan keraguan atas operasi pembukaan Hormuz oleh militer AS.
Akan tetapi, pemerintahan Trump juga disebut masih memiliki sejumlah hambatan besar dalam melakukan negosiasi dengan Teheran. Salah satunya adalah pemerintahan Trump sama sekali tak yakin apakah rezim Iran kini cukup bersatu untuk menyetujui kesepakatan.
Selain itu, pemerintahan Trump juga dilaporkan masih belum menentukan keputusan terkait tuntutan Iran untuk agar AS membuka blokade. Teheran sebelumnya telah menyatakan tuntutan untuk membuka blokade jika perundingan ingin dilanjutkan.
Blokade terhadap pelabuhan Iran telah menciptakan tekanan ekonomi yang sangat besar bagi Teheran. Pemerintahan Trump disebut masih menganggapnya sebagai keuntungan besar bagi AS dan belum menunjukkan kemauan untuk membukanya.
Sementara itu, kompromi tampaknya telah lebih tampak terjadi pada negosiasi terkait program nuklir. Teheran disebut telah menyatakan kesediaan untuk memindahkan cadangan uranium yang telah diperkaya mereka ke luar negeri.
Selain itu, sinyal positif juga disebut telah tampak pada topik seputar penangguhan pengayaan uranium Iran pasca perang ini. Teheran dan Washington disebut telah menunjukkan potensi mencapai kesepakatan terkait batas waktu minimal penangguhan tersebut.
Iran lebih Fokus Soal Berakhirnya Perang dan Pembukaan Selat Hormuz
Sementara hambatan dalam negosiasi pengakhiran perang masih dipenuhi ketidakjelasan, Iran diperkirakan bakal mengirimkan respons atas proposal terbaru AS pada hari ini, Kamis (7/5).
Seorang anggota parlemen Iran dan mantan menteri luar negeri menyebut pada Kamis bahwa tanggapan tersebut diperkirakan bakal disampaikan ke Pakistan, sebelum dikirim ke AS.
Respons tersebut digambarkan berfokus pada kesepakatan penghentian perang dan kejelasan situasi di Selat Hormuz. Melalui tanggapan itu, Iran disebut menuntut diakhirinya perang di semua lini, jaminan langsung Dewan Keamanan PBB, pencabutan sanksi, dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Mengenai pembukaan selat penting perdagangan energi dunia itu, Teheran ingin melegalisasi apa yang disebut “Otoritas Selat Teluk Persia”. Mereka mengatakan rezim maritim di selat itu telah berubah dan karenanya setiap kapal yang melewatinya perlu berkomunikasi dengan otoritas Iran.
Respons tersebut juga disebut memuat ketentuan bahwa tuntutan-tuntutan tersebut harus terlebih dahulu tercapai, sebelum pembahasan lebih lanjut terkait program nuklir dapat dilakukan.
tirto.id – Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar