Gaza | Internasional | Israel | Palestina
FOMOMEDIA – Agresi militer Israel ke Rafah terus dilanjutkan. Ribuan warga Israel mendesak sang perdana menteri Benjamin Netanyahu untuk mundur dari jabatannya.
Di tengah gempuran Pasukan Pertahanan Israel (IDF) terhadap wilayah Gaza, Palestina, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu didesak mundur oleh rakyatnya.
Baru-baru ini, Israel melakukan pemboman besar-besaran terhadap wilayah Gaza utara. Dalam pertempuran pada Minggu (12/5/2024) kemarin, para pentolan Hamas dianggap semakin terpojok.
IDF mengklaim bahwa pihaknya telah mengamankan wilayah itu. Hamas dan warga Palestina pun melarikan diri dari Gaza utara.
Di sisi lain, Israel terus melakukan agresi militernya ke wilayah selatan Gaza. Seperti yang terjadi di Kota Rafah, IDF terus melakukan operasi untuk menyisir anggota Hamas.
Langkah agresi Israel di Rafah mendapat kecaman dari berbagai pihak. Apalagi, ada lebih dari 1 juta warga Palestina yang masih mengungsi di kota itu.
Itu disampaikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka melalui pesan video pada Selasa (7/5/2024). Netanyahu bilang, Israel tidak dapat menerima proposal yang membahayakan keamanan warga dan masa depan negaranya.
Selain itu, Israel bersikeras tidak akan… pic.twitter.com/rcuYb79OqJ
— Narasi Newsroom (@NarasiNewsroom) May 8, 2024
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut bahwa Kota Rafah adalah benteng terakhir pasukan militan Palestina. Ia ingin memastikan bahwa pada masa depan tidak ada lagi serangan dari Hamas.
Perundingan gencatan senjata semakin sulit untuk mencapai kata sepakat. Israel tetap kukuh ingin membasmi Hamas hingga tak tersisa.
Kecaman dari dunia internasional mengalir. Israel dianggap tidak peduli dengan warga sipil Palestina.
“Perintah evakuasi terbaru berdampak pada hampir satu juta orang di Rafah. Jadi, ke mana mereka harus pergi sekarang? Tidak ada tempat yang aman di Gaza! Orang-orang yang kelelahan dan kelaparan ini, banyak di antaranya telah mengungsi berkali-kali, tidak mempunyai pilihan lagi,” kata Volker Türk, komisaris tinggi PBB untuk hak asasi manusia, dikutip dari The Guardian.
BACA JUGA:
Gelombang Protes di Israel
Langkah agresi militer Israel ke Kota Rafah dianggap sebagai langkah yang tidak tepat. Bahkan, warga Israel sendiri juga banyak menentang langkah Netanyahu.
Setidaknya ada ribuan warga Israel selama akhir pekan kemarin menyerukan dukungan gencatan senjata. Para warga Israel ingin supaya Netanyahu bisa memulangkan para sandera yang masih ditahan Hamas.
Namun, Netanyahu justru langsung mengerahkan pasukannya untuk menyisir Kota Rafah. Gara-gara inilah kemudian ribuan warga Israel menuntut sang perdana menteri untuk mundur dari jabatannya.
“Semoga setiap orang tua Israel ingat bahwa mereka menyerahkan nyawa anak mereka di tangan Netanyahu, yang telah mengecewakan mereka,” tulis poster pengunjuk rasa warga Israel di Kota Haifa, dikutip dari The Guardian.
Harapan akan penyerahan sandera sebetulnya sudah mencuat sejak pekan lalu. Setidaknya ada 132 warga Israel yang ditahan Hamas bisa dibebaskan dengan perjanjian gencatan senjata.
Namun, harapan itu pupus usai Netanyahu menolak gencatan senjata yang ditawarkan Hamas. Warga Israel pun kecewa bahwa Netanyahu tidak mau menerima tawaran Hamas itu.
Selain para warga yang memprotes langkah Netanyahu, dari beberapa media lokal Israel juga dianggap semakin kritis. Apalagi, dalam beberapa hari lalu, media Al Jazeera ditutup paksa oleh pemerintah Israel.
Kini, berbagai media di Israel semakin kritis terhadap Netanyahu. Ia dianggap gagal menguraikan proposal praktis untuk pemerintahan baru di Gaza. Bahkan, ia dianggap tidak berniat membuat negara Palestina ada.
Penulis: Sunardi
Editor: Safar
Ilustrator: Vito