Magang adalah pengalaman yang sangat penting bagi mahasiswa karena memberikan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari di kelas ke dalam situasi nyata. Melalui magang, mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan praktis, memperluas jejaring profesional, dan memperdalam pemahaman mereka tentang bidang yang dipilih. Selain itu, magang membantu mahasiswa untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja dengan memberikan pengalaman langsung yang relevan dengan karier yang diinginkan.
Di Indonesia, fenomena magang semakin berkembang melalui program seperti Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Program ini memberikan peluang bagi mahasiswa untuk magang di berbagai organisasi, termasuk lembaga riset.
Namun, lebih banyak mahasiswa yang memilih untuk magang di organisasi nonriset seperti perusahaan dan lembaga nirlaba karena keterbatasan akses, pendanaan, serta kurangnya kerjasama antara pusat riset dan perguruan tinggi. Ini menghambat mahasiswa untuk melakukan magang penelitian—program yang memungkinkan mahasiswa menjadi bagian dari tim riset pada sebuah pusat riset, universitas, atau lembaga penelitian tertentu.
Padahal, magang penelitian di pusat riset, terlebih kelas dunia seperti The Joint Research Center for Human Retrovirus Infection (JRCHRI), Kumamoto University, Jepang, dapat memberikan peluang yang lebih besar bagi mahasiswa (baik jenjang sarjana, magister, dan doktoral) untuk belajar dan mengembangkan keterampilan riset. Pengalaman ini tidak hanya memungkinkan mahasiswa untuk mengaplikasikan teori, tetapi juga memperkaya keterampilan profesional yang sangat diperlukan di dunia kerja atau untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Manfaat magang penelitian
Di berbagai negara maju, program magang penelitian telah menjadi strategi untuk menarik mahasiswa terbaik yang ingin mengembangkan kemampuan mereka. Masing-masing negara memiliki ciri khas dalam mempraktikkan program magang penelitian.
1. Amerika Serikat: Menjaga semangat penelitian yang inklusif
Harvard Medical School (HMS) di Amerika Serikat (AS) menyelenggarakan program magang yang fokus untuk menjaga semangat riset di kalangan mahasiswa.
Program ini juga mendorong inklusivitas dan menghormati keberagaman latar belakang peserta, sehingga menciptakan lingkungan penelitian yang kaya perspektif. Di laboratorium, para mahasiswa didorong untuk mengeksplorasi berbagai aspek riset tanpa tekanan yang berlebihan, sehingga mereka bisa mengembangkan rasa percaya diri dalam mengeksplorasi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
2. Jepang: Dukungan yang memudahkan
Program magang di Kumamoto University, Jepang, memiliki salah satu pendekatan yang cukup relevan untuk diadopsi di Indonesia. Di kampus ini, program magang penelitian dikelola oleh pusat riset, bukan hanya di bawah laboratorium tertentu. Hal ini membuat proses seleksi dan alokasi mahasiswa magang penelitian menjadi lebih terkoordinasi dan efisien.
Program seperti ini juga menyediakan dukungan finansial untuk biaya perjalanan dan akomodasi yang meningkatkan aksesibilitas bagi mahasiswa internasional dari berbagai negara. Struktur organisasi ini memberikan kemudahan bagi laboratorium untuk menerima mahasiswa magang, karena institusi yang bertanggung jawab terhadap sebagian besar aspek logistik dan administratif.
Pada awal 2024, saya melakukan magang penelitian selama dua bulan di Division of Genomics and Transcriptomics, The Joint Research Center for Human Retrovirus Infection (JRCHRI), Kumamoto University, Jepang dengan bimbingan mentor Yorifumi Satou, salah satu profesor dan peneliti terbaik di bidang virologi, khususnya golongan retrovirus.

Anggota tim riset dalam divisi ini terdiri dari lima negara berbeda (Bangladesh, Indonesia, Jepang, Malaysia, dan Mesir). Kami melakukan terobosan berbasis genomik dan transkriptomik untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan akibat virus.

Beberapa virus yang kami kaji adalah SARS-CoV-2 (virus penyebab pandemi COVID-19), HIV (virus penyebab penurunan kekebalan tubuh atau AIDS), HTLV (virus penyebab kanker pada sel darah putih), HPV (virus penyebab kanker serviks), dan BLV (virus penyebab masalah kesehatan pada sapi dan berkerabat dekat dengan HTLV).
Berdasarkan pengalaman saya, program ini sangat relevan bagi mahasiswa untuk memperdalam keilmuan yang telah diperoleh, terlebih jika ingin memperdalam hal tertentu yang tidak ada di kampus.
Adanya dukungan mentor yang efektif juga menjadi faktor utama dalam suksesnya program magang penelitian. Mentor yang berpengalaman, seperti Prof. Yorifumi Satou, dapat membimbing mahasiswa dalam mengembangkan keterampilan teknis sekaligus keterampilan lain seperti komunikasi, manajemen waktu, dan adaptasi terhadap lingkungan kerja penelitian yang dinamis.
3. Afrika Selatan: Kolaborasi dengan industri
Mengelola program magang penelitian di kampus dan pusat riset tentunya tidak lepas dari tantangan. Salah satu tantangan utama adalah pendanaan dan kapasitas institusi.
Untuk mengatasi keterbatasan ini, kampus dan pusat riset di Indonesia dapat menjalin kemitraan dengan pemerintah, lembaga donor, dan pihak swasta yang relevan untuk dapat membantu mendukung pendanaan.
Selain itu, kolaborasi dengan sektor industri juga dapat membantu menyiapkan mahasiswa dengan pengalaman kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, karena mahasiswa magang penelitian bisa belajar secara langsung dari tantangan nyata di lapangan.
Salah satu contohnya adalah Durban University of Technology di Afrika Selatan. Kampus ini bekerja sama dengan perusahaan tebu untuk menyediakan program magang penelitian. Sehingga, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman penelitian tetapi juga berkontribusi dalam mencari solusi bagi tantangan yang dihadapi perusahaan tersebut.
Adopsi di Indonesia
Kampus dan pusat riset di Indonesia dapat mengadopsi pendekatan-pendekatan di atas dengan memberikan kesempatan yang setara bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang, menciptakan lingkungan penelitian yang mendukung kolaborasi dan pertukaran ide, serta memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk mengeksplorasi berbagai topik penelitian tanpa tekanan yang berlebihan.
Selain itu, Indonesia juga bisa menerapkan model kemitraan dengan melibatkan perusahaan-perusahaan lokal atau multinasional. Hal ini untuk mendukung mahasiswa melakukan penelitian yang relevan dengan kebutuhan industri. Harapannya, kolaborasi kuat dapat tercipta antara sektor akademis (kampus dan pusat riset) dengan sektor industri.
Contoh nyata yang telah terselenggara misalnya, MBKM Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang merupakan program mentoring riset dari BRIN untuk mahasiswa.
Program ini bertujuan mempersiapkan mahasiswa untuk siap terjun ke dunia kerja, terutama di bidang riset dan inovasi. Caranya dengan memberikan pengalaman belajar di luar kurikulum akademis serta mengembangkan kompetensi sesuai minat dan bakat. Program ini dapat dikembangkan dengan memperkuat dukungan dari berbagai pihak.
Dengan adanya dukungan yang memadai, program magang penelitian ini bisa menjadi investasi jangka panjang bagi pengembangan sumber daya manusia di Indonesia dan juga dunia. Pasalnya, program magang penelitian yang dikelola dengan baik tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa, tetapi juga bagi kampus dan pusat riset yang menjadi tuan rumah.