Gonjang-ganjing Perang Konser ASEAN

gonjang-ganjing-perang-konser-asean
Gonjang-ganjing Perang Konser ASEAN
Share

Share This Post

or copy the link

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Setelah Singapura berhasil gelar konser ekslusif Taylor Swift dan Lady Gaga, kini giliran Thailand yang akan gelar Tomorrowland Asia pertama. Alarm gonjang-ganjing perang konser ASEAN bayangi Indonesia?


PinterPolitik.com

“What that Coachella pay like? It was eight figures” – Tyler, The Creator, “THAT GUY” (2024)

Cupin sedang bersandar di kamar kosnya ketika matanya tertumbuk pada sebuah unggahan berita di media sosial: Tomorrowland Asia pertama akan digelar di Thailand pada 2026. Ia berhenti menggulir layar, membaca perlahan, lalu membatin—ini bukan sekadar konser biasa.

Tomorrowland dikenal sebagai festival musik elektronik terbesar dan paling megah di dunia. Berbasis di Belgia sejak 2005, festival ini dikenal dengan tata panggung fantastis, efek visual teatrikal, dan line-up DJ papan atas global.

Kini, untuk pertama kalinya, Tomorrowland akan hadir secara penuh di Asia, tepatnya di Chon Buri, Thailand. Pemerintah Thailand bahkan menjadikannya bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan sektor pariwisata dan menegaskan posisi budaya Thailand di pentas global.

Cupin, seorang mahasiswa yang gemar musik EDM, teringat bagaimana dalam setahun terakhir kawasan Asia Tenggara seolah berubah menjadi magnet pertunjukan musik internasional. Taylor Swift memilih Singapura, Coldplay menjual habis stadion di Jakarta dan Kuala Lumpur, sementara My Chemical Romance mengguncang sejumlah negara Asia Tenggara.

Fenomena ini telah disebut banyak pengamat sebagai “perang konser” antarnegara ASEAN—kompetisi tak langsung untuk memperebutkan status sebagai pusat hiburan regional. Di baliknya ada strategi ekonomi kreatif, kebijakan visa yang longgar, insentif untuk promotor, hingga diplomasi budaya yang makin diperhitungkan.

Bagi Cupin, ini membuka kesempatan yang sebelumnya terasa jauh: menyaksikan festival berskala global tanpa harus terbang ke Eropa. Namun di balik rasa antusiasnya, ia juga mulai bertanya-tanya.

Mengapa “perang konser” ini bisa terjadi? Apakah ini sekadar tren global yang kebetulan mampir ke ASEAN, atau justru merupakan sesuatu yang unik, lahir dari dinamika kultural dan politik khas kawasan ini?

ASEAN Perang Taylor Swift

Adu Keren ala Tetangga di “Kampung” ASEAN?

Suatu sore, Cupin duduk di warung kopi sambil membaca artikel jurnal dari ponselnya. Ia baru saja menyelesaikan esai kuliah tentang politik kawasan dan menemukan istilah yang menarik: The ASEAN Way.

Istilah itu merujuk pada pendekatan khas ASEAN yang menekankan musyawarah, non-intervensi, dan konsensus dalam menyelesaikan isu-isu regional. Dalam tulisan The ASEAN Way: The Way to Regional Peace? karya Susy Tekunan, pendekatan ini dinilai berhasil menciptakan stabilitas politik di kawasan Asia Tenggara tanpa harus membentuk institusi yang kaku dan mengikat.

Berbeda dari Uni Eropa yang mengedepankan integrasi kelembagaan dan hukum bersama, ASEAN lebih bersandar pada norma, budaya komunikasi, dan hubungan informal antar pemimpin. Justru lewat cara inilah, kawasan ini mampu menjaga perdamaian relatif sejak dekade 1990-an hingga kini.

Cupin membandingkan stabilitas ini dengan kemunculan “perang konser” yang makin terasa di Asia Tenggara. Alih-alih konflik geopolitik, negara-negara ASEAN kini bersaing dalam bidang ekonomi kreatif dan pariwisata—dari panggung konser hingga festival budaya.

Fenomena ini seperti adu keren antar-tetangga di kampung: siapa yang bisa mendatangkan bintang terbesar, siapa yang punya stadion paling canggih, siapa yang paling sering viral di TikTok. Kompetisi lunak yang tumbuh dari keamanan dan stabilitas regional yang dijaga lewat pendekatan khas ASEAN.

Stabilitas ini memungkinkan negara-negara fokus pada pembangunan ekonomi dan pencitraan budaya di mata dunia. Bukan lagi soal perang militer, tapi adu daya tarik dan pengaruh global.

Cupin lalu menatap layar ponselnya sambil termenung. Mengapa Indonesia justru “kalah” dalam adu keren konser besar ini? Mungkinkah suatu hari nanti Indonesia bisa ikut flexing di panggung budaya dan hiburan kawasan?

Rupiah Melemah Little Monsters Merana

Indonesia: Tetangga yang Ketinggalan?

Sambil menyeruput es kopi di kawasan Blok M, Cupin membuka obrolan dengan temannya soal konser yang baru saja digelar di Bangkok. “Kenapa ya, konser besar kayak gitu nggak mampir ke Jakarta?” tanyanya, separuh heran, separuh kecewa.

Salah satu alasan utamanya adalah proses perizinan di Indonesia yang rumit dan berlapis-lapis. Cupin pernah baca, promotor harus berhadapan dengan instansi dari pusat sampai daerah, dari imigrasi sampai kepolisian, yang izinnya kadang tidak sinkron.

Belum lagi soal venue. Di Jakarta, venue besar seperti GBK atau JIExpo belum sepenuhnya memenuhi standar internasional dari segi akustik, kenyamanan, dan integrasi transportasi publik. Cupin ingat betapa ribetnya pulang dari konser Coldplay karena macet dan akses yang semrawut.

Temannya yang kuliah di Singapura cerita, pemerintah di sana bahkan kasih insentif untuk mendatangkan artis besar. Cupin membandingkannya dengan Indonesia, di mana kebijakan soal industri kreatif masih sering berubah-ubah dan tidak proaktif menyambut peluang global.

Tak hanya itu, risiko finansial juga besar. Cupin tahu ada promotor lokal yang rugi miliaran gara-gara izin keluar mepet dan konser dibatalkan. Belum lagi kasus penipuan tiket yang bikin promotor Indonesia dicurigai di mata internasional.

Meski populasi Indonesia besar, daya beli dan pengalaman konser belum merata. Banyak teman Cupin justru memilih terbang ke Singapura atau Bangkok karena merasa pengalaman konser di sana lebih tertata dan profesional.

Cupin lalu menutup pembicaraan dengan gumam lirih. Jika semua ini terus dibiarkan, bagaimana mungkin Indonesia bisa bersaing dalam “perang konser” ASEAN? Perlu perbaikan serius dari hulu ke hilir agar negeri ini tak hanya jadi penonton, tapi juga panggung utama. (A43)


0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Gonjang-ganjing Perang Konser ASEAN

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy Astaga! privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us