Terror Rabies di Bali mulai meningkat, inilah pertolongan pertama untuk Rabies yang sebaiknya kamu tahu sebelum berkunjung ke bali.
Bali belum lama ini menjadi sorotan setelah dirilisnya peringatan Rabies red zone di sejumlah kawasan wisata populer, termasuk sebagian besar dari wilayah Kuta Selatan. Peringatan ini dikeluarkan setelah penemuan 1-2 anjing yang positif Rabies di setiap desa wisata di wilayah Kuta Selatan pada bulan Juli ini (22/07/25).
Untuk kamu yang berencana melancong ke Bali, khususnya di wilayah Rabies Red Zones, ada beberapa tips pertolongan pertama yang sebaiknya kamu tahu sebagai bentuk antisipasi akan teror penyakit ini. Tapi, apa saja pertolongan pertama untuk Rabies tersebut?
Langsung saja cek ulasan lengkapnya di bawah ini!
Rabies di Bali Hari Ini
Rabies di Bali sudah menjadi salah satu penyakit endemik sejak 2008 dan selalu menelan korban setiap tahunnya. Menurut data terbaru dari IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia) di Bali, tercatat ada 11 kasus kematian akibat Rabies ini dan 183 kasus gigitan HPR (Hewan Penular Rabies) setiap harinya.
Di tahun 2025 ini, pemerintah Bali sudah memperkuat sinergi antar desa, kabupaten hingga Swasta untuk menekan angka kasus Rabies. Salah satunya adalah dengan mengeluarkan informasi Rabies Red Zones untuk untuk para turis.
Apa Itu Rabies?

Sumber gambar: pixabay.com/users/athree23
Rabies pada dasarnya adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Rabies; Lyssavirus yang menyerang otak dan sistem saraf manusia. Penyakit ini biasanya ditularkan melalui gigitan hewan seperti anjing, kucing atau kera dan bisa menyebabkan kematian apabila tidak segera ditangani.
Mereka yang terkena Rabies sendiri biasanya akan menunjukkan sejumlah gejala setelah 30-90 hari setelah kontak dengan hewan yang terinfeksi. Adapun gejala yang biasanya muncul, antara lain:
- Demam
- Sakit kepala
- Kesemutan
- Lemas
- Kehilangan nafsu makan
Fase Rabies Pada Manusia
Dalam dunia medis, tahapan Rabies pada manusia terdiri atas 4 tahapan, yaitu masa inkubasi, Fase prodromal, fase neurologi akut dan kematian.
1. Masa Inkubasi
Masa Inkubasi ini adalah periode waktu antara masuknya virus hingga timbulnya gejala awal. Masa inkubasi ini sendiri bisa bervariasi. Tapi dari 60% kasus Rabies yang terjadi, masa inkubasi ini umumnya antara 2-3 bulan.
2. Fase Promodromal
Fase Prodromal adalah fase dimana gejala Rabies dimulai, yang artinya virus sudah masuk ke SSP (Sistem Saraf Pusat). Gejala awal Rabies ini kerap tidak spesifik, seperti nyeri, kesemutan, flu, sakit kepala hingga insomnia selama 2-10 hari.
3. Fase Neurologi Akut
Pada tahap ini, gejala Rabies umumnya menjadi lebih parah ditandai dengan munculnya gejala neurologis. Gejala neurologis yang muncul sendiri bergantung pada tipe Rabies, yang meliputi:
- Tipe Galak (Ensefalitik) – Tipe Rabies yang paling sering terjadi. Gejala neurologis pada tipe Rabies ini meliputi gejala eksitasi, agitasi, hidrofobia (takut air), aerofobia (takut udara), fotofobia (takut cahaya), kejang, halusinasi dan perilaku agresif.
- Tipe Lumpuh (Paralitik) – Tipe Rabies ini terjadi pada 20% kasus dan gejala neurologisnya berupa kelumpuhan progresif pada anggota gerak tubuh mulai dari area gigitan.
4. Kematian
Rabies adalah salah satu penyakit fatal yang selalu beriringan dengan kematian. Jika penyakit Rabies ini tidak ditangani sebelum gejala klinis muncul, maka persentase kematian pasien hampir mencapai 100%. Kematian pada pasien Rabies umumnya disebabkan karena disfungsi pusat nafas, paralisis otot pernafasan atau aritmia jantung yang berujung pada kegagalan sistem Kardiorespirasi.
Pertolongan Pertama Untuk Rabies

Sumber gambar: pixabay.com/users/kitzd66
Sebagai bentuk antisipasi akan penyakit Rabies ini, ada beberapa pertolongan pertama yang bisa kamu lakukan jika melakukan kontak (tergigit/tercakar) dengan HPR. Adapun beberapa pertolongan pertama untuk Rabies tersebut, meliputi:
1. Hentikan Pendarahan
Jika kamu digigit oleh HPR, langkah pertama yang perlu kamu lakukan adalah menghentikan pendarahan terlebih dahulu. Di sini, kamu harus memberikan tekanan pada area luka selama beberapa menit guna mengeluarkan darah. sehingga virus dalam darah bisa keluar dan meminimalisir potensi infeksi.
2. Mencuci Area Luka
Setelah menghentikan pendarahan, bagian dari pertolongan pertama untuk Rabies selanjutnya yang bisa kamu lakukan adalah mencuci luka. Cuci area luka yang terkena gigitan HPR menggunakan air bersih dan sabun selama sekitar 15 menitan. Langkah ini juga ditujukan untuk mencegah infeksi pada area luka.
3. Mengoleskan Antiseptik
Untuk membunuh virus pada area luka, oleskan antiseptik yang mengandung povidone iodine. Selain antiseptik ini, kamu juga bisa membersihkan luka dengan alkohol 70%.
4. Segera Ke Rumah Sakit
Meskipun sudah mensterilkan luka sesuai dengan prosedur, kamu tetap harus segera ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Pasalnya, tidak ada yang bisa memastikan apakah penanganan yang kamu lakukan sudah membunuh virus secara menyeluruh. Jangan memastikan keadaanmu dengan menunggu gejala muncul.
Selain itu, informasikan dengan jelas kepada dokter perihal jenis HPR yang menangani dan kapan insiden tersebut terjadi.
Pencegahan Rabies

Sumber gambar: pixabay.com/users/surprising_media
Hingga hari ini, Rabies masih menjadi salah satu penyakit yang obat efektifnya belum ditemukan. Virus Rabies sendiri memiliki kemampuan untuk mengunci BBB (Blood Brain Barrier) atau penghalang darah otak; lapisan antara otak dan pembuluh darah yang berfungsi melindungi otak dari zat berbahaya dan racun.
Ketika lapisan BBB ini terkunci, maka obat-obatan tidak akan bisa melewatinya. Oleh karena itu, kebanyakan mereka yang terjangkit penyakit ini dan terlambat mendapatkan pertolongan berakhir dengan kehilangan nyawa.
Karena itu, selain memahami perihal pertolongan pertama pada Rabies, kamu juga sebaiknya melakukan beberapa bentuk pencegahan untuk meminimalkan resiko berhadapan dengan penyakit mematikan ini. Adapun beberapa bentuk pencegahan tersebut, antara lain:
- Pertimbangkan melakukan vaksin Rabies, khususnya kamu bepergian ke wilayah dimana Rabies cukup sering terjadi, seperti Bali.
- Hindari melakukan kontak dengan hewan liar, seperti anjing, kucing, kelelawar dan monyet.
- Hubungi dinas pengendalian hewan atau Satgas PMK jika mendapati ada hewan liar yang terindikasi Rabies di sekitar lingkungan tempat tinggalmu.
Singkatnya, Rabies adalah salah satu jenis penyakit berbahaya yang membutuhkan penanganan secepat mungkin. Jika terlambat, penyakit zoonosis ini bisa menuntun pada kematian. Inilah yang membuat pertolongan pertama untuk Rabies menjadi bagian yang sangat krusial.
Jika kamu tinggal atau berencana berpergian ke wilayah dengan kasus Rabies tinggi, seperti Bali, pemahaman tentang cara penanganan pertama pada Rabies ini termasuk pengetahuan medis yang sebaiknya kamu kuasai. Semoga bermanfaat.