Dengarkan artikel ini:
Nitisemito bangun imperium kretek dan bantu perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Masih ingat siapa sosok ‘perintis’ Nitisemito?
“Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua!” – Soekarno dalam Sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945
Beberapa pekan terakhir, Ryu Kintaro mendadak jadi nama yang akrab di bibir warganet. Ia disorot karena gaya bicara yang meledak-ledak dan klaim sebagai pengusaha muda dengan ambisi besar.
Namun jauh sebelum ada Ryu dan sorotan media sosial, pernah hidup seorang pria dari Kudus yang benar-benar membangun kekayaan dari nol. Namanya Nitisemito, dan ia bukan cuma pengusaha, melainkan sosok penting dalam sejarah ekonomi dan politik Indonesia.
Lahir pada 1874 dengan nama Rusdi, ia berasal dari keluarga sederhana di Kudus, Jawa Tengah. Ayahnya adalah kepala desa, sementara ibunya dikenal sebagai perempuan religius yang membentuk kepribadian Rusdi sejak kecil.
Rusdi tidak tumbuh di lingkungan serba mudah, tapi sejak remaja sudah menunjukkan semangat berdagang. Pada usia 17 tahun, ia merantau ke Jawa Timur dan mencoba berbagai usaha kecil di Malang dan Mojokerto.
Kegagalan demi kegagalan ia alami, tapi semua itu menjadi bekal untuk membangun ketangguhan mental dan keterampilan dagang. Ia bukan dilahirkan sebagai pengusaha, melainkan dibentuk oleh jalan terjal kehidupan.
Setelah menikah dengan Nasilah, Rusdi mengubah namanya menjadi Nitisemito dan mulai merintis usaha rokok. Sekitar tahun 1906, ia mulai memproduksi kretek bermerek Bal Tiga.
Bal Tiga bukan sekadar rokok, melainkan wujud kreativitas lokal yang memadukan cengkeh dan tembakau menjadi aroma dan rasa yang khas. Produk ini mencerminkan identitas masyarakat Jawa yang penuh inovasi.
Bisnisnya berkembang pesat hingga mencapai puncak pada 1930-an. Saat itu, pabrik Bal Tiga memproduksi hingga 10 juta batang rokok setiap hari dan mempekerjakan lebih dari 10 ribu buruh.
Nitisemito bukan hanya pandai meracik rokok, tapi juga piawai mengelola bisnis. Ia menerapkan sistem pembukuan modern ala Eropa, sebuah langkah yang jarang ditempuh pengusaha bumiputra pada masa kolonial.
Prestasinya mendapat pengakuan dari Ratu Wilhelmina yang memberi julukan “De Kretek Konning” atau Raja Kretek. Penghormatan itu tak sekadar simbolis, melainkan mencerminkan posisi strategis Nitisemito dalam ekonomi kolonial.
Pengakuan tersebut memberi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat pribumi yang selama ini terpinggirkan dalam dunia usaha. Kretek Nitisemito menjadi simbol bahwa rakyat Indonesia mampu bersaing dan unggul dengan kekuatannya sendiri.
Dari Kretek ke Kemerdekaan
Namun, kiprah Nitisemito tak berhenti pada urusan bisnis. Ia juga memainkan peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Ia dikenal memiliki hubungan dekat dengan Soekarno dan menjadi salah satu penyokong gerakan nasionalis. Bantuan yang ia berikan bersifat rahasia, mulai dari dana hingga penyediaan tempat berlindung bagi para pejuang.
Salah satu villa miliknya di Salatiga kerap digunakan sebagai lokasi pertemuan rahasia. Di tengah situasi genting, rumah dan pabriknya menjadi tempat strategis untuk mendukung gerakan bawah tanah.
Soekarno secara terbuka menyebut nama Nitisemito dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945. Ia menghargai kontribusi besar sang Raja Kretek dalam perjuangan ekonomi dan kemerdekaan.
Dengan begitu, Nitisemito bukan hanya tokoh industri tetapi juga bagian penting dari narasi nasionalisme Indonesia. Ia membuktikan bahwa kekuatan ekonomi pribumi dapat berperan dalam merebut kemerdekaan.
Di sisi lain, kretek juga memiliki makna sosial dan budaya yang mendalam. Bagi masyarakat Jawa, kretek menjadi bagian dari keseharian dan simbol solidaritas di tengah tekanan kolonial.
Produksi kretek lokal seperti Bal Tiga menciptakan ekosistem kerja yang memberdayakan rakyat kecil. Dalam setiap batang kretek, tersimpan nilai perjuangan dan kemandirian.
Setelah kemerdekaan, nama Nitisemito perlahan tenggelam. Ia tidak tampil sebagai pejabat negara atau tokoh publik di panggung nasional.
Namun warisannya tetap hidup di Kudus dan dunia industri kretek Indonesia. Ia telah meletakkan dasar bagi industri yang kini menyerap jutaan pekerja dan menopang ekonomi daerah.
The Legacy of a ‘Perintis’
Kisah Nitisemito tidak hadir di layar digital atau trending topic media sosial. Tapi ia nyata dan membangun semuanya dari bawah dengan cara yang sah dan terukur.
Ia bukan penghibur dunia maya atau pencari sensasi. Ia adalah perintis sejati yang memilih bekerja diam-diam, tapi hasilnya terasa nyata dan berdampak luas.
Dibandingkan dengan kegaduhan yang sering kita lihat hari ini, keteladanan Nitisemito justru makin relevan. Ia membuktikan bahwa membangun dari nol tidak harus dengan drama dan kontroversi.
Yang dibutuhkan adalah visi, keberanian, dan ketekunan jangka panjang. Dalam dirinya, kita bisa melihat bagaimana kekuatan ekonomi lokal dapat menjadi bagian dari perjuangan nasional.
Di tengah kebisingan debat tentang siapa yang pantas disebut perintis, kisah dari Kudus ini seakan menepuk pundak kita. Ia mengingatkan bahwa sejarah memiliki standar yang tak bisa dimanipulasi.
Nitisemito mungkin tidak lagi disebut dalam buku pelajaran secara luas. Tapi setiap kali aroma kretek tercium di warung pinggir jalan, jejaknya kembali hidup. (A43)