Larangan & Anjuran Souvenir Pernikahan dari Berbagai Budaya
Setelah resmi menikah di Bali pada Mei 2025 lalu, Luna Maya dan Maxime Bouttier kembali bikin heboh lewat resepsi keduanya di Jakarta. Bukan hanya soal pestanya yang megah, tapi salah satu yang bikin publik melongo adalah souvenirnya!
Souvenir tamu pernikahan mereka yang berisi 1 totebag berukuran jumbo ini ternyata isinya enggak kaleng-kaleng, dari snack, mesin kopi, skincare premium, suplemen, cangkir elegan, hingga voucher treatment spa. Banyak netizen indo yang berkomentar soal bahwa souvenir mereka bukan sekedar souvenir tapi doorprize.

Dari sinilah, justru kita sadar: souvenir pernikahan kini bukan cuma oleh-oleh lucu-lucuan dan besar kecil barangnya, tapi perlu dipertimbangkan manfaatnya serta maknanya.
Di beberapa budaya, bahkan ada mitos souvenir pernikahan, baik itu larangan dan anjuran soal jenis souvenir yang boleh atau bahkan tidak boleh dibagikan. Pokoknya mitos larangan dan anjuran ini bisa bikin kamu mikir dua kali—tapi tetap seru buat dibaca!
7 Mitos Souvenir Pernikahan yang masih dipercaya orang dari berbagai budaya di Indonesia.
1. Pisau atau Benda Tajam – Dikhawatirkan Jadi Simbol “Memutus” Hubungan

Dalam berbagai budaya, mitos souvenir pernikahan yang masih banyak dipercaya orang adalah memberi benda tajam seperti pisau. Pemberian pisau sebagai souvenir bukan hanya dianggap tidak sopan, tapi juga dipercaya bisa membawa nasib kurang baik. Salah satu kepercayaan kuat datang dari budaya Tionghoa yang masih dipercaya oleh banyak keturunan Thionghoa di Indonesia, di mana pisau melambangkan pemisahan atau putusnya hubungan, baik antara pasangan pengantin maupun dengan tamu yang menerimanya.
Ternyata, kepercayaan ini nggak hanya ada di Indonesia saja. Di beberapa tradisi Eropa dan Jepang, hadiah berupa benda tajam juga dianggap sebagai pertanda buruk karena dipercaya bisa “memotong” ikatan emosional atau sosial. Dalam bahasa simbolis, pisau bisa berarti konflik atau ketegangan yang akan datang.
Namun, mitos ini juga punya celah kompromi. Beberapa komunitas punya cara cerdas yang dianggap bisa “menetralkan” makna negatif ini. Misalnya, dengan menyelipkan koin logam kecil saat memberikan pisau. Dengan begitu, hadiah ini dianggap bukan sekadar pemberian, tapi sudah berubah menjadi bentuk transaksi atau pembelian simbolik. Konsep ini diyakini bisa memutus energi buruk dari makna “hadiah pemutus” menjadi sesuatu yang netral—atau bahkan positif.
Jadi, kalau kalian berniat memberi souvenir pernikahan berupa pisau dapur mungil yang estetik, tak perlu takut langsung dicap membawa sial. Selama disertai makna dan cara penyampaian yang bijak, semuanya bisa diakali dengan cara yang lebih elegan dan tetap menghormati kepercayaan tamu.
2. Tanaman Hidup – Lambang Cinta yang Terus Bertumbuh

Jika sebelumnya membahas soal mitos souvenir pernikahan berupa larangan. Souvenir pernikahan kali ini justru dianjurkan. Memberi tanaman hidup sebagai souvenir belakangan memang makin populer, terutama di kalangan pasangan muda. Sukulen, sirih gading, hingga kaktus kecil dipilih karena melambangkan cinta yang tumbuh dan harapan akan kesuburan dalam rumah tangga. Tanaman dianggap membawa aura positif—asal dirawat dengan baik.
Namun, di balik tren ini, ada juga kepercayaan unik. Beberapa orang percaya bahwa jika tanaman dari pesta pernikahan layu setelah dibawa pulang, itu bisa jadi isyarat ketidakcocokan energi antara si pemberi dan penerima. Meski tentu saja, hal ini belum terbukti dan bisa saja karena kurang sinar matahari atau lupa disiram. Intinya, tanaman tetap menjadi simbol positif, penuh harapan akan hubungan yang terus tumbuh dan tidak stagnan.
3. Cermin Kecil – Simbol Refleksi Diri, Tapi Dianggap Rentan Membawa Energi Pecah.

Souvenir berupa cermin mungil memang tampak cantik dan praktis, tapi tidak semua budaya menganggapnya cocok untuk pernikahan. Masih dalam kepercayaan Tionghoa dan beberapa negara Asia, cermin adalah benda yang memantulkan energi, baik positif maupun negatif. Jika pecah, cermin bisa dianggap membawa pertanda perpecahan atau keretakan dalam hubungan.
Di sisi lain, cermin juga punya makna filosofis: mengajak seseorang untuk bercermin, melihat ke dalam diri, dan memperbaiki hal-hal yang perlu diperbaiki dalam relasi. Karena itu, jika ingin memberi cermin sebagai souvenir, banyak pasangan menambahkan pesan bijak atau doa reflektif agar maknanya lebih mendalam dan tidak disalahartikan.
4. Sapu Tangan – Dianggap Mengundang Air Mata
Souvenir berupa sapu tangan mungkin terlihat fungsional, tapi dalam beberapa budaya Asia, terutama di Tiongkok dan Korea, benda ini dikaitkan dengan kesedihan. Memberikan sapu tangan dianggap bisa membawa tangis atau duka bagi penerimanya di kemudian hari. Dalam mitos kuno, benda ini dipercaya menyimpan “air mata tersembunyi”.
Meski secara fungsional sapu tangan berguna, beberapa keluarga masih menghindarinya sebagai hadiah dalam acara perayaan seperti pernikahan. Tapi tetap saja, semua kembali ke konteks. Jika dikemas dengan pesan harapan, misalnya “untuk menyeka air mata bahagia”, maknanya bisa berubah jadi lebih positif.
5. Jam atau Arloji – Simbol Waktu yang Sedang Berjalan Menuju Akhir
Memberi jam atau arloji sebagai souvenir sering dikaitkan dengan simbolisasi waktu yang terus berjalan dan pada akhirnya berakhir. Di Tiongkok, kata “jam” (zhōng 钟) memiliki pelafalan yang mirip dengan “akhir” atau “kematian” (zhōng 终), sehingga dianggap kurang baik diberikan di acara pernikahan.
Namun di budaya Barat, jam bisa dimaknai sebagai pengingat untuk menghargai waktu bersama orang tercinta. Kalau kamu tetap ingin memberikan souvenir bertema waktu, bisa juga disiasati dengan memasukkan kutipan inspiratif seperti “Cinta tak lekang oleh waktu” agar maknanya lebih positif dan tidak keliru ditafsirkan.
6. Sandal atau Sepatu – Dikhawatirkan Simbol ‘Pergi’ atau Perpisahan.
Souvenir berbentuk sandal mini, sepatu dekoratif, atau gantungan kunci bertema alas kaki memang lucu dan sering digunakan. Tapi ada kepercayaan bahwa memberi alas kaki bisa mengisyaratkan “jalan keluar”, alias simbol bahwa seseorang bisa pergi atau meninggalkan hubungan. Dalam beberapa budaya Asia, ini dianggap membawa sial untuk hubungan jangka panjang.
Namun, di sisi lain, sepatu juga bisa diartikan sebagai simbol perjalanan hidup bersama. Kalau kamu ingin tetap menggunakannya, kamu bisa menyematkan pesan manis seperti “Melangkah Bersama Selamanya” agar maknanya menjadi positif dan inspiratif.
7. Boneka Pengantin – Dianggap Mengganggu Energi Rumah.

Boneka pengantin berbahan kayu, kain flanel, atau keramik memang menggemaskan dan kerap dijadikan pajangan atau gantungan. Tapi beberapa orang meyakini bahwa boneka terutama jika memiliki rupa manusia dapat “menyimpan” energi atau aura tertentu. Dalam fengshui, meletakkan boneka di kamar tidur juga dianggap bisa memengaruhi keharmonisan pasangan karena diyakini membawa “pengamat ketiga”.
Meskipun belum terbukti secara ilmiah, kepercayaan ini masih cukup kuat di beberapa kalangan. Jika ingin tetap memakai boneka sebagai souvenir, pilih desain abstrak atau lucu, bukan yang terlalu menyerupai rupa manusia, agar tidak menimbulkan kekhawatiran atau salah tafsir.
Bagaimana Memahami Mitos Souvenir Pernikahan?
Setiap mitos souvenir pernikahan punya cerita unik dan sering mencerminkan nilai budaya atau simbolisme benda kecil itu. Ada yang dilarang agar rumah tangga harmonis, ada juga yang dianjurkan sebagai doa penyertaan dan harapan baik.
Bagi pasangan yang hijau dalam adat budaya, memilih souvenir bukan semata soal estetika atau praktikalitas, tapi juga makna simbolik yang bisa jadi penting bagi tamu atau keluarga besar.
Mitos souvenir pernikahan memang bisa bikin ribet, tapi menyenangkan juga buat dijadikan pertimbangan. Mau percaya atau tidak, mitos ini mengingatkan kita bahwa souvenir adalah lebih dari sekadar hadiah kecil—ia menyampaikan harapan, doa, dan perhatian.
Kalau kalian sedang merancang pernikahan, pertimbangkan baik-baik makna di balik benda yang akan dibagikan. Apalagi jika keluarga kalian masih menjunjung tradisi dan keyakinan, tidak ada salahnya bertanya serta menghargai anjuran. Tapi diatas semua itu, yang paling penting adalah niat tulus. Soal mitos, kembali ke pilihan masing-masing, ya…
Bagaimana menurut kalian? Jangan lupa share! Jika kamu ingin tahu lebih lanjut mitos seputar pernikahan, baca artikel Hipwee tentang beberapa mitos pernikahan yang ada di Indonesia.


