Audio ini dibuat dengan teknologi AI.
Anies Baswedan kembali muncul di tengah isu nasional, kali ini lewat kunjungannya ke Tom Lembong pasca pemberian abolisi. Apakah ini sekadar simpati personal, atau bagian dari taktik “buntut kucing” untuk tetap relevan di panggung politik?
Di tengah riuhnya perdebatan publik tentang abolisi Tom Lembong—mantan kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)—muncul satu sosok yang langsung ikut mencuri perhatian: Anies Baswedan. Pada 1 Agustus 2025, hanya berselang sehari sejak isu Lembong merebak, Anies terekam publik mengunjungi Lembong di Lapas Cipinang. Momen itu langsung menyita sorotan media dan memunculkan kembali Anies ke dalam ruang diskusi politik nasional.
Tentu, ada alasan personal yang bisa menjelaskan kehadiran itu—kedekatan lama antara Anies dan Lembong sebagai rekan satu tim saat Pemilihan Presiden 2024 (Pilpres 2024), misalnya. Namun jika kita melihat pola kehadiran Anies dalam beberapa peristiwa politik sebelumnya, kunjungan itu tampak bukan sekadar gestur pribadi.
Sebelumnya, Anies juga sempat mencuat di media sosial saat ada isu besar, contohnya ketika memberi respons terhadap video viral Gibran Rakabuming soal bonus demografi Indonesia.
Anies juga terlihat hadir dalam konser D’Masiv pada Juni 2025, di mana sang vokalis Rian tiba-tiba mengajaknya ke atas panggung untuk bernyanyi bersama. Momen itu pun terekam luas di berbagai kanal media sosial.
Apakah ini sekadar serangkaian kebetulan, ataukah ada strategi politik yang dimainkan? Apakah Anies sedang membangun narasi tersendiri dari balik isu-isu besar yang tak langsung berkaitan dengannya?

Cat Tail Politics?
Fenomena munculnya Anies Baswedan dalam berbagai peristiwa publik dan politik belakangan ini memperlihatkan pola komunikasi yang patut dicermati. Dalam ilmu politik, strategi mempertahankan relevansi dikenal sebagai bagian dari agenda setting individu—yaitu usaha untuk tetap menjadi bagian dari pembicaraan publik tanpa harus selalu memegang kontrol utama atas isu.
Jika dilihat dari beberapa peristiwa, seperti kunjungan ke Tom Lembong, komentar terhadap video Gibran, hingga kehadiran di panggung konser D’Masiv, ada satu benang merah yang mengemuka: Anies hadir saat momen yang tepat, dan cukup intens untuk membuat publik meliriknya kembali. Ia tak selalu menjadi aktor utama dalam setiap isu, tetapi selalu berada cukup dekat dengan panggung utama untuk tetap terlihat.
Dalam teori komunikasi politik, ini bisa disebut sebagai strategi political piggybacking—menumpang pada peristiwa yang sedang viral atau mendapat sorotan luas untuk membangun atau mempertahankan eksistensi politik. Strategi ini banyak digunakan oleh politisi yang berada di luar kekuasaan, sebagai cara untuk tetap menjadi bagian dari percakapan politik nasional.
Namun, menariknya, pendekatan Anies tidak frontal. Ia tidak tampak memaksakan diri untuk mengambil alih isu. Ia seperti menempatkan diri dalam posisi “ikut lewat”, cukup agar publik dan media memberinya tempat dalam narasi. Di sinilah analogi “buntut kucing” menjadi relevan.
Dalam perilaku hewan peliharaan, khususnya kucing rumahan, ada satu kebiasaan khas: saat sebuah pintu hendak ditutup, kucing akan tetap meletakkan buntutnya di ambang pintu. Tindakan kecil ini memaksa pemilik rumah untuk berhenti sejenak dan memerhatikan. Pintu tidak bisa ditutup sepenuhnya selama ada buntut yang masih tertinggal.
Analogi ini cocok menggambarkan gaya politik Anies. Ia mungkin bukan aktor utama dalam isu Tom Lembong, Gibran, atau konser musik. Tapi kehadirannya di ambang—di batas antara dalam dan luar panggung—membuat isu tersebut seolah belum bisa “ditutup”. Publik dan media seolah diminta untuk tetap membuka pintu diskusi sedikit lebih lama, agar kehadirannya bisa ikut dilihat.
Strategi ini tentu tidak salah, bahkan cukup cerdas dari sisi komunikasi politik. Tapi hal ini juga menimbulkan pertanyaan kritis tentang konsistensi gagasan dan ketulusan peran yang dimainkan. Apakah kehadiran-kehadiran Anies ini merupakan bagian dari strategi membangun narasi politik jangka panjang, atau hanya taktik sesaat untuk tetap eksis dalam radar publik?

Akan Terus Relevan?
Gaya politik “buntut kucing” yang ditunjukkan Anies Baswedan membuka ruang diskusi baru tentang bagaimana seorang politisi membangun relevansi di luar masa kampanye. Dalam kondisi pasca-pemilu, di mana ruang gerak formal terbatas, strategi mencuri momen menjadi salah satu cara bagi tokoh publik untuk mempertahankan posisinya dalam lanskap politik nasional.
Pendekatan ini tidak unik bagi Anies saja. Banyak politisi di berbagai negara menggunakan metode serupa untuk tetap eksis dalam pemberitaan. Namun, apa yang membuat pendekatan Anies menarik untuk diamati adalah gayanya yang cenderung subtil, tidak konfrontatif, dan sering kali dibingkai secara simpatik—baik sebagai pribadi yang hadir untuk mendukung, atau sebagai warga biasa yang “kebetulan” berada di tengah momen penting.
Bagi publik, pengamat, maupun pesaing politiknya, penting untuk tidak sekadar menilai dari permukaan. Kehadiran Anies yang berulang di berbagai momen viral menunjukkan adanya pola yang konsisten, dan pola ini dapat dibaca sebagai upaya komunikasi politik yang disengaja.
Apakah strategi ini akan berhasil membentuk kembali citra politiknya? Atau justru akan terlihat sebagai manuver tanpa substansi?
Yang jelas, sebagaimana pintu tak bisa ditutup bila buntut kucing masih menghalangi, narasi politik di Indonesia tampaknya belum bisa sepenuhnya bergerak tanpa terlebih dahulu “menyimak” kehadiran Anies Baswedan—sekalipun hanya dari pinggir. (D74)