Audio ini dibuat dengan teknologi AI.
Di balik citranya yang kerap diremehkan, Cak Imin justru berhasil membawa PKB jadi kekuatan besar. Apa rahasia jaringan politik dan ekonominya yang jarang tersorot publik?
Di tengah konstelasi politik Indonesia saat ini, terdapat satu fenomena menarik yang patut diamati. Ketika partai-partai politik berbasis Islam mengalami tren penurunan elektoral, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) justru menunjukkan arah yang berbeda. Pada Pemilu Legislatif 2024, PKB mencatatkan kejutan besar dengan menempati urutan keempat perolehan suara nasional—sebuah capaian yang jarang diperkirakan sebelumnya.
Sebagian analisis publik mengaitkan hal ini dengan efek ekor jas (coattail effect) dari keputusan PKB mengusung Anies Baswedan sebagai calon presiden. Logikanya sederhana: popularitas Anies dianggap memberikan limpahan suara kepada PKB. Namun, jika ditilik lebih dalam, narasi ini tidak sepenuhnya memadai untuk menjelaskan konsistensi PKB dalam menjaga bahkan meningkatkan basis dukungan elektoralnya.
Pertanyaan pun mengemuka: apakah benar capaian PKB hanya sebatas efek temporer dari figur capres yang diusungnya? Atau, jangan-jangan PKB dan Muhaimin Iskandar—sosok yang akrab disapa Cak Imin—menyimpan “kekuatan tersembunyi” yang membuat partai ini lebih tangguh daripada perkiraan banyak pihak, serta mampu menjadikannya modal politik yang signifikan dalam menyongsong kontestasi berikutnya?

Diam-diam Powerful?
Muhaimin Iskandar sering muncul di ruang publik sebagai figur politisi yang tampak apa adanya, terkadang bahkan menyajikan guyonan dalam jagat media sosial. Akan tetapi, di balik kesan tersebut, ia justru bisa dikategorikan sebagai salah satu politisi paling lihai saat ini. Beberapa bukti historis memperlihatkan bagaimana PKB di bawah kepemimpinannya mampu bangkit dan bertahan, bahkan ketika partai lain dengan basis serupa mengalami kemunduran.
Ketika Pemilu 2014 mendekat, PKB sedang berada dalam posisi sulit. Fragmentasi internal dan basis dukungan yang tergerus membuat partai ini diprediksi akan terpuruk. Namun, hasilnya berbeda. PKB justru bangkit dan berhasil mencatat perolehan suara signifikan, menempatkannya sebagai salah satu partai Islam dengan raihan kursi terbesar.
Sejarawan politik Greg Fealy, dalam tulisannya Nahdlatul Ulama and the Politics Trap, menyinggung bahwa salah satu faktor kunci keberhasilan ini adalah kemampuan Cak Imin merangkul Rusdi Kirana—pendiri Lion Air—ke dalam struktur partai. Kehadiran seorang pengusaha besar seperti Rusdi, kata Greg, dipandang memperkuat aspek logistik dan sumber daya kampanye di berbagai daerah.
Sepuluh tahun kemudian, pada Pemilu 2024, pola serupa kembali terlihat. Saat partai-partai Islam lain cenderung kehilangan suara, PKB justru melaju hingga ke posisi keempat secara nasional. Analisis sejumlah pengamat menggarisbawahi bahwa selain faktor politik elektoral murni, ada pula peran pengusaha yang semakin dekat dengan lingkaran Cak Imin. Salah satu nama yang mencolok adalah Leontinus Alpha Edison, co-founder Tokopedia, yang menjadi bagian dari tim pencapresan Anies-Muhaimin. Kehadiran figur dari sektor ekonomi digital memberi warna baru pada jaringan politik-ekonomi Cak Imin itu sendiri.
Tidak berhenti di tingkat nasional, pada level daerah PKB juga diketahui menjalin relasi erat dengan sejumlah pengusaha lokal. Sebagai contoh, di Pekanbaru, pengusaha sawit Kharisman Risanda disebut turut memperkuat jaringan PKB di daerah. Jaringan-jaringan seperti ini—yang tidak selalu tampak di permukaan—menjadi salah satu penopang utama kapasitas PKB dalam menggalang dukungan politik.
Fenomena kedekatan antara partai politik dan kalangan pengusaha sejatinya bukan hal baru. Teori dalam ilmu politik, seperti resource mobilization theory, menjelaskan bahwa kekuatan politik modern tidak hanya bertumpu pada basis ideologi atau massa, tetapi juga pada kemampuan mengakses sumber daya—baik finansial, logistik, maupun teknologi. Pengusaha dapat menjadi kanal penting dalam memperkuat kapasitas tersebut.
Di berbagai negara, dukungan logistik terbukti integral dalam mempermudah perjuangan politik partai. Misalnya, Partai Demokrat di Amerika Serikat kerap mendapat sokongan dari pengusaha teknologi Silicon Valley untuk mendorong isu progresif, sementara Partai Republik sering mendapat dukungan dari industri energi dan pertahanan.
Di Inggris, Partai Konservatif sejak lama dikenal dekat dengan kalangan bisnis dan perbankan di City of London, misalnya dukungan dari taipan media Rupert Murdoch atau donatur besar seperti Lord Bamford (industri konstruksi). Sementara itu, Partai Buruh kerap mendapat dukungan finansial dari serikat pekerja besar seperti Unite the Union yang membantu mengonsolidasikan basis politik mereka.
Dalam konteks PKB, kedekatan Cak Imin dengan berbagai aktor bisnis—baik yang berskala nasional maupun lokal—menjadi semacam “kekuatan tersembunyi”. Kekuatan ini tidak muncul dalam bentuk pencitraan publik yang bombastis, tetapi diasumsikan bekerja secara sistematis di balik layar untuk menopang keberlanjutan.

Menuju 2029?
Jika ditarik benang merah dari pengalaman Pemilu 2014 hingga 2024, terlihat bahwa Muhaimin Iskandar mampu memainkan peran strategis dalam menjaga posisi PKB tetap relevan, bahkan di tengah menurunnya pamor partai-partai Islam lain. Keberhasilan ini tampaknya bukan sekadar hasil coattail effect, melainkan buah dari konsistensi membangun jaringan sosial, kultural, dan ekonomi.
Pertanyaan berikutnya adalah: ke mana arah kekuatan tersembunyi ini akan membawa Cak Imin? Pada Pemilu 2024, ia maju sebagai calon wakil presiden. Meskipun pasangan yang diusung tidak berhasil menang, kiprah Cak Imin dalam menjaga PKB tetap solid menegaskan bahwa ia masih merupakan figur penting dalam lanskap politik Indonesia.
Dengan bekal jaringan yang semakin luas—dari ulama pesantren, basis NU, hingga pengusaha lokal dan nasional—tidak tertutup kemungkinan Cak Imin akan melangkah lebih jauh pada 2029. Apakah ia akan kembali memosisikan diri sebagai calon wakil presiden, ataukah berani mengambil risiko lebih besar?
Mungkin sulit memprediksi dengan tepat. Namun, jika ada satu pelajaran dari kiprahnya selama dua dekade terakhir, itu adalah bahwa Muhaimin Iskandar kerap mampu muncul sebagai pemain penting ketika banyak orang justru meremehkannya. Misteri kekuatan tersembunyinya mungkin justru terletak pada kemampuan membangun relasi lintas sektor yang membuatnya tetap relevan, kapan pun kontestasi politik digelar.
Pada akhirnya, pemilu berikutnya akan menjawab: apakah kekuatan tersembunyi ini akan mengantarkan Cak Imin naik satu level lebih tinggi, atau justru membuatnya tetap menjadi “kingmaker” yang menentukan arah politik Indonesia dari balik layar? (D74)