Dengarkan artikel ini:
Audio ini dibuat menggunakan AI.
Trump menyambut Putin di Alaska dengan B-2 Spirit dan F-35 Lightning melintas di langit, mencampur kehormatan diplomasi dengan gaya flexing khasnya. Aksi teatrikal ini kiranya bukan sekadar sambutan, melainkan sinyal deterrence, promosi kekuatan pasar militer, dan seni membingkai kekuasaan dalam diplomasi global yang sarat simbol.
Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska, suasana diplomatik mendadak berubah menjadi panggung teatrikal militer.
Langit yang biasanya menjadi ruang netral dalam diplomasi, kini dipenuhi pesawat pengebom siluman B-2 Spirit, dikawal jet tempur F-35 Lightning, yang melintas gagah di atas kepala Putin. Adegan itu bukan sekadar sambutan, melainkan simbolisasi kekuatan yang tidak biasa.
Dalam praktik diplomasi internasional, penggunaan kekuatan militer kerap dibatasi pada meja perundingan atau manuver di medan konflik. Namun Trump memindahkannya ke arena pertunjukan visual. Ia menata kedatangan Putin bukan hanya sebagai pertemuan bilateral, tetapi juga sebagai unjuk kekuasaan, di mana kehormatan protokoler bercampur dengan gaya flexing personal yang khas.
Konteks geopolitik mempertegas makna adegan itu, dunia tengah tegang oleh invasi Rusia ke Ukraina, dan Amerika Serikat ingin mengingatkan siapa yang masih memegang dominasi dalam tata kekuatan global.
Langkah ini segera menimbulkan diskusi luas. Apakah Trump sedang mengedepankan kehormatan diplomasi pertahanan, atau justru mempermainkan stabilitas internasional demi sensasi visual?
Smart Power Trump?
Kerangka defence diplomacy memberi pemahaman awal mengenai pilihan Trump. Pada dasarnya, diplomasi pertahanan adalah seni menggunakan instrumen militer bukan untuk berperang, melainkan untuk membentuk persepsi lawan dan sekutu.
Flyover B-2 Spirit dan F-35 tidak diarahkan untuk menimbulkan korban, tetapi untuk membangun citra. Dalam bahasa sederhana, ini adalah komunikasi visual tentang siapa yang lebih unggul.
Trump seakan berkata kepada Putin, dan kepada dunia, bahwa Amerika Serikat tidak hanya hadir dengan kata-kata, tetapi juga dengan simbol kekuatan yang tak terbantahkan.
Di dalam deterrence theory, tindakan tersebut masuk sebagai bentuk strategic deterrence. Deterrence selalu menuntut kredibilitas, yakni lawan harus yakin bahwa ancaman yang tersirat benar-benar bisa dilaksanakan.
Pesawat B-2 Spirit, dengan kemampuan nuklir, jangkauan global, serta reputasi sebagai bomber paling canggih dan mahal, adalah perwujudan kredibilitas itu.
Ia bukan sekadar pesawat, tetapi simbol dari kesenjangan teknologi dan kekuatan yang sulit ditandingi Rusia. Terlebih, terlibat dalam operasi militer konkret di Iran beberapa bulan lalu.
“Diplomasi kekerasan” menekankan bahwa sinyal militer dapat digunakan sebagai alat tawar sebelum konflik nyata terjadi. Trump mungkin saja menerjemahkan ide ini dalam gaya paling teatrikal: alih-alih menunggu negosiasi berlangsung di balik pintu tertutup, ia menata panggung yang sudah memberi pesan sebelum satu kata pun diucapkan.
Dengan demikian, diplomasi berlangsung bukan hanya di meja konferensi, tetapi juga di langit Alaska yang bergemuruh.
Namun, tindakan itu tidak hanya dapat dibaca melalui kacamata hard power. Konsep smart power agaknya juga relevan untuk memahami dimensi lain dari langkah Trump.
Smart power sendiri adalah perpaduan hard power—kekuatan militer—dengan soft power—daya tarik, citra, legitimasi. Pertunjukan militer tersebut bukan hanya ditujukan untuk Putin, tetapi juga untuk audiens yang lebih luas: sekutu AS, pasar senjata global, dan publik internasional.
Flyover B-2 dan F-35 kiranya adalah pesan bahwa Amerika tidak hanya unggul dalam kemampuan perang, tetapi juga dalam penguasaan narasi kekuatan di mata dunia.

Berdiplomasi dengan Gaya?
Peristiwa ini mengungkap tarik menarik antara kehormatan diplomatik (honor) dan gaya pamer kekuatan (flexing). Dalam norma tradisional hubungan internasional, sebuah kunjungan kenegaraan biasanya dihiasi upacara protokol, penghormatan militer yang formal, dan simbol kehormatan negara.
Namun, Trump seolah menambahkan lapisan baru, ia menjadikan kehormatan itu sebuah pertunjukan personal. Apa yang normatifnya dapat dibaca sebagai tanda respect, dalam interpretasi publik bisa bergeser menjadi flexing yang dramatis.
Trump tampil sebagai pemimpin “nyentrik” yang menolak terikat oleh norma konvensional. Dalam gaya itu, ia tidak sekadar menyampaikan kehormatan, tetapi juga menegaskan dominasi.
Ini yang membedakannya dari presiden-presiden Amerika sebelumnya, yakni penggunaan simbol militer bukan hanya sebagai instrumen negara, melainkan juga sebagai bagian dari citra personal seorang pemimpin yang gemar tampil spektakuler.
Makna strategis lain yang sering terlupakan adalah bagaimana pertunjukan tersebut berdampak pada industri pertahanan. Visualisasi B-2, F-35, dan F-22 tidak hanya memberi sinyal geopolitik, tetapi juga mempromosikan kemampuan teknologi militer AS di hadapan pasar global.
Negara-negara sekutu yang bergantung pada sistem pertahanan Amerika Serikat akan semakin yakin pada superioritas produk-produk itu. Investor, produsen, dan kompleks industri militer mendapat keuntungan reputasional. Dengan demikian, pertunjukan itu juga merupakan penguasaan “pasar” di luar arena militer murni.
Dampak psikologis terhadap Putin pun tidak bisa diabaikan. Sejumlah analis bahasa tubuh mencatat bagaimana gestur Putin berubah kaku saat flyover berlangsung. Ada tanda-tanda tegang yang memperlihatkan bahwa pertunjukan itu berhasil menimbulkan reaksi emosional.
Dalam diplomasi, respons semacam ini sangat penting, karena menunjukkan bahwa pesan non-verbal sudah bekerja sebelum diskusi substantif dimulai.
Namun, efek ganda dari strategi ini juga harus dipertimbangkan. Di satu sisi, ia memperkuat kredibilitas deterrence AS dan menegaskan posisi dominan. Di sisi lain, ia juga bisa dianggap provokatif.
Jika dibaca oleh Rusia sebagai ancaman terbuka yang terselubung, pertunjukan itu berpotensi meningkatkan kecurigaan, bahkan memicu perlombaan simbolik serupa. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah flexing ini benar-benar menambah stabilitas global, atau justru membuat dunia semakin rawan gesekan?
Pertemuan Trump dan Putin di Alaska memperlihatkan bagaimana diplomasi kontemporer tak lagi hanya berlangsung dalam ruang perundingan, melainkan juga di ruang visual yang sarat simbol.
Dengan menghadirkan B-2 dan F-35 Spirit di langit serta F-22 di darat, Trump menggabungkan kehormatan protokoler dengan flexing personal, menghidupkan kembali teori deterrence dalam bentuk yang lebih teatrikal, sekaligus memainkan strategi smart power.
Tindakan itu menegaskan satu hal penting, kekuatan di era modern tidak hanya diukur dari seberapa besar arsenal militer yang dimiliki, tetapi juga dari bagaimana kekuatan itu ditampilkan, dibingkai, dan dipersepsikan.
Trump mungkin sedang “bercanda respect” dengan Putin, tetapi di balik candaan itu tersimpan strategi besar, yakni menjadikan pertunjukan sebagai senjata, dan menjadikan visual sebagai diplomasi.
Dalam lanskap global yang kian terpolarisasi, pertanyaan akhirnya bukan lagi apakah Trump berhasil menunjukkan kekuatan, melainkan apakah dunia sanggup menanggung konsekuensi dari gaya diplomasi yang mengaburkan batas antara kehormatan dan flexing? (J61)