Jonan, the Next “Purbaya”?

jonan,-the-next-“purbaya”?
Jonan, the Next “Purbaya”?
Share

Share This Post

or copy the link

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Sosok Ignasius Jonan muncul lagi di Istana. Apakah Presiden Prabowo sedang menyiapkan “Purbaya” baru untuk Whoosh yang megap-megap?


PinterPolitik.com

“Mau Jonan, mau Purbaya, mau siapa pun yang dipanggil ke Istana—mereka cuma bagian dari strategi besar di kepala satu orang: Prabowo Subianto.”

Cupin menatap layar televisi di warung kopi langganannya. Di sana, wajah Ignasius Jonan muncul di berita sore: jas gelap, senyum tipis, dan langkah cepat memasuki Istana Presiden. “Wah, si bapak kereta balik lagi nih,” gumamnya sambil menyeruput kopi hitam. Bagi Cupin, Jonan bukan nama asing—ia adalah simbol reformasi, orang yang dulu bikin KAI nggak lagi identik dengan bau toilet dan antrean chaos di stasiun.

Pertemuan Jonan dengan Presiden Prabowo Subianto di awal November 2025 itu berlangsung hampir dua jam. Publik langsung ramai berspekulasi. Di forum daring, di grup WhatsApp wartawan, hingga di obrolan warganet, satu topik terus muncul: apakah Jonan akan kembali ke kabinet? Dan jika iya, pos mana yang akan ia isi?

Isu paling kencang tentu terkait proyek Whoosh, kereta cepat Jakarta-Bandung yang kini tengah “kehabisan napas.” Proyek yang dulu dielu-elukan sebagai simbol kemajuan, kini terjerat utang dan pembengkakan biaya hingga miliaran dolar. Dalam situasi di mana kecepatan tak lagi sinonim dengan efisiensi, Prabowo tampaknya butuh seseorang yang bisa memutar kembali arah rel kebijakan. Nama Jonan pun mencuat sebagai kandidat paling logis.

Cupin terkekeh kecil. “Kayak film lama, cuma ganti sutradara,” katanya. Dulu, Jokowi memanggil Jonan untuk membereskan transportasi yang carut-marut. Sekarang, Prabowo memanggilnya untuk menambal Whoosh yang megap-megap. Ada semacam dejavu politik di situ.

Dudy Purwagandhi, Menteri Perhubungan saat ini, dianggap tak cukup tegas. Publik membandingkan dengan gaya Jonan yang dikenal keras kepala tapi efektif. Di era 2014–2016, Jonan menertibkan mafia terminal, memangkas izin yang berbelit, dan mengubah Kemenhub dari lembaga yang lamban menjadi mesin yang lebih disiplin. Bagi sebagian orang, sosok seperti itulah yang dibutuhkan untuk menyelamatkan proyek strategis yang terancam jadi “Whoosh of Woes.”

Cupin menyalakan rokoknya. “Kata orang, kalau presiden panggil, pasti ada maunya,” ujarnya pelan. Pertanyaannya sekarang: apa yang membuat Jonan begitu istimewa di mata Prabowo? Dan apakah kemampuan lamanya di dunia perkeretaapian masih relevan untuk krisis baru yang lebih politis daripada teknis ini?

Jonan’s Comeback?

Cupin membuka arsip digital lama di tablet tuanya—artikel tahun 2010, ketika Jonan pertama kali jadi Direktur Utama PT KAI. “Dulu katanya KAI udah kayak kereta hantu,” ujarnya. “Hidup segan, mati pun berat.” Tapi hanya dalam beberapa tahun, Jonan mengubah kereta yang dulu disumpahi penumpang jadi transportasi favorit banyak orang. Ia menata jadwal, menegakkan disiplin, dan mengusir pungli yang mengakar puluhan tahun.

Kalau membaca kisah Jonan, Cupin selalu teringat konsep yang dibahas Montgomery Van Wart dalam Leadership in Public and Nonprofit Organizations. Van Wart menulis bahwa pemimpin sektor publik ideal adalah mereka yang punya technical competence sekaligus moral courage. Cupin terkekeh. “Jonan punya dua-duanya. Dia ngerti rel, ngerti mesin, tapi juga berani bentak anak buah yang males kerja.”

Ketika Jonan menerapkan sistem reward and punishment di KAI, banyak pegawai kaget. Tak ada lagi kompromi untuk absen seenaknya atau tiket bocor. Dalam kacamata James Q. Wilson—yang menulis Bureaucracy: What Government Agencies Do and Why They Do It—Jonan sedang melakukan apa yang disebut cultural re-engineering, mengganti DNA organisasi dari birokrasi malas menjadi mesin layanan publik. 

Keberhasilan itulah yang membuat Jokowi dulu memanggil Jonan ke kabinet pada 2014. Sebagai Menteri Perhubungan, ia membawa semangat yang sama: cepat, tegas, tanpa basa-basi. Banyak kebijakannya disebut shock therapy—mengagetkan tapi efektif. Paul Sabatier dalam Theories of the Policy Process menjelaskan bahwa perubahan radikal hanya bisa berhasil jika ada political will dari atas. Waktu itu, Jonan punya restu penuh dari Jokowi, dan hasilnya bisa dirasakan: sektor transportasi mulai lebih transparan dan efisien.

Cupin ingat betul masa-masa itu. “Dulu berita Jonan marah di bandara viral terus,” ujarnya sambil tertawa. Tapi di balik marahnya, ada hasil nyata: perizinan disederhanakan, terminal ditertibkan, dan ekonomi biaya tinggi ditekan. Jonan, dalam istilah Osborne dan Gaebler di Reinventing Government, sedang mempraktikkan entrepreneurial leadership—membuat birokrasi bekerja seperti bisnis yang efisien.

Namun, gaya keras itu juga menimbulkan gesekan. Ada yang bilang Jonan terlalu cepat membuat perubahan, tidak memberi waktu adaptasi pada birokrat. Kritik itu valid, tapi seperti ditulis Barbara Crosby dan John Bryson dalam Leadership for the Common Good, dalam krisis, yang dibutuhkan bukan harmoni, melainkan keberanian mengambil keputusan cepat meski tidak populer. Dan Jonan, seperti yang Cupin katakan, “bukan tipe orang yang takut dimusuhin.”

Bagi Prabowo, karakter seperti itu mungkin justru aset. Ia butuh orang yang bisa “menggebrak meja” tanpa harus banyak minta izin. Tapi Cupin menatap langit sore di luar warung dan bergumam, “Tapi ini beda zaman, beda bos.” Pertanyaannya: apakah Jonan mau bekerja di bawah gaya kepemimpinan Prabowo yang penuh kalkulasi politik? Dan apakah langkah ini bagian dari pola yang lebih besar dalam cara Prabowo membangun kekuasaannya?

Crisis Creates Opportunities

Cupin selalu percaya bahwa politik itu seperti permainan catur: kadang yang terlihat kalah justru sedang memancing lawan. Ia mengingat adagium lama dari dunia politik: never let a good crisis go to waste. Dan tampaknya, Presiden Prabowo sangat memahami prinsip itu. Sejak awal masa pemerintahannya, setiap kali krisis muncul, Prabowo tidak panik. Ia justru memanfaatkannya sebagai alasan untuk merombak dan memperkuat kendali di titik strategis.

Ingat ketika Sri Mulyani digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa di tengah defisit anggaran? Banyak yang kaget, tapi Prabowo tahu apa yang ia lakukan. Sri Mulyani memang dihormati di dunia internasional, tapi pendekatannya yang konservatif dianggap tidak cocok dengan agenda ekonomi ekspansif yang Prabowo ingin jalankan. Purbaya, seorang ekonom pragmatis, lebih fleksibel dan sejalan dengan visi presiden. “Ganti pemain, tapi bukan karena salah main,” ujar Cupin. “Karena strateginya berubah.”

Begitu juga ketika Hasan Nasbi digantikan Angga Raka Prabowo di Badan Komunikasi Pemerintah. Langkah itu bukan sekadar rotasi, tapi restrukturisasi narasi. Angga dikenal lebih lihai mengendalikan komunikasi publik dan membangun citra kepresidenan yang kohesif. Lalu, Budi Arie Setiadi yang diganti Ferry Juliantono di Kementerian Koperasi—semuanya mengikuti pola yang sama: mengganti bukan karena gagal, tapi karena dibutuhkan orang yang seirama dengan irama presiden.

Dalam teori klasik Richard Neustadt, Presidential Power and the Modern Presidents, kekuasaan presiden bukan sekadar memerintah, melainkan membujuk dan memengaruhi. Presiden efektif bukan yang punya banyak aturan, tapi banyak loyalis di posisi kunci. Cupin menyengir. “Ya kayak main futsal, kalau udah satu tim, ngoper bola juga nggak perlu mikir lama.” Dan memang, reshuffle-reshuffle itu membuat Prabowo punya kendali lebih besar atas tiga poros vital: uang, narasi, dan rakyat.

Kini, krisis Whoosh tampaknya menjadi panggung berikutnya. Di sinilah Jonan mungkin akan dimainkan. Kementerian Perhubungan bukan cuma soal rel dan pesawat; ia adalah kementerian dengan pengaruh ekonomi yang masif dan sentral bagi konektivitas nasional. Jika Prabowo menaruh Jonan di sana, ia bukan hanya sedang memperbaiki proyek kereta cepat, tapi sedang memperkuat cengkeramannya pada roda infrastruktur nasional.

Cupin mengusap dagunya. “Jadi, kalau Purbaya itu simbol konsolidasi ekonomi, bisa jadi Jonan nanti jadi simbol konsolidasi infrastruktur.” Namun, seperti semua strategi besar, risiko juga besar. Ketergantungan pada figur-figur kuat bisa mengikis kelembagaan. Kalau Jonan gagal, kegagalan itu langsung menimpa reputasi Prabowo sendiri. Tapi kalau sukses, ia akan jadi pembuktian bahwa Prabowo bukan hanya presiden yang tegas, tapi juga strategis.

Politik, seperti yang sering Cupin bilang, adalah soal momentum. Jonan mungkin hanyalah satu pion di papan besar kekuasaan, tapi pion juga bisa jadi ratu jika melangkah dengan benar. Krisis Whoosh memberikan alasan, publik memberi tekanan, dan Prabowo punya kesempatan untuk bergerak cepat. Pertanyaannya, apakah Jonan mau kembali masuk ke permainan ini—dan apakah ia siap bekerja dengan visi Prabowo yang kini lebih politis daripada teknokratis?

Sore di warung kopi mulai gelap. Cupin mematikan televisi dan menatap jalanan Jakarta yang macet. Ia menyalakan rokok terakhirnya, menghembuskan asap pelan, dan menutup pembicaraannya dengan kalimat yang terasa seperti refleksi:

“Pada akhirnya, semua kembali ke keputusan presiden. Mau Jonan, mau Purbaya, mau siapa pun yang dipanggil ke Istana—mereka cuma bagian dari strategi besar di kepala satu orang: Prabowo Subianto.” (A43)


0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Jonan, the Next “Purbaya”?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy Astaga! privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us