Dengarkan artikel ini:
Audio ini dibuat menggunakan AI.
Rupiah bergejolak, Gubernur BI Perry Warjiyo disorot. Tapi benarkah Bank Indonesia satu-satunya koki di “dapur” forex? Di balik pasar sekitar US$9,6 triliun per hari, kiranya ada “Master Chef” tak terlihat—jaringan kekuasaan finansial yang menentukan rasa akhir nilai tukar Indonesia yang mungkin saja sebenarnya diketahui oleh Perry sendiri.
Setiap kali rupiah bergejolak, refleks publik hampir selalu sama: mencari sosok yang bisa dipersalahkan. Dalam beberapa tahun terakhir, nama itu kerap mengarah pada Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.
Terlebih, dengan pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Indonesia Economic Summit (IES) di Jakarta tadi malam 3 Februari 2026.
Mengulang pernyataannya bahwa jika dia punya wewenang rupiah bisa membaik dalam semalam, Purbaya kali ini mengatakan pelemahan rupiah dengan ending kode keras “bank sentral” dan frasa tidak ingin membuka kelemahan pihak tertentu.
Apalagi, dengan dua dinamika sebelumnya yang secara kronologis membentuk Perry sebagai antagonis dalam pelemahan Rupiah serta impresi minor BI.
Pertama, laporan Tempo bahwa Perry disebut kurang kooperatif dengan intepretasi terlalu independen sehingga membuka ruang tafsir “penyalahgunaan independensi” dan mengesampingkan sinergi dengan kebijakan pemerintah.
Kedua, mengenai proses revisi UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) di mana Presiden berwenang memberhentikan Dewan Gubernur BI, OJK, dan LPS melalui Keppres.
Di titik ini muncul interpretasi bahwa Perry mungkin terlalu ortodoks, kurang agresif, atau tidak cukup “berani” melawan tekanan pasar.
Namun, terlepas dari impresi kekakuan Perry, tafsir tersebut kiranya menyederhanakan persoalan yang sejatinya jauh lebih kompleks.
Nilai tukar rupiah tidak bergerak di ruang hampa, melainkan di dalam pasar valuta asing global yang setiap hari memutar dana sekitar US$9,6 triliun—pasar keuangan terbesar dan paling cair di dunia.
Dalam pasar sebesar itu, rupiah hanyalah satu komoditas moneter di antara ratusan mata uang lain.
Ia diperdagangkan, dipertaruhkan, dan diposisikan oleh aktor-aktor yang sering kali tidak pernah muncul di ruang publik.
Dari sinilah muncul metafora “Master Chef Forex”, yakni figur-figur atau jaringan aktor besar yang memasak pergerakan nilai tukar di dapur yang tidak terlihat, sementara publik hanya menikmati—atau mengeluhkan—hasil akhir dan dampak nyatanya.
Narasi yang menyebut rupiah “digoreng” sering kali berhenti pada asumsi kabur. Padahal, pertanyaan yang lebih relevan bukan apakah ada pemain, melainkan siapa yang memiliki kendali atas api, bahan, dan waktu memasak di dapur global tersebut.
Di sinilah analisis nilai tukar perlu keluar dari sekadar teknis moneter dan masuk ke ranah ekonomi politik keuangan.
Pasar Valas dan Ilusi Butterfly Effect
Pasar valuta asing modern lebih tepat dibaca melalui kerangka political economy of finance ketimbang teori pasar bebas klasik. Ia bukan arena yang setara, melainkan ruang yang sangat terkonsentrasi, di mana kekuatan modal, akses likuiditas, dan informasi menentukan siapa yang benar-benar berpengaruh.
Di dalam struktur seperti ini, klaim bahwa pemain kecil dapat menciptakan efek kupu-kupu yang signifikan sering kali bersifat romantik.
Fenomena trader ritel, termasuk narasi populer tentang kelompok kecil dengan modal belasan ribu dolar, memang nyata secara jumlah. Mereka ramai, aktif, dan menciptakan kebisingan di media sosial.
Namun secara volume dan pengaruh, kontribusi mereka terhadap arah pasar global sangat terbatas. Dalam lautan transaksi triliunan dolar, mereka lebih mirip riak kecil ketimbang arus utama. Efek mereka mungkin terasa di mikrostruktur jangka sangat pendek, tetapi nyaris tak menentukan tren nilai tukar nasional.
Sebaliknya, arah pergerakan rupiah lebih banyak ditentukan oleh aktor-aktor besar yang beroperasi di balik layar.
Bank-bank investasi global bertindak sebagai pembuat pasar, menentukan likuiditas dan spread, serta membaca arus dana jauh sebelum publik menyadarinya.
Di tingkat domestik, bank-bank besar Indonesia dan cabang bank asing memainkan peran sentral dalam mengelola transaksi valas nasabah korporasi sekaligus posisi mereka sendiri.
Perusahaan-perusahaan besar, khususnya di sektor energi, pertambangan, dan infrastruktur, juga memiliki pengaruh signifikan melalui keputusan konversi devisa dan lindung nilai.
Dalam lanskap ini, Bank Indonesia sendiri adalah pemain besar, meskipun dengan mandat berbeda. Intervensi yang dilakukan bukan untuk berspekulasi, melainkan untuk meredam volatilitas dan menjaga stabilitas.
Namun ironinya, ketika stabilitas tidak tercapai sesuai ekspektasi publik, bank sentral justru dituding sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. Hipotesanya, ia hanya salah satu aktor di antara banyak “koki” di dapur yang sama.
Namun, bagaimana dengan peluang para “master chef forex” memanfaatkan intervensi BI, dengan atau tanpa kompromi?

Perry, Misteri Tangan Tak Terlihat
Di titik inilah posisi Perry Warjiyo menjadi paradoksal. Ia dituntut menjaga stabilitas rupiah di pasar yang secara struktural tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh bank sentral negara berkembang.
Intervensi yang terlalu agresif berisiko menguras cadangan devisa dan merusak kredibilitas kebijakan. Sebaliknya, pendekatan yang terlalu hati-hati mudah dibaca sebagai kelemahan atau ketidakberdayaan. Dilema ini bersifat sistemik, bukan personal.
Ketika kritik terhadap Perry mulai bergeser dari soal teknis ke tudingan “tidak kooperatif” atau tidak sejalan dengan agenda pemerintah, persoalan nilai tukar pun berubah menjadi isu politik.
Narasi tentang rupiah yang “mudah” digerakkan atau “digoreng” menjadi alat untuk mendeligitimasi otoritas moneter.
Dalam konteks ini, figur “Master Chef Forex” sering kali berfungsi sebagai simbol ketakutan kolektif, sekaligus pengalihan dari kenyataan bahwa pasar valas global memang tidak sepenuhnya berada dalam kendali nasional.
Apakah ada tangan tak terlihat yang memainkan rupiah? Hampir pasti ada, dalam arti struktur pasar yang memungkinkan aktor besar mengarahkan arus.
Namun tangan itu bukan satu sosok misterius, bukan pula sekumpulan trader ritel kecil. Ia adalah jaringan kepentingan finansial yang bekerja lintas negara, lintas institusi, dan lintas kepentingan.
Dalam jaringan itu, Perry Warjiyo bukan tanpa kendali. Dirinya tetap dianggap memainkan peran sentral untuk bersinergi bersama pemerintah dan stakeholder terkait untuk memastikan keselarasan kebijakan dan realita pasar.
Membaca rupiah tanpa mencari kambing hitam menuntut kedewasaan analitis. Nilai tukar adalah hasil tawar-menawar antara kebijakan domestik, arus global, dan kekuasaan finansial internasional. (J61)