Hashim: The ‘Teasing’ Brother?

hashim:-the-‘teasing’-brother?
Hashim: The ‘Teasing’ Brother?
Share

Share This Post

or copy the link

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Hashim Djojohadikusumo sebut ada “telur busuk” di pemerintah dan swasta. Sinyal bahaya nyata atau sekadar strategi “sentil-menyentil”?


PinterPolitik.com

“He was the one man the President could trust explicitly, simply because he was his brother.” — Theodore Sorensen, penasihat utama & penulis pidato JFK

Cupin duduk termenung di sudut kedai kopi langganannya sambil menatap layar gawai yang menyala terang. Matanya terpaku pada sebuah berita terbaru yang menampilkan sosok Hashim Djojohadikusumo dengan pernyataan yang cukup menggetarkan jagat politik.

Adik kandung Presiden Prabowo Subianto itu kembali melontarkan diksi yang tidak lazim dalam diskursus birokrasi yang biasanya santun dan penuh basa-basi. Hashim secara terbuka menyebut adanya “telur busuk” di dalam sistem pemerintahan yang harus segera dibersihkan demi kelancaran pembangunan.

Cupin tersenyum kecil, menyadari bahwa ini bukan sekadar metafora kuliner yang asal bunyi dari seorang pengusaha. Bagi Cupin, istilah “telur busuk” adalah sebuah kode keras yang ditujukan kepada oknum pejabat atau pengusaha nakal yang menghambat.

Hashim seolah sedang menabuh genderang perang, namun dengan gaya yang santai dan penuh percaya diri di hadapan publik. Ia tidak sedang marah-marah secara emosional, melainkan sedang mengirimkan sinyal bahaya kepada siapa saja yang merasa tersindir.

Cupin teringat bahwa ini bukan kali pertama sang adik memainkan peran sebagai penyebar kabar buruk bagi para mafia dan pengemplang. Sebelumnya, Hashim juga yang paling vokal membocorkan angka kebocoran negara hingga ratusan triliun rupiah di berbagai sektor.

Tampaknya, Hashim sedang menikmati peran barunya sebagai The Teasing Brother atau saudara yang gemar “menggoda” lawan. Ia menggoda rasa aman para pejabat korup yang selama ini merasa terlindungi oleh jabatan basah atau koneksi partai.

“Godaannya” bukan sembarang godaan, melainkan sebuah ancaman halus yang dibungkus dengan informasi intelijen A1 yang valid. Cupin membayangkan betapa panas dinginnya para oknum di kementerian saat mendengar Hashim berbicara lantang di podium.

Hashim seolah berkata, “Saya tahu siapa kalian, dan kakak saya sudah memegang daftarnya di saku beliau.” Cupin melihat ada kepuasan tersendiri dalam gestur Hashim saat menyampaikan hal-hal yang tabu dibicarakan menteri lain.

Ia menjadi antitesis dari gaya komunikasi istana yang biasanya penuh eufemisme dan kehati-hatian tingkat tinggi. Di saat pejabat lain sibuk memoles citra agar terlihat bersih, Hashim justru sibuk menelanjangi borok di balik layar.

Cupin menilai, kemunculan Hashim dengan narasi ini bukan sekadar pernyataan biasa tanpa agenda tersembunyi. Ia datang untuk menegaskan bahwa era “main mata” di sektor sumber daya alam dan perizinan sudah selesai.

Pernyataan tentang langkah tegas Prabowo untuk membersihkan “telur busuk” adalah sebuah ultimatum terbuka yang tidak bisa ditawar. Tidak ada lagi ruang negosiasi bagi mereka yang menghambat target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicita-citakan.

Cupin melihat fenomena ini sebagai sebuah tontonan politik yang menyegarkan di tengah kaku-nya birokrasi pemerintahan. Namun, di balik tontonan itu, ada strategi kekuasaan yang sedang bekerja sangat rapi dan sistematis.

Hashim tidak bergerak liar; ia bergerak dalam koridor yang tampaknya sudah disepakati di meja makan keluarga Cendana atau Kertanegara. Cupin mulai bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik layar istana yang tertutup rapat.

Apakah “nyanyian” Hashim ini murni inisiatif pribadi seorang adik yang peduli pada kakaknya yang sedang memimpin negara? Ataukah ini adalah bagian dari skenario besar pembagian peran yang sudah dirancang jauh-jauh hari sebelum pelantikan?

Kitchen Cabinet dan Bayang RFK?

Cupin mulai mencoba membedah pola ini dengan lebih serius, menjauhkan sedikit kopinya yang mulai dingin karena AC ruangan. Ia menyadari bahwa Hashim tidak hanya bermodal omongan, tetapi juga instrumen kekuasaan nyata seperti Satgas yang dibentuk.

Khususnya, Satgas yang berkaitan dengan perumahan maupun penertiban kawasan hutan yang sempat ramai dibicarakan publik. Cupin teringat pada analisis Patrick Weller dalam bukunya yang berjudul Don’t Tell the Prime Minister yang sangat relevan.

Weller menjelaskan secara naratif bagaimana seorang kepala pemerintahan sering kali memiliki lingkaran inti yang bekerja di luar struktur formal birokrasi. Lingkaran ini, atau sering disebut kitchen cabinet, bertugas menangani isu-isu yang terlalu sensitif untuk diserahkan kepada menteri biasa.

Hashim adalah personifikasi sempurna dari konsep core executive non-formal yang dijelaskan oleh Weller tersebut dalam konteks Indonesia. Ia tidak perlu jabatan menteri untuk memiliki wewenang “menggebuk” para pengemplang pajak di sektor kehutanan atau tambang.

Cupin melihat bahwa pola ini sebenarnya lazim terjadi di berbagai negara maju yang sistem politiknya sudah matang sekalipun. Tengok saja sejarah Amerika Serikat pada masa pemerintahan John F. Kennedy yang legendaris itu.

Kala itu, Robert F. Kennedy atau RFK, memainkan peran yang sangat mirip sebagai adik sekaligus pelindung utama sang presiden dari serangan lawan. RFK bukan hanya Jaksa Agung, tapi juga “anjing penjaga” yang membersihkan rintangan politik bagi JFK di lapangan.

Hashim tampaknya sedang mengadopsi peran RFK tersebut dalam konteks politik Indonesia modern yang penuh intrik. Bedanya, medan pertempuran Hashim adalah hutan, tambang ilegal, dan kebocoran anggaran negara yang masif.

Ketika Hashim bicara soal triliunan rupiah yang hilang, ia sedang memvalidasi eksistensi Satgas yang bekerja di bawah bayang-bayang birokrasi. Satgas ini menjadi tangan kanan Prabowo untuk melakukan eksekusi tanpa harus mengotori tangan presiden secara langsung dengan kegaduhan.

Cupin memahami bahwa menempatkan keluarga di posisi strategis seperti ini memberikan jaminan loyalitas mutlak yang tak tergantikan. Dalam teori politik, kepercayaan adalah mata uang yang paling mahal, dan darah lebih kental daripada kontrak koalisi partai.

Hashim bisa dipercaya untuk tidak akan menelikung Prabowo di tikungan akhir demi kepentingan pribadi. Oleh karena itu, Satgas yang diisi atau diawasi oleh orang kepercayaan seperti Hashim memiliki power yang menakutkan bagi lawan.

Mereka bisa menerobos sekat-sekat ego sektoral kementerian yang sering kali menghambat penegakan hukum di lapangan. Cupin melihat, Hashim menggunakan data intelijen ekonomi untuk menekan “telur busuk” agar menyerah secara sukarela.

Jika mereka tidak menyerah setelah “digoda” Hashim, maka barulah hukum negara yang akan berbicara dengan keras. Ini adalah strategi pressure bertingkat yang sangat efisien dalam manajemen konflik tingkat tinggi.

Para mafia hutan dan tambang kini dihadapkan pada dilema: berhadapan dengan Hashim sekarang atau langsung dihancurkan oleh Prabowo nanti. Cupin mengangguk-angguk kecil, mulai memahami alur permainan catur yang sedang dimainkan ini.

Namun, strategi keluarga ini tentu bukan tanpa risiko politik yang menyertainya di kemudian hari bagi pemerintahan. Apakah ketergantungan pada sosok adik ini tidak akan menimbulkan kecemburuan di kalangan partai koalisi pendukung pemerintah?

Mungkinkah pola komunikasi yang agresif ini justru akan menjadi bumerang bagi stabilitas kabinet di masa depan jika tidak dikelola dengan hati-hati?

The ‘Teasing’ Brother?

Cupin kembali bersandar, mencoba menarik benang merah teoretis yang lebih spesifik soal peran Hashim sebagai “balon percobaan” kebijakan. Dalam literatur komunikasi politik, apa yang dilakukan Hashim dikenal sebagai strategi Trial Balloon yang klasik.

Ia teringat pada tulisan Lee Sigelman yang berjudul The Trial Balloon: A Framework for Analysis yang membedah fenomena ini secara mendalam dan tajam. Sigelman menarasikan bahwa elit politik sering kali sengaja membocorkan ide atau ancaman kontroversial untuk menguji reaksi publik terlebih dahulu.

Tujuannya adalah untuk melihat arah angin dan sentimen masyarakat sebelum kebijakan yang sesungguhnya diputuskan oleh sang pemimpin utama. Hashim, dalam hal ini, adalah balon percobaan paling aman dan paling efektif bagi Presiden Prabowo saat ini.

Jika pernyataan Hashim soal “telur busuk” mendapat dukungan publik yang masif, maka Prabowo akan melanjutkannya dengan kebijakan resmi yang tegas. Namun, jika pernyataan itu menimbulkan gejolak atau resistensi berlebihan, Prabowo bisa dengan mudah menjaga jarak aman.

Presiden bisa berdalih bahwa itu hanyalah pendapat pribadi sang adik yang tidak mewakili sikap resmi istana atau kabinet. Konsep ini sering disebut sebagai plausible deniability atau penyangkalan yang masuk akal dalam strategi politik tingkat tinggi.

Cupin melihat kecerdikan luar biasa dalam taktik “menggoda” yang dimainkan Hashim ini untuk melindungi kakaknya. Ia menjadi buffer atau penyangga yang melindungi citra Prabowo sebagai negarawan yang merangkul semua pihak dengan senyuman.

Biarlah Hashim yang menjadi Bad Cop yang galak dan menakutkan bagi para mafia dan birokrat korup. Sementara itu, Prabowo tetap bisa tampil sebagai Good Cop yang bijaksana dan tenang di mata rakyat Indonesia.

Istilah “telur busuk” yang dilempar Hashim adalah sebuah Early Warning System bagi siapa saja yang merasa dirinya bermasalah dalam bekerja. Cupin menganalisis bahwa ini adalah kesempatan terakhir bagi para oknum untuk “bertobat” atau mundur teratur sebelum terlambat.

Hashim sedang melakukan seleksi alam di lingkaran kekuasaan tanpa perlu ada surat pemecatan resmi yang gaduh di media massa. Siapa yang panik dan menyerang balik Hashim, dialah yang sebenarnya sedang membuka aibnya sendiri di hadapan publik.

Cupin membayangkan betapa efektifnya saringan politik model ini untuk menjaga integritas kabinet yang gemuk dan beragam kepentingannya. Prabowo tidak perlu repot-repot memarahi bawahannya satu per satu di depan umum yang bisa menurunkan wibawa.

Cukup Hashim yang berbicara di media, dan pesan peringatan itu akan sampai ke seluruh penjuru birokrasi di negeri ini. Ini adalah efisiensi kekuasaan yang dikendalikan melalui narasi publik dan psikologi ketakutan yang terukur.

Bagi Cupin, Hashim bukan sekadar adik, melainkan instrumen vital dalam kelangsungan pemerintahan kakaknya di tengah badai politik. Ia adalah proxy yang berani mengambil risiko dibenci demi menjaga tahta tetap bersih dari kotoran korupsi.

Tanpa Hashim yang berani “menggoda” dan menyentil, pemerintahan mungkin akan terjebak dalam rutinitas yang lamban dan penuh kompromi busuk. Cupin menutup analisisnya dengan sebuah pemikiran mendalam tentang beban berat seorang adik di pusaran kekuasaan.

Pada akhirnya, dalam dunia politik yang penuh dengan topeng dan kepalsuan, kejujuran yang paling brutal sering kali harus datang dari orang yang memiliki ikatan darah. Hashim Djojohadikusumo mungkin terlihat sedang “bermain-main” dengan kata-katanya, namun sesungguhnya ia sedang memikul beban terberat untuk memastikan visi kakaknya tidak digerogoti oleh para pengkhianat dari dalam. (A43)


0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Hashim: The ‘Teasing’ Brother?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy Astaga! privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us