● Meminta istri mengontrol perilaku merokok suami bisa memperdalam ketimpangan relasi kuasa dalam rumah tangga.
● Pendekatan ini kurang efektif karena istri cenderung tidak didengarkan.
● Kebiasaan merokok suami lebih mudah diubah ketika laki-laki punya kesadaran aktif untuk berhenti.
Lewat akun Instagram pribadinya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada Januari lalu mengunggah video edukasi soal pentingnya mengalihkan uang rokok bapak guna memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Dia menganjurkan para istri menagih uang rokok suami agar dibelanjakan menjadi kebutuhan sehari-hari, seperti telur.
Meski menuai reaksi positif dari warganet, pendekatan yang ditawarkan Menkes Budi memunculkan pertanyaan lebih mendasar: mengapa tanggung jawab mengontrol rokok di rumah justru dibebankan kepada perempuan?
Sebagai peneliti kebijakan kesehatan masyarakat, khususnya perilaku merokok, kami menilai pendekatan ini tidak akan menyelesaikan masalah dan hanya menambah beban perempuan.
Jika tujuan utamanya menciptakan rumah tangga bebas asap rokok, kita justru perlu mengakui bahwa laki-laki adalah “sumber masalah” dalam pengendalian tembakau. Mereka perlu ditempatkan sebagai aktor utama agar punya kesadaran aktif untuk berhenti merokok.
Terhalang ego suami dan ketimpangan kuasa
Global Adult Tobacco Survey (2021) memperkirakan 65,5% laki-laki dewasa di Tanah Air adalah perokok. Merokok bagi laki-laki Indonesia telah lama dikaitkan dengan simbol maskulinitas, kemandirian, identitas gender, hingga kekuatan dan otoritas dalam rumah tangga.
Di lingkungan masyarakat yang patriarki, kuatnya konstruksi maskulinitas ini membuat istri di Indonesia tidak didengarkan sehingga kesulitan menghentikan kebiasaan merokok suami.
Belum lagi, istri harus menghadapi dalih kecanduan rokok, kebiasaan, hingga sarana penghilang stres yang berakar dari tingginya ego suami.
Banyak perokok bahkan enggan berhenti meski tahu perilakunya membahayakan kesehatan diri sendiri dan orang sekitar.
Kecenderungan perokok berperilaku agresif dan reaktif saat ditegur, tak jarang juga memicu ketegangan dan konflik dengan istri.
Sebagian istri mungkin memilih tetap menoleransi perilaku merokok suaminya demi menjaga keutuhan rumah tangga. Ada juga yang memberikan pengecualian saat hamil atau memiliki anak.
Pasalnya, paparan asap rokok bisa membahayakan ibu dan anak—bahkan sejak janin di dalam kandungan. Paparan asap rokok bisa memicu keguguran serta kematian mendadak pada bayi.
Kendati demikian, penelitian tahun 2021 di Indonesia menunjukkan meski suami setuju tidak merokok demi melindungi anak, mereka tetap menolak untuk berhenti merokok sepenuhnya.
Karena itu, upaya menempatkan ibu untuk mengontrol kebiasaan merokok suami kurang efektif.
Selain menempatkan tanggung jawab kesehatan keluarga sepenuhnya kepada perempuan, pendekatan tersebut mengabaikan peran ayah dalam melindungi keluarga—anggapan yang kental di masyarakat Indonesia.
Kajian global menegaskan bahwa kebiasaan merokok lebih mudah diubah dan berkelanjutan ketika laki-laki menjadi aktor aktif, bukan sekadar objek yang ditegur dan dilarang.
Mendorong narasi ‘bapak yang melindungi’
Pendekatan berbasis maskulinitas telah banyak direkomendasikan dalam sejumlah kajian global untuk menghentikan kebiasaan merokok laki-laki, terutama di Asia.
Contohnya, beberapa bukti awal menunjukkan bahwa pendekatan yang menekankan kesehatan sebagai simbol kekuatan laki-laki dan tanggung jawab mereka sebagai kepala keluarga—dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan laki-laki untuk berhenti merokok.
Hal ini terutama ketika upaya tersebut dilakukan lewat program kesehatan di tempat kerja dan aplikasi digital.
Sayangnya, struktur masyarakat patriarki yang membatasi peran laki‑laki dalam ranah domestik dan pengasuhan membuat eksplorasi pendekatan ini masih minim di Indonesia. Akibatnya, perubahan status sebagai ayah belum cukup mengubah perilaku merokok laki-laki di Tanah Air secara umum.
Program kesehatan sebaiknya membuka ruang bagi para suami untuk mengubah kebiasaan dan cara pandang mereka tentang sosok laki-laki, sehingga mereka tidak lagi merasa bahwa merokok adalah syarat untuk terlihat jantan, berwibawa, ataupun diterima di lingkungan sebaya.
Kita perlu membingkai ulang maskulinitas sebagai bentuk tanggung jawab, bukan dominasi. Contohnya, dengan mempromosikan kampanye kesehatan lewat narasi bapak yang kuat adalah bapak yang melindungi istri dan anak-anaknya dari paparan asap rokok.
Selain itu, Kemenkes perlu mengembangkan program kesehatan yang secara khusus menargetkan laki-laki perokok. Misalnya, dengan mengembangkan aplikasi kalkulator keuntungan finansial setiap kali berhenti merokok.
Read more: Rokok ilegal: Narasi berulang untuk menghambat kenaikan cukai
Pemerintah perlu lebih berhati-hati dalam memberikan kampanye kesehatan, terutama agar tidak memperberat beban emosional perempuan.
Menggeser tanggung jawab ke istri mungkin terdengar praktis, tetapi berisiko memperdalam ketimpangan relasi kuasa dalam rumah tangga. Pendekatan ini juga kurang efektif dalam menumbuhkan kemauan pribadi suami agar benar-benar berhenti merokok.
Untuk itu, kita membutuhkan strategi pengendalian rokok berbasis keluarga, yang sensitif gender serta kontekstual terhadap budaya patriarki yang masih kuat di Indonesia.