tirto.id – Desa Cempaka Sakti, Kecamatan Kikim Timur, Lahat, Sumatra Selatan, beberapa hari terakhir mencekam karena warganya menggeruduk pimpinan pondok pesantren inisial AS yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap dua guru perempuan. Warga sepakat mengusir pelaku setelah mengakui perbuatannya.
Beberapa hari lalu, warga menggeruduk ponpes tersebut dengan meminta penjelasan dan pertanggungjawaban pelaku. Namun warga tidak puas karena orang yang dituju enggan keluar. Melihat situasi tak kondusif, orang tua santri pun datang ke pesantren untuk membawa pulang anaknya. Beberapa santri juga diantar pulang oleh pengurus pesantren.
Warga yang sudah tersulut emosi sepakat berencana kembali menggelar aksi karena tak terima atas perbuatan pelaku yang dianggap mencoreng nama baik desa dan pesantren. Niat mereka berhasil diredam kepolisian bersama tokoh agama dan pemerintah setempat.
Difasilitasi Polsek Kikim Timur, dilakukan dialog dan musyawarah antara warga dan perwakilan ponpes, Sabtu (2/5/2026). Pertemuan ini dihadiri juga Forum Ponpes Lahat, camat, dan kades.
Dalam pertemuan itu berhasil mengeluarkan beberapa kesepakatan. Di antaranya pelaku AS segera meninggalkan desa setempat, menutup sementara pesantren, dan mengizinkan santri kelas III MTs untuk tetap mengikuti ujian baik di pesantren tersebut maupun di sekolah lain sesuai rekomendasi Kementerian Agama.

Selain itu, pelaku juga diminta menandatangani surat pernyataan setelah mengakui tuduhan itu. Surat ini turut ditandatangani oleh salah satu korban yang telah berusia 22 tahun.
Kapolsek Kikim Timur, AKP Pamris Malau, menjelaskan pihaknya terlibat langsung dalam proses mediasi antara warga, terduga pelaku, dan perwakilan pesantren. Warga sepakat tidak akan turun aksi lagi setelah beberapa perjanjian dikeluarkan dari hasil pertemuan.
“Sudah kami fasilitasi pertemuan dan menghasilkan beberapa poin penting sesuai permintaan warga,” ungkap Pamris Malau, Senin (4/5/2026).
Malau belum mengetahui bentuk pelecehan seksual yang dilakukan AS karena korban hingga kini belum melapor ke polisi. Namun, dia mengonfirmasi korban berjumlah dua orang yang berstatus sebagai pengajar di pesantren tersebut.
Informasi yang diterimanya, korban tidak melapor karena sebelumnya sudah ada perdamaian dengan pelaku. Mereka sepakat mengambil jalur kekeluargaan untuk menuntaskan kasus ini.
“Sekaligus kami luruskan bahwa korban bukan santri, tapi pendidik wanita, infonya ada dua orang,” kata Pamris.
Pamris mengimbau masyarakat tidak memperkeruh suasana dengan memberikan informasi sembarang ke media sosial. Polisi berkomitmen menuntaskan kasus ini dengan profesional jika ada laporan resmi dari korban.
“Kami paham warga tidak ingin kasus ini berlarut-larut, tapi percayakan kepada kami untuk menyelesaikannya. Alhamdulillah sejauh ini situasi sudah kondusif,” kata Pamris.
tirto.id – Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama