3 Konflik, 1 Pola?

3-konflik,-1-pola?
3 Konflik, 1 Pola?
Share

Share This Post

or copy the link

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat dengan teknologi AI.

Tiga kali dalam tiga dekade, dunia mengalami guncangan energi yang serius. Tiga kali pula, Indonesia bertahan dari guncangan tersebut. Ini adalah posisi yang tidak bisa disebut hanya sebagai keberuntungan.


PinterPolitik.com

Ketika harga minyak dunia menembus US$100 per barel akibat perang Iran, Vietnam menaikkan harga BBM hampir 50 persen. Singapura 15 persen. Kamboja lebih dari 60 persen. Indonesia? Tidak ada kenaikan sama sekali — bahkan per 1 April 2026, Pertamina mengumumkan harga BBM tetap tidak berubah.

Di saat yang sama, sawit dan batu bara — dua komoditas ekspor utama Indonesia — justru menguat nilainya. Ini bukan anomali sesaat. Ini adalah bagian dari pola yang sudah berulang tiga kali dalam tiga dekade terakhir — setiap kali dunia mengalami guncangan energi dan pangan berskala besar, Indonesia relatif aman, bahkan kerap keluar dalam posisi yang lebih kuat

Nassim Nicholas Taleb, dalam Antifragile (2012), membedakan tiga jenis sistem: yang fragile — hancur ketika diguncang; yang robust — tetap sama ketika diguncang; dan yang antifragile — yang justru menguat ketika diguncang. Angin tidak memadamkan lilin, tapi membesarkan api. Indonesia, seperti yang dicurigai, lebih dari sekadar negara yang robust. Dalam banyak dimensinya, ia bersifat antifragile.

Apakah ini hasil dari pilihan sadar, atau sesuatu yang lebih dalam: bahwa arsitektur geografi, komoditas, dan sejarah Indonesia secara struktural memang memaksa ia menjadi demikian? Jawaban atas pertanyaan itu tidak hanya mengubah cara kita memahami Indonesia — ia mengubah cara kita memahami apa yang benar-benar membuat sebuah negara mampu bertahan ketika dunia sedang tidak baik-baik saja.

image

Tiga Kali Indonesia “Survive & Thrive”

1. Perang Teluk 1991: Ketika Lonjakan Minyak Menjadi Angin Segar

      Ketika Irak menginvasi Kuwait pada Agustus 1990, pasar energi global bereaksi seketika. Harga minyak mentah hampir dua kali lipat dalam hitungan minggu. Amerika Serikat jatuh ke dalam resesi. Kanada dan sebagian besar Eropa mengalami perlambatan ekonomi yang tajam.

      Indonesia, yang saat itu masih anggota OPEC, berdiri di sisi yang berlawanan dari guncangan itu. Dari 1989 hingga 1997 — periode yang mencakup dan melampaui Perang Teluk — ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata di atas 7 persen per tahun menurut data World Bank. Lonjakan harga yang menghantam negara-negara importir adalah windfall bagi eksportir yang kebetulan bernama Indonesia.

      Inilah manifestasi pertama dari apa yang Albert Hirschman sebut sebagai supply leverage dalam National Power and the Structure of Foreign Trade (1945): kekuatan yang lahir bukan dari ukuran militer atau ekonomi, melainkan dari kontrol atas apa yang paling dibutuhkan dunia justru ketika dunia paling tidak stabil.

      2. Perang Rusia-Ukraina 2022: Tiga Komoditas, Satu Momen

      Pada Februari 2022, Rusia menginvasi Ukraina dalam skala penuh. Dalam 72 jam pertama, pasar global sudah bergolak. Ini bukan hanya perang — ini adalah gangguan simultan pada dua rantai pasok terpenting di dunia: energi dan pangan.

      Harga gas alam di Eropa meledak karena benua itu bergantung pada pipa Rusia. Harga gandum melonjak karena Ukraina dan Rusia bersama-sama menyumbang hampir sepertiga ekspor gandum global. Di Eropa, inflasi menembus 10 persen pada akhir 2022. Di Amerika Serikat, inflasi mencapai 9,1 persen — tertinggi sejak 1981. Di Sri Lanka, krisis devisa berujung pada kehancuran pemerintahan. Dunia, dalam banyak bagiannya, sedang terbakar.

      Di Jakarta, gambaran itu berbeda. Ekspor Indonesia pada 2022 mencapai $291 miliar — tertinggi sepanjang sejarah menurut data BPS dan dikonfirmasi Trendeconomy. Batu bara, yang menjadi 16 persen dari total ekspor di tahun itu, melonjak nilainya karena Eropa panik mencari alternatif gas Rusia; harga acuan batu bara Indonesia atau HBA sempat menembus $400 per ton — lebih dari empat kali lipat level sebelum pandemi. Minyak sawit, yang memasok lebih dari separuh kebutuhan minyak nabati global, naik signifikan nilainya karena minyak bunga matahari Ukraina tidak bisa keluar dari pelabuhan Odessa yang terkepung.

      Yang tidak kalah penting: inflasi Indonesia pada 2022, meski ikut naik ke sekitar 5,51 persen (BPS), tetap jauh di bawah rata-rata dunia yakni 7,93 persen. Subsidi energi yang dipertahankan negara menjadi penyangga daya beli yang nyata. World Bank dalam Indonesia Economic Prospects Juni 2022 menyebutnya secara eksplisit: sebagai net commodity exporter, Indonesia mendapatkan positive terms-of-trade effect dari konflik tersebut — baik melalui surplus perdagangan yang menguat maupun penerimaan fiskal yang meningkat.

      Indonesia tidak hanya tahan terhadap guncangan perang Rusia-Ukraina. Ia adalah salah satu dari sedikit negara berkembang yang keluar dari 2022 dengan posisi neraca perdagangan lebih kuat dari ketika konflik dimulai.

      3. Perang Iran 2026: Low Exposure, Strong Buffer

      Paska meletusnya perang pada 28 Februari 2026, harga minyak Brent melonjak 27 persen dalam dua pekan pertama, menyentuh $91,8 per barel. Jepang dan Korea Selatan, yang mengimpor lebih dari 80 persen minyaknya dari kawasan Teluk, menghadapi krisis pasokan yang nyata. Krisis energi pun mulai terasa di sejumlah negara tetangga seperti Filipina dan Vietnam.

      Menariknya, The Economist belakangan ini justru menerbitkan analisis yang menempatkan Indonesia dalam kategori yang berbeda dari negara-negara tetangganya: low exposure, strong buffer. Konsumsi domestik menopang perekonomian secara keseluruhan. Sementara, program seperti biodiesel B40 yang sudah berjalan menjadikan kebutuhan energi domestik sebagian ditopang dari dalam negeri sendiri.

      Tekanan untuk Indonesia memang ada, tapi dibandingkan dampak yang dialami negara-negara bergantung penuh pada Hormuz, guncangan yang dirasakan Indonesia jauh lebih teredam. Bahkan, Indonesia diprediksi akan bisa memanfaatkan kondisi ekonomi saat ini karena ada potensi keuntungan sejumlah komoditas andalannya.

      Kini, batu bara dunia naik lebih dari 23 persen sejak konflik memanas, sementara CPO menguat 14,6 persen. Keduanya bergerak ke arah yang sama karena alasan yang sama: dunia sedang berebut sumber energi alternatif untuk menggantikan minyak bumi yang tertahan di balik penutupan Hormuz.

      Di sinilah posisi Indonesia menjadi tidak biasa. Sebagai salah satu produsen utama dari komoditas-komoditas yang kini paling dicari dunia, lonjakan permintaan itu berpotensi menciptakan efek windfall yang bisa menambal beban subsidi BBM — tanpa perlu memindahkan tekanan ke kantong konsumen. Krisis di luar, dengan kata lain, sedang menyediakan pendanaan untuk menjaga ketenangan di dalam.

      Mengapa Bisa Terus Survive?

      Ada tiga lapisan yang bekerja secara bersamaan dan saling memperkuat. Pertama, geografi. Barry Buzan dalam teori Regional Security Complex-nya menjelaskan bahwa ancaman geopolitik bergerak dalam klaster regional — dan Indonesia berada di luar klaster Timur Tengah, Eropa Timur, maupun konflik-konflik besar yang mengguncang tiga dekade terakhir. Selain itu, 17.500 pulau adalah distributed risk architecture: tidak ada single point of failure yang jika terganggu akan melumpuhkan seluruh sistem.

      Kedua, portofolio komoditas yang berkorelasi negatif dengan krisis. Setiap guncangan besar pada energi dan pangan global secara struktural meningkatkan permintaan terhadap apa yang Indonesia ekspor: sawit ketika minyak nabati langka, batu bara ketika pasokan gas terganggu, beras ketika rantai pasok gandum terputus. Hirschman menyebut ini supply leverage — kekuatan yang lahir bukan dari ukuran militer atau ekonomi, melainkan dari posisi sebagai pemasok komoditas yang tidak bisa dengan mudah digantikan dalam jangka pendek. Indonesia memiliki leverage itu untuk setidaknya tiga komoditas sekaligus, dan ketiga konflik besar dalam tulisan ini mengguncang sektor yang sama persis: energi dan pangan — dua sektor di mana Indonesia berdiri sebagai penjual, bukan pembeli.

      Ketiga, kelimpahan sumber daya alam yang menjadi jangkar kemandirian. Indonesia adalah salah satu negara dengan cadangan sumber daya alam terlengkap di dunia — minyak bumi, gas, batu bara, nikel, tembaga, hingga lahan pertanian yang luas. Kelimpahan ini bukan sekadar kekayaan di atas kertas. Ia adalah infrastruktur ketahanan yang bekerja diam-diam: ketika jalur impor energi global terganggu, Indonesia tidak perlu panik mencari pasokan dari luar karena sebagian besar kebutuhan dasarnya bisa dipenuhi dari dalam.

      Ketika Hormuz tertutup dan harga LNG meledak, Indonesia berpaling ke batu bara domestiknya sendiri untuk menjaga listrik tetap menyala. Ketika minyak nabati global langka, sawit dari Kalimantan dan Sumatra menjadi solusi yang sudah ada sebelum krisis dimulai. Inilah perbedaan mendasar antara negara yang bergantung pada rantai pasok global — dan negara yang, ketika terpaksa, bisa menutup pintunya dan tetap berfungsi.

      Ketiga lapisan ini bukan bekerja secara terpisah. Mereka bekerja sebagai sistem: geografi menjauhkan Indonesia dari guncangan langsung, komoditas membuat Indonesia diuntungkan dari guncangan itu, dan kekayaan sumber daya alam memastikan bahwa bahkan dalam skenario terburuk sekalipun, Indonesia memiliki ruang untuk bernapas dari dalam. Itulah mengapa pola ini berulang — bukan karena keberuntungan yang datang tiga kali, tapi karena kondisi strukturalnya memang demikian.

      image

      Pelajaran dari Phoenicia

      Sekitar 1200 SM, hampir seluruh peradaban besar di Mediterania Timur runtuh secara bersamaan dalam apa yang oleh sejarawan disebut Bronze Age Collapse. Kekaisaran Hittite lenyap. Kerajaan Mycenaean di Yunani kolaps. Kota-kota besar ditinggalkan. Sektor yang paling terdampak adalah yang sama seperti dalam konflik-konflik modern: pasokan bahan baku strategis dan jalur perdagangan.

      Di tengah kehancuran massal itu, satu entitas tidak hanya selamat — tapi tumbuh: Phoenicia. Jaringan kota pelabuhan di pantai Levant itu tidak punya kerajaan besar untuk dipertahankan. Yang mereka miliki adalah kapal, pedagang, dan komoditas yang tidak bisa didapat dari tempat lain: kayu cedar untuk membangun armada, pewarna ungu yang teknik produksinya mereka monopoli. Fernand Braudel dalam The Mediterranean (1949) menyebut peradaban seperti ini sebagai civilisations de l’eau — yang identitasnya bukan pada tanah yang dikuasai, tapi pada jalur yang dikendalikan dan komoditas yang diperdagangkan.

      Paralel dengan Indonesia bukan sekadar analogi puitis. Keduanya adalah entitas terdistribusi tanpa single point of failure. Keduanya berada di luar klaster konflik langsung — Phoenicia tidak ikut berperang antara Mesir dan Assyria, persis seperti Indonesia tidak berada dalam klaster konflik Hormuz. Dan keduanya mengontrol komoditas esensial yang nilainya melonjak justru saat dunia kacau.

      Namun di sinilah paralel itu berhenti — dan perbedaannya justru yang paling penting untuk dipahami. Phoenicia tidak memiliki lapisan ketiga. Ia bergantung hampir sepenuhnya pada jalur perdagangan eksternal; tidak ada sumber daya domestik yang cukup untuk menopangnya dari dalam ketika jalur itu terganggu. Maka ketika teknologi kapal berkembang dan kayu cedar tidak lagi dibutuhkan armada dunia, Phoenicia tidak punya tempat untuk bersandar. Supply leverage-nya hilang, dan bersamanya, alasan bagi dunia untuk membutuhkannya.

      Indonesia, setidaknya untuk saat ini, memiliki ketiganya sekaligus. Posisi geografisnya menjauhkannya dari guncangan langsung. Komoditasnya bernilai justru saat dunia sedang krisis. Dan inilah yang tidak dimiliki Phoenicia — kekayaan sumber daya alamnya membuatnya bisa bernapas dari dalam bahkan ketika dunia di luar sedang tidak bisa bernapas. Ketika Hormuz tertutup, Indonesia tidak perlu panik mencari pasokan energi pengganti dari negara lain. Ia cukup menoleh ke cadangan batu bara dan sawit yang ada di tanahnya sendiri.

      Tapi warisan Phoenician menyimpan peringatan yang tidak boleh diabaikan. Ketika transisi energi selesai dan ketergantungan global pada fosil berakhir, permintaan batu bara akan kolaps. Ketika teknologi baterai menemukan substitusi yang lebih efisien, leverage nikel berkurang. Ketika diversifikasi energi global sudah tidak lagi membutuhkan CPO sebagai substitusi darurat, sawit kehilangan dimensi strategisnya. Dengan kata lain: ketiga lapisan itu bukan permanen. Masing-masing bisa mengikis — dan jika mengikis satu per satu, Indonesia bisa berakhir seperti Phoenicia: hanya tersisa satu lapisan, dan harus berharap lapisan itu tidak pernah kehilangan nilainya.

      Ada perbedaan mendasar antara negara yang survive karena beruntung, dan negara yang survive karena memahami mengapa ia beruntung — lalu secara aktif menjaga kondisi yang menciptakan keberuntungan itu. Phoenicia tidak pernah mencapai kesadaran itu.

      Indonesia, di 2026, masih punya waktu untuk memilih jalan yang lebih baik dari Phoenicia: merawat ketiga lapisnya, memperbarui supply leverage sebelum yang lama kehilangan nilai, dan memastikan bahwa kelimpahan sumber daya alam bukan hanya warisan yang dinikmati — tapi fondasi yang terus dibangun.

      Tiga konflik sudah membuktikan bahwa polanya ada. Pertanyaannya sekarang bukan apakah Indonesia bisa survive — melainkan apakah Indonesia cukup sadar untuk memastikan seluruh kekayaannya bisa termanfaatkan secara maksimal dan bertanggung jawab. (D74)

      0
      joy
      Joy
      0
      cong_
      Cong.
      0
      loved
      Loved
      0
      surprised
      Surprised
      0
      unliked
      Unliked
      0
      mad
      Mad
      3 Konflik, 1 Pola?

      Your email address will not be published. Required fields are marked *

      Login

      To enjoy Astaga! privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

      Follow Us