Menyoal “Perang Suci” Konflik Iran

menyoal-“perang-suci”-konflik-iran
Menyoal “Perang Suci” Konflik Iran
Share

Share This Post

or copy the link

Dengarkan artikel ini.

Audio ini dibuat dengan teknologi AI.

Ketika perang tak lagi sekadar strategi, melainkan dibungkus sebagai mandat suci, yang dipertaruhkan bukan hanya kemenangan—tapi juga kemampuan manusia untuk meredam eskalasi konflik.


PinterPolitik.com

Sebelum jet tempur lepas landas dari pangkalan di Teluk, ada sesuatu yang terjadi di ruang briefing yang lebih menggelisahkan dari suara mesin turbofan: seorang komandan menyampaikan kepada prajuritnya bahwa serangan yang akan mereka lakukan adalah bagian dari rencana ilahi Tuhan. Ia mengutip kitab suci. Ia menyebut pemimpin mereka sebagai sosok yang diurapi untuk menyalakan api Armageddon di atas medan tempur.

Dalam laporan lain, lebih dari 110 pengaduan masuk ke dalam laporan Military Religious Freedom Foundation dari prajurit yang bertugas di Timur Tengah pada awal 2026, sementara sejumlah pejabat pertahanan senior dituduh memakai bahasa kitab suci dalam forum resmi untuk membingkai konflik sebagai tugas yang bernuansa ilahi. Di sisi lain, dari Teheran, narasi syahadah dan mesianisme juga terus mengalir, seolah legitimasi transenden adalah bahan bakar terakhir yang menjaga perang tetap menyala.

Inilah yang membuat konflik Iran tidak bisa dibaca semata sebagai benturan kepentingan strategis. Ada lapisan lain yang bekerja lebih dalam: lapisan makna. Ketika bahasa religius dipakai oleh para aktor politik dan militer untuk menjelaskan, membenarkan, dan menggerakkan perang, yang berubah bukan hanya cara bicara mereka. Yang berubah adalah cara perang itu dipahami oleh publik, prajurit, dan lawan. Perang tidak lagi sekadar urusan wilayah, keamanan, atau deterrence. Ia naik kelas menjadi pertarungan yang dianggap menyangkut kebenaran moral tertinggi.

Masalahnya bukan pada keyakinan itu sendiri. Masalahnya muncul ketika keyakinan dipakai sebagai alat mobilisasi tanpa dibarengi pembatasan etis. Di titik itu, doktrin yang semestinya membimbing bisa berubah menjadi akselerator. Dan ketika itu terjadi, perang menjadi jauh lebih sulit dihentikan, sebab mundur tidak lagi dianggap sekadar perubahan strategi, melainkan penurunan martabat atau bahkan pengkhianatan terhadap sesuatu yang diyakini suci.

image

Bellum Iustum, Pola yang Selalu Diulang

Fenomena ini sesungguhnya sangat tua. Dalam sejarah manusia, perang hampir selalu membutuhkan legitimasi yang melampaui kalkulasi militer. Dari Sparta di Thermopylae, Perang Reconquista, hingga konflik Timur Tengah modern, para pejuang jarang bergerak hanya karena perintah. Mereka bergerak karena diyakinkan bahwa pengorbanan mereka memiliki makna lebih besar. Di dunia kuno, prajurit Sparta tidak hanya bertempur sebagai alat negara, tetapi sebagai bagian dari tatanan kehormatan yang dihubungkan dengan kekuatan-kekuatan ilahi, termasuk Ares sebagai simbol perang dan keberanian. Yang diwariskan dari era itu bukan sekadar keberaniannya, tetapi pola pikirnya: perang terasa lebih bisa dijalankan bila ia diletakkan dalam bingkai yang sakral.

Pola tersebut bertahan ribuan tahun. Dalam berbagai peradaban, bahasa religius atau semi-religius selalu menjadi kendaraan untuk memberi bobot moral pada kekerasan. Dalam tradisi bellum iustum (perang yang benar), misalnya, perang tidak pernah dipahami sebagai kebebasan tanpa batas untuk menghancurkan lawan. Justru sebaliknya, perang hanya sah jika memenuhi syarat tertentu: sebab yang adil, niat yang benar, otoritas yang legitimate, dan pembatasan proporsional. Ini penting, karena menunjukkan bahwa nilai moral pada awalnya berfungsi sebagai rem, bukan gas.

Namun dalam konflik Iran, dan dalam banyak perang modern lain, yang sering terjadi justru kebalikan dari itu. Nilai moral tidak lagi dipakai untuk membatasi perang, melainkan untuk memperluasnya. Ketika para pemimpin berbicara seolah-olah mereka mewakili mandat yang lebih tinggi, perang berubah dari keputusan politik menjadi misi. Dan jika perang sudah menjadi misi, ia tidak mudah dipertanyakan. Dalam bentuk paling ekstrem, lawan tidak lagi dilihat sebagai pihak dengan kepentingan berbeda, tetapi sebagai ancaman terhadap tatanan kosmis yang harus dilawan sampai akhir.

Di sini kita bisa melihat mengapa narasi religius sangat efektif. Ia memberi tiga keuntungan sekaligus. Pertama, ia memperkuat kohesi internal. Prajurit, pendukung, dan publik menjadi lebih mudah digerakkan jika mereka merasa sedang membela sesuatu yang suci. Kedua, ia menurunkan biaya psikologis perang. Kekerasan menjadi terasa lebih dapat diterima jika dibingkai sebagai kewajiban moral. Ketiga, ia menyempitkan ruang kompromi. Begitu perang dipahami sebagai pertarungan antara benar dan salah yang final, negosiasi menjadi tampak seperti kelemahan, bukan kebijaksanaan.

Inilah yang oleh Mark Juergensmeyer disebut sebagai cosmic war: perang yang tidak lagi dibaca sebagai konflik biasa, melainkan sebagai pertarungan kosmis antara kebaikan dan kejahatan. Dalam situasi seperti ini, bahasa damai sering kalah oleh bahasa kemenangan. Gencatan senjata bukan sekadar jeda taktis, tetapi pertanyaan moral. Konsesi bukan lagi hasil diplomasi, tetapi risiko kehilangan legitimasi. Dan ketika bahasa seperti ini dipakai oleh negara-bangsa yang memiliki armada perang, program nuklir, dan mesin propaganda modern, dampaknya menjadi sangat besar.

Jose Casanova membantu menjelaskan mengapa semua ini justru makin terlihat di era modern. Modernisasi tidak otomatis menghapus agama dari ruang publik. Yang terjadi sering kali bukan penghilangan, melainkan pergeseran fungsi. Agama tidak selalu mundur; ia bisa kembali dalam bentuk yang lebih politis, lebih simbolik, dan lebih strategis. Dalam konflik modern, simbol-simbol religius kerap diambil alih oleh elite untuk mengisi kekosongan legitimasi. Saat bahasa teknokratis terasa dingin dan bahasa nasionalis terasa biasa, bahasa sakral memberikan resonansi yang jauh lebih dalam.

Tetapi di balik efektivitas itu, ada bahaya yang serius. Semakin tinggi klaim legitimasi, semakin mahal biaya mundur. Seorang pemimpin yang telah membingkai perang sebagai bagian dari mandat ilahi akan kesulitan menjelaskan mengapa ia harus berhenti. Seorang komandan yang telah mengaitkan operasi militer dengan kehendak Tuhan akan menghadapi tekanan untuk terus maju, bahkan ketika situasi strategis berubah. Di sinilah perang menjadi berbahaya bukan hanya karena senjatanya, tetapi karena narasinya.

Karena itu, yang perlu dikritik bukanlah iman, melainkan para pengguna doktrin religius yang menjadikannya alat eskalasi. Dalam banyak tradisi, nilai-nilai religius justru menekankan pengendalian diri, perlindungan terhadap yang lemah, dan pembatasan kekerasan. Yang menimbulkan masalah adalah ketika nilai-nilai itu dipakai secara selektif: diambil simbolnya, dilepaskan dari rem etiknya, lalu diarahkan untuk membenarkan kekerasan yang sudah diputuskan sebelumnya. Pada titik itu, yang bekerja bukan lagi kedalaman spiritual, melainkan instrumentalisasi bahasa suci.

image

Seharusnya Pagar Pembatas, Bukan Bahan Bakar

Konflik Iran memperlihatkan satu kenyataan yang keras namun penting: perang selalu bertarung di dua medan sekaligus, yakni medan senjata dan medan makna. Siapa pun yang ingin memahami konflik ini hanya lewat pergerakan pasukan akan kehilangan setengah gambarnya. Sebaliknya, siapa pun yang hanya membaca simbol religius tanpa melihat aktor dan kepentingannya juga akan kehilangan konteks. Yang membuat konflik ini sulit diselesaikan adalah justru pertemuan keduanya: kekuatan militer modern yang dipadukan dengan narasi yang menuntut kepatuhan moral total.

Karena itu, refleksi yang paling berguna bukanlah menolak dimensi religius dalam sejarah perang, sebab sejarah menunjukkan bahwa ia selalu ada. Refleksi yang lebih berguna adalah memahami bagaimana dan oleh siapa ia dipakai. Jika nilai religius dijadikan pagar, ia bisa menahan perang agar tidak melampaui batas. Tetapi jika ia dijadikan bahan bakar, ia bisa mengubah konflik politik menjadi perang yang terasa mutlak, tak bisa dinegosiasikan, sulit diakhiri, dan bisa menciptakan polarisasi masif di dalam negara sendiri yang justru menyakiti pemimpin yang mengeksploitasi narasi kemaknaan tersebut.

Sejarah panjang dari Thermopylae hingga Timur Tengah hari ini menunjukkan bahwa manusia berulang kali melakukan hal yang sama: mencari bahasa yang lebih tinggi untuk membenarkan kekerasan yang sangat duniawi. Itulah sebabnya kita perlu waspada pada saat perang mulai disebut suci. Bukan karena kesucian itu sendiri berbahaya, melainkan karena label itu bisa menutup ruang tanya.

Sebagaimana Hannah Arendt pernah mengingatkan, “Violence can destroy power, but it is utterly incapable of creating it.” Kekerasan bisa menghancurkan, tetapi ia tidak mampu membangun legitimasi yang tahan lama. Dalam konteks konflik Iran, kalimat itu memberi kejernihan sederhana: jika perang terus digerakkan oleh klaim kebenaran yang tak boleh dipersoalkan, yang lahir bukanlah kedamaian, melainkan lingkaran eskalasi yang makin sulit dihentikan. (D74)

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Menyoal “Perang Suci” Konflik Iran

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy Astaga! privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us