tirto.id – Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, mengaku dalam pertemuan di Washington D.C. Amerika Serikat (AS), S&P Global menyoroti potensi pelebaran defisit dan peningkatan rasio pembayaran bunga utang pemerintah karena disrupsi pasokan energi akibat penutupan Selat Hormuz.
Meski begitu, ia meyakinkan lembaga pemeringkat tersebut bahwa Indonesia berkomitmen untuk terus menjaga batas defisit anggaran di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Mereka menanyakan cukup detail kondisi fiskal kita (RI), termasuk defisit tahun ini dan tahun lalu dan utamanya mereka ingin melihat apakah kita konsisten untuk menjaga defisit kita di bawah 3 persen dari PDB. Jadi, kita bilang, kita konsisten dengan kebijakan itu. Presiden kita telah memberikan arahan bahwa defisit kita harus dijaga di bawah 3 persen, dari PDB,” tegas Purbaya, dalam keterangan video dari AS, dikutip Kamis (16/4/2026).
Purbaya juga meyakinkan bahwa pemerintah akan mengendalikan rasio utang, sehingga tidak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Purbaya memastikan defisit anggaran dan rasio utang dapat dijaga dengan peningkatan penerimaan pajak pada awal tahun ini.
Dia memaparkan hingga akhir Maret 2026, penerimaan pajak tercatat naik 20,7 persen. Dalam tiga bulan pertama 2026 tersebut, negara berhasil mengumpulkan penerimaan pajak sebesar Rp394,8 triliun atau 16,7 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN 2026 sebesar Rp2.357,7 triliun.
“Kita (pemerintah) yakinkan ke mereka bahwa itu (rasio utang pemerintah) bisa dikendalikan ke depan dan belum berada pada level yang berbahaya sekali,” ucap Purbaya.
Purbaya akan berupaya menggenjot pendapatan negara, agar risiko peningkatan rasio pembayaran bunga utang tidak terjadi pada masa yang akan datang,
“Kita (pemerintah) akan perbaiki ke depan, sesuai dengan kondisi perbaikan pengumpulan pajak dan pengumpulan cukai. Karena kita sudah restrukturasi itu organisasi pajak dan cukai supaya performanya lebih baik,” tambahnya.
Namun, di balik sorotan yang diberikan terhadap defisit dan rasio pembayaran bunga utang pemerintah, S&P Global memberikan outlook peringkat BBB pada kategori investment grade atau layak investasi terhadap Indonesia.
“Dan berita yang amat menyenangkan untuk saya adalah S&P bilang mereka memberikan konfirmasi bahwa rating kita tetap BBB dengan outlook yang tetap stabil,” tutup Purbaya.
tirto.id – Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama