Jurnalis Tewas saat Israel Serang Lebanon, Tim Penolong Dihambat

jurnalis-tewas-saat-israel-serang-lebanon,-tim-penolong-dihambat
Jurnalis Tewas saat Israel Serang Lebanon, Tim Penolong Dihambat
Share

Share This Post

or copy the link

tirto.id – Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyebut bahwa Israel telah membunuh seorang jurnalis dan menghambat tim medis dalam serangan pada Rabu (22/4/2026). Nawaf menuduh negara Zionis itu telah melakukan kejahatan perang melalui serangan udara itu.

Dinukil dari BBC, jurnalis surat kabar Al-Akhbar, Amal Khalil (43 tahun), terbunuh dalam serangan Israel di Kota al-Tayri, Lebanon selatan pada Rabu. Serangan ini juga melukai rekan almarhum, seorang jurnalis foto bernama Zeinab Faraj.

Menurut kronologi yang dirilis Kementerian Kesehatan Lebanon, kedua jurnalis itu semula sedang melintas sebuah jalan dengan mobil. Setelah itu, militer Israel menyerang sebuah mobil di depan kendaraan Khalil dan Faraj dengan serangan udara.

Pejabat Lebanon menyebut dua orang penumpang mobil yang diserang terbunuh seketika. Sementara itu, Khalil dan Faraj sempat selamat dari ledakan.

Kedua jurnalis itu kemudian mencari pertolongan ke rumah dekat lokasi serangan. Namun, pasukan Zionis kembali menyerang keduanya hingga membuat Khalil tewas.

Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan militer Israel “mengejar” Khalil dan Faraj, “yang telah berlindung dari serangan pertama di sebuah rumah terdekat, dan menargetkan rumah tempat mereka berlindung”.

Ambulans Palang Merah Lebanon lalu datang dan berupaya untuk mengevakuasi para korban luka. Namun, tentara Israel mengarahkan granat kejut dan tembakan ke arah tim medis serta mencegah ambulans mencapai para korban, kata pernyataan resmi kementerian.

“Ini merupakan pelanggaran ganda yang terang-terangan: menghalangi upaya penyelamatan seorang warga negara yang dikenal karena aktivisme media sipilnya, dan menargetkan ambulans yang jelas-jelas bertanda lambang Palang Merah,” kata Kementerian Kesehatan Lebanon.

Tuduhan kejahatan perang juga diajukan Perdana Menteri Lebanon kepada Israel atas peristiwa itu.

“Menargetkan jurnalis, menghalangi akses tim bantuan kepada mereka, dan bahkan menargetkan lokasi mereka lagi setelah tim-tim ini tiba merupakan kejahatan perang yang telah dijelaskan,” tulis keterangan Nawaf Salam di akun X pribadinya.

Peristiwa itu juga dikecam Clayton Weimer, direktur eksekutif Reporters Without Borders. Weimer menyebut bahwa palang merah dan para jurnalis telah meminta izin pada militer Israel untuk meloloskan ambulans ke lokasi Khalil. Weimer menyebut pesan itu telah sampai ke tentara Zionis, namun tak diindahkan.

“Palang Merah memberi sinyal bahwa mereka tidak dapat melewati karena pemboman Israel yang sedang berlangsung. Jadi itu adalah pengabaian yang kejam, di samping apa yang tampaknya merupakan pembunuhan yang disengaja dan ditargetkan terhadap seorang jurnalis,” kata Weimer.

Melansir Al Jazeera, Presiden Lebanon Joseph Aoun mengutuk serangan yang membuat Amal Khalil terbunuh itu.

Aoun mengatakan dalam sebuah unggahan di X bahwa Israel telah melakukan “penargetan jurnalis yang disengaja dan konsisten”. Hal itu, kata Aoun, dilakukan negara Zionis itu untuk “menyembunyikan kebenaran tindakan agresifnya terhadap Lebanon”.

Presiden Lebanon itu juga menyerukan intervensi komunitas internasional untuk mengakhiri operasi militer Israel. Menurutnya, kematian Amal Khalil harus menjadi “insentif bagi komunitas internasional untuk campur tangan dan mengakhirinya”.

Israel, di sisi lain, membantah telah menargetkan jurnalis dalam serangan pada Rabu. Mereka berdalih bahwa serangan tersebut menargetkan kendaraan yang “bertolak dari fasilitas militer Hizbullah”.

Meski begitu, Israel mengakui bahwa serangan mereka telah melukai dua jurnalis. Namun, kematian Amal Khalil tak diakui oleh militer satu-satunya negara Zionis di Timur Tengah itu.

Banyak Jurnalis di Lebanon Jadi Korban Serangan Israel

Di Lebanon, banyak jurnalis telah jadi korban serangan Israel. Amal Khalil, yang terbunuh pada Rabu, juga merupakan jurnalis yang sebelumnya telah diancam dibunuh oleh militer negara Zionis itu.

Pada tahun 2024, Khalil mengatakan telah menjadi target “ancaman kematian Israel” dan memperingatkannya untuk meninggalkan Lebanon selatan, menurut laporan media lokal. Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) yang berbasis di AS menyebut bahwa laporan itu sebelumnya telah menimbulkan “kekhawatiran serius tentang penargetan yang disengaja”.

Oleh karenanya, ketika Amal Khalil terbunuh oleh serangan Israel pada Rabu, Direktur Regional CPJ Sara Qudah mengatakan bahwa pihaknya marah atas peristiwa itu.

“Serangan berulang di lokasi yang sama, penargetan area tempat para jurnalis berlindung, dan penghambatan akses medis dan kemanusiaan merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional,” kata Qudah.

Awal April lalu, dua jurnalis lain juga terbunuh dalam serangan Israel terpisah di Lebanon. Kedua jurnalis yang terbunuh itu adalah Ghada Dayekh, seorang presenter stasiun radio swasta Sawt al-Farah, dan Suzan Khalil, reporter dan presenter Al-Manar TV.

Pada Maret, sebulan sebelumnya, tiga jurnalis Lebanon tewas dalam serangan Israel yang ditargetkan di kota Jezzine. Ketiganya adalab Ali Shoeib dari Al Manar TV serta Fatima Ftouni dan Mohamed Ftouni dari saluran Al Mayadeen.

Dalam serangan pada Maret itu, militer Israel mengakui telah membunuh Shoeib dan Ftoini bersaudara. Namun, tentara Zionis itu menyebut ketiganya sebagai teroris.

tirto.id – Flash News

Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Jurnalis Tewas saat Israel Serang Lebanon, Tim Penolong Dihambat

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy Astaga! privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us