tirto.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.286 pada perdagangan hari ini, Kamis (23/4/2026). Rupiah melemah 105 poin atau 0,61 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.181.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor eksternal dan faktor internal.
Faktor eksternal, menurut Ibrahim, berasal dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang hingga kini belum menunjukkan kejelasan, termasuk terkait hasil perundingan di Pakistan. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan sentimen risiko di pasar global.
“Kemudian, di sisi lain pun juga, bahwa Iran menganggap bahwa Amerika melanggar gencatan senjata dengan menangkap kapal tanker Iran yang keluar dari Selat Hormuz,” ucapnya dalam keterangan suara, Kamis.
Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump disebut mengambil langkah gencatan senjata secara sepihak tanpa batas waktu. Situasi ini dipandang berpotensi memperbesar ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk risiko konflik di kawasan strategis seperti Selat Hormuz dan Laut Oman.
Selain itu, dinamika kebijakan moneter di Amerika Serikat turut menjadi perhatian. Pergantian kepemimpinan di bank sentral AS dari The Fed kepada Kevin Warsh dinilai membawa ketidakpastian baru bagi pasar keuangan global.
“Nah, kepemimpinan Kevin Warsh ini sedang diuji sebenarnya pada saat nanti memimpin Bank Sentral Amerika di bulan Mei. Apakah Kevin Warsh akan mengikuti langkah-langkah yang diinginkan oleh pemerintah, Trump, atau tidak,” tuturnya.
Sementara itu, dari sisi domestik, kenaikan harga minyak mentah dunia turut memberi tekanan terhadap rupiah. Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak dalam jumlah besar, sekitar 1,5 juta barel per hari, membutuhkan pasokan dolar AS yang tinggi untuk pembiayaan impor tersebut.
Kondisi ini, kata Ibrahim, meningkatkan permintaan terhadap dolar AS dan pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, tingginya harga minyak juga berdampak pada beban anggaran pemerintah, khususnya untuk subsidi energi.
“Terutama adalah untuk subsidi, ya ini membuat apa? Membuat pemerintah ini kekurangan anggaran. Kita tahu bahwa saat ini pemerintah sedang kembali mencari dana melalui surat utang negara yang begitu besar. Di sisi lain, utang jatuh tempo ini juga sudah akan berakhir,” urai Ibrahim.
Meski demikian, Ibrahim menilai Bank Indonesia terus melakukan langkah intervensi baik di pasar domestik maupun internasional untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
“Bahwa intervensi Bank Indonesia cukup mumpuni ya, membuat rupiah kembali di bawah Rp17.300,” tuturnya.
tirto.id – Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana