tirto.id – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mendorong keterlibatan pihak swasta dalam mega proyek pembangunan dan reaktivasi 14.000 kilometer jalur kereta api hingga 2045. Proyek ambisius ini diperkirakan membutuhkan anggaran fantastis mencapai Rp1.200 triliun dan tidak bisa hanya mengandalkan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Dengan berasumsi bahwa tentunya bukan hanya dibebankan pada APBN, tapi juga APBN dan APBD karena pemerintah daerah juga harus terlibat langsung. Tapi juga dengan skema-skema kerjasama antara pemerintah dan swasta,” ujar dia, dikutip akun YouTube Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Kamis (23/4/2026).
Partisipasi swasta ini dapat dilakukan melalui skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) atau public-private partnership (PPP).
“Termasuk juga investasi dari luar. Dan kita harapkan ada sumber-sumber keuangan kreatif lainnya yang bisa dikembangkan, bukan hanya untuk membangun prasarana, tapi juga mengembangkan industri dalam negeri,” tambah AHY, sapaan Agus.
Berdasarkan hitungan Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Odo R. M. Manuhutu, dana yang dibutuhkan untuk membangun dan mereaktivasi 14.000 kilometer jalur kereta api mencapai Rp1.100-1.200 triliun hingga 2045. Dus, dalam sekitar 20 tahun masa pembangunan, dibutuhkan dana setidaknya Rp60-65 triliun per tahun.
“Saya ulangi, dibagi 20, ya. Rp1.200 triliun dibagi 20 tahunan, ya. Dengan demikian, maka kita harus harus menghitung apakah itu dari APBN atau sumber pembiayaan yang non-APBN. Creative financing ini juga harus kita hitung dengan baik,” jelas dia.
Sementara itu, pembangunan dan reaktivasi jalur kereta api ini merupakan amanat Presiden Prabowo Subianto. Dengan jalur kereta api aktif paling banyak masih berada di Pulau Jawa, pembangunan nantinya akan lebih diprioritaskan untuk daerah-daerah di luar Pulau Jawa, termasuk proyek Trans Sumatera Railway, Trans Kalimantan Railway dan juga Trans Sulawesi Railway.
“Ini adalah sebuah spirit yang harusnya kita jadikan, referensi karena beliau memahami bahwa sampai dengan hari ini terjadi ketimpangan antara biaya transportasi atau logistik, khususnya dan pada akhirnya berpengaruh pada produktivitas dan daya saing ekonomi antarwilayah,” tegas AHY.
tirto.id – Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah