Mati Rasa Budaya Fadli Zon

mati-rasa-budaya-fadli-zon
Mati Rasa Budaya Fadli Zon
Share

Share This Post

or copy the link

Dengarkan artikel ini:

Audio dibuat menggunakan AI.

Di era Fadli Zon sebagai Menteri Kebudayaan, viralitas budaya Indonesia justru memuncak. Namun, mengapa negara terasa kehilangan rasa?


PinterPolitik.com

“Kita punya budaya sebesar samudra, tapi pemerintah masih sibuk mengelola akuarium.”

Cupin duduk di warung kopi dekat terminal, membuka TikTok sambil menyeruput kopi sachet yang ia seduh terlalu manis. “Bro, ini cheerleader Korea joget jedag-jedug Prengky Gantay, dahsyat banget!” katanya sambil menunjukkan layar ponselnya. 

Di video itu, Lee Ju Eun, cheerleader tim baseball KIA Tigers, menari dengan remix buatan DJ Indonesia, dan komentar berbahasa Indonesia membanjiri kolom komentar. Cupin terkekeh, “Bayangin, musik dari kamar anak Medan bisa sampai Seoul tanpa visa.”

Fenomena semacam itu bukan kebetulan. Akhir 2024 hingga awal 2025 menjadi periode di mana Indonesia seolah memproduksi viralitas seperti pabrik. 

Genre jedag-jedug, gabungan antara dangdut, EDM, dan keberanian audio lokal, mengalir dari kota kecil hingga jadi soundtrack video dance internasional. Tidak ada kampanye, tidak ada strategi diplomasi budaya. Hanya energi spontan dan algoritma yang menari bersama.

Cupin teringat saat nonton upacara HUT RI ke-80 di televisi. “Bro, Presiden Prabowo aja joget Tabola Bale!” katanya takjub. Lagu itu, gabungan bahasa Indonesia Timur dan Minang, mengubah suasana istana jadi festival rakyat. 

Dalam hitungan hari, video tarian itu muncul di akun TikTok milik remaja Eropa, Timur Tengah, hingga Amerika Latin. “Dunia nonton Indonesia bukan karena politik, tapi karena vibe,” gumam Cupin. Lagu-lagu seperti “Pica-Pica” dan “Ngapain Repot” menegaskan bahwa budaya Indonesia Timur bukan lagi pinggiran, tapi pusat gravitasi baru budaya digital.

Namun, viralitas paling unik datang dari Kuantan Singingi, Riau. Di sana, anak-anak berdiri di ujung perahu panjang dalam tradisi Pacu Jalur, menari sambil menjaga keseimbangan di atas perahu yang melesat kencang. 

“Aura farming!” seru Cupin sambil meniru gerakan tangan bocah-bocah itu. Dunia pun ikut terpesona. Klub sepak bola Eropa seperti PSG dan AC Milan menirukan gaya itu dalam unggahan promosi mereka. Pacu Jalur, tradisi abad ke-17, tiba-tiba menjadi bahasa global tanpa perlu diterjemahkan.

Dalam sekejap, Indonesia jadi pusat kreativitas dunia maya. Namun, Cupin mulai mengernyit. “Kenapa semua viral gitu aja, bro? Besok lupa lagi.” Ia sadar, viralitas digital punya napas pendek. Ia menghibur, tapi jarang meninggalkan jejak struktural. 

Semua terjadi organik, tanpa desain besar dan tanpa institusi yang memastikan momentum itu jadi kekuatan berkelanjutan. Indonesia punya ledakan budaya, tapi belum punya mesin untuk mengarahkan ledakan itu.

“Bayangin kalau semua ini disusun rapi,” kata Cupin. “Kalau pemerintah bantu, bikin jembatan antara viralitas dan diplomasi budaya.” Tapi sampai kini, belum ada tanda-tanda itu. Indonesia kaya konten, miskin strategi. Dan Cupin mulai curiga, mungkin masalahnya bukan di rakyat yang kreatif, tapi di pejabat yang mati rasa.

Indonesia = TikTok Superpower?

Cupin bukan akademisi, tapi ia tahu fakta sederhana: Indonesia hidup di TikTok. Ia menatap layar dan berkata, “Kita bukan cuma pengguna, kita superpower.” 

Data membenarkannya. Indonesia punya pengguna TikTok terbesar kedua di dunia dengan rata-rata waktu penggunaan hampir tiga jam sehari. Lebih dari separuh penggunanya bukan sekadar penonton, mereka kreator aktif yang memproduksi, mengedit, dan menyebar tren. Dunia digital Indonesia adalah rimba kreatif yang tidak bisa dibendung.

Riset dari jurnal Frontiers in Communication mengurai fenomena ini dengan detail akademik. Para peneliti menelusuri bagaimana musik dari Maluku dan Papua mendapat visibilitas baru lewat TikTok. 

Mereka menyebutnya sebagai panggung negosiasi identitas, tempat anak muda dari Timur mengubah bahasa lokal menjadi ekspresi digital yang modern. Cupin membaca kutipan riset itu di Twitter dan manggut-manggut. 

“Jadi bukan cuma joget, ini bentuk perlawanan kultural.” Musik seperti “Aku Papua” atau “Nyong Timur” menjadi cara anak muda menegaskan eksistensi mereka di ruang digital nasional. 

Dulu, suara budaya dari Timur sering tenggelam oleh dominasi Jawa dan Jakarta. Kini, algoritma TikTok membalikkan keadaan. Siapa pun dengan smartphone bisa jadi produser budaya, dan audiensnya bisa menembus batas-batas geografis. “Ternyata keadilan sosial bisa datang dari For You Page (FYP),” kelakar Cupin.

Namun, di balik euforia itu, ada paradoks. Viralitas Indonesia tidak pernah berujung pada institusionalisasi. 

“Kita bisa bikin dunia joget, tapi nggak bikin dunia paham,” kata Cupin, sedikit sinis. Tren datang dan pergi: hari ini jedag-jedug, besok aura farming, lusa entah apa. 

Tidak ada lembaga, tidak ada narasi besar yang menjaga kesinambungan. Akibatnya, viralitas menjadi artefak yang menguap begitu algoritma berubah.

Indonesia memang superpower di dunia digital, tapi belum jadi superpower budaya. Dalam teori soft power Joseph Nye, pengaruh bukan soal jumlah tontonan, tapi kemampuan memengaruhi preferensi dan perilaku orang lain. 

Viralitas mungkin memberi panggung, tapi tidak selalu memberi arah. Cupin membayangkan, “Kalau TikTok itu jalan tol budaya, siapa yang jadi pengemudinya? Siapa yang tahu mau ke mana?” Saat ini, Indonesia hanya penumpang di mobil yang melaju kencang tanpa GPS.

Di Mana Fadli Zon?

Suatu sore, Cupin menonton pidato Menteri Kebudayaan Fadli Zon di televisi. Di layar, Fadli berbicara penuh semangat tentang wayang, keris, dan manuskrip kuno. “Kita harus melestarikan warisan leluhur,” katanya. 

Cupin mengangguk, tapi wajahnya datar. “Lestarikan boleh, tapi apa itu cukup buat bikin dunia jatuh cinta?” gumamnya. Ia tahu, soft power bukan hanya soal pelestarian, tapi persuasi. Budaya harus jadi magnet global, bukan sekadar benda pamer. Dalam teori hubungan internasional, soft power membutuhkan strategi jangka panjang, institusi kuat, dan narasi koheren. 

Korea Selatan jadi contoh sempurna. Pemerintahnya membangun industri kreatif dengan dukungan negara, mendirikan Korean Cultural Centers di berbagai belahan dunia, dan memadukan budaya tradisional ke dalam arus K-pop dan K-drama. “Hanbok tampil di drama modern, pansori jadi intro lagu pop. Mereka nggak cuma melestarikan, tapi menghidupkan,” kata Cupin sambil menatap layar laptopnya.

Bandingkan dengan Indonesia. Tidak ada jaringan pusat budaya global, tidak ada konsistensi dalam promosi budaya di luar negeri. Ada upaya sporadis, tapi tidak sistematis. 

British Council pernah meneliti hal ini dan menyimpulkan bahwa negara yang berhasil mengembangkan diplomasi budaya adalah yang menyeimbangkan antara seni, pendidikan, dan inovasi. Indonesia masih bergantung pada viralitas spontan, bukan visi jangka panjang. “Kita unggul di improvisasi, kalah di perencanaan,” ujar Cupin getir.

Fadli Zon sendiri adalah sosok kompleks. Ia kolektor sejati, mencintai high culture sampai ke akar. Koleksi wayangnya lebih dari 8.000 buah, kerisnya puluhan, dan catatan manuskripnya mendunia. 

Ia menulis buku, menggelar diskusi, dan mendorong pengakuan UNESCO untuk warisan budaya Indonesia. “Tapi bro,” kata Cupin, “masa semua tenaga dicurahkan buat wayang dan keris, sementara dunia udah main TikTok?” 

Ia tak menyalahkan cinta Fadli pada tradisi, tapi mempertanyakan kepekaan terhadap perubahan zaman. Saat jedag-jedug mengguncang dunia maya, Fadli justru meluncurkan Hari Budaya Nasional dengan pawai dan ruwatan massal. 

Saat Pacu Jalur viral di Paris, Fadli sibuk dengan konferensi keris antarbangsa. Semua itu penting, tapi terasa seperti nostalgia di tengah revolusi. 

Dalam dunia digital, pelestarian tanpa inovasi adalah cara paling halus untuk mematikan budaya itu sendiri. Cupin menyesap kopi dinginnya dan berbisik, “Mati rasa budaya, bukan karena tak cinta, tapi karena tak mengerti nadanya.”

Korea Selatan tidak pernah meninggalkan hanbok, tapi mereka memakainya di video klip BTS. Jepang tidak pernah meninggalkan kimono, tapi mereka menyelipkannya di anime dan film. Soft power lahir saat tradisi berdialog dengan zaman, bukan saat ia berdiri kaku di museum. 

Cupin membayangkan, bagaimana jika Pacu Jalur diangkat jadi game digital? Bagaimana jika “Tabola Bale” jadi soundtrack film Netflix? Itulah bentuk diplomasi budaya abad ke-21, populer tapi berakar.

Indonesia punya semua bahan: sejarah, musik, bahasa, dan manusia kreatif. Tapi tanpa visi dan koordinasi, semua hanya jadi momen. Viralitas adalah bunga api, indah tapi cepat padam. 

Cupin menatap layar ponselnya lagi, kali ini video bocah Riau menari di atas perahu. Ia tersenyum, tapi juga gelisah. “Kita punya energi luar biasa,” katanya, “tapi negara kayaknya nggak tahu colokannya di mana.”

“Mati rasa budaya” bukan berarti kehilangan cinta pada tradisi, tapi kehilangan kemampuan merasakannya di konteks baru. Fadli Zon mencintai budaya, tapi seolah tak mendengar irama dunia yang berubah cepat. Cupin menatap langit malam dan menulis di caption: “Kita punya budaya sebesar samudra, tapi pemerintah masih sibuk mengelola akuarium.” Dan ia tahu, dalam dunia yang bergerak secepat scroll TikTok, rasa adalah satu-satunya hal yang tak boleh mati. (A43)


0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Mati Rasa Budaya Fadli Zon

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy Astaga! privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us